Selasa, 29 November 2016

UJIAN PEMBAWAAN KARAWITAN


UJIAN PEMBAWAAN KARAWITAN

Nama : Rohmadin
           
            Tepatnya di Teater Kecil ISI Surakarta pada hari Selasa 25 Oktber 2016 dilaksanakan gladi bersih ujian pembawaan yang di ikuti oleh 5 kelompok. setiap kelompok diwajibkan mengusai enam gending, Namun dalam penyajiannya setiap kelompok hanya menyajikan dua gending yang dipilih dengan cara mengambil undian dari dewan juri. Setelah mengetahui materi apa yang akan disajikan penyaji dapat menempati panggung dan menunggu dipersilakan oleh pembawa acara selaku pemimpin jalanya ujian pembawaan.
            Terdapat lima dewan juri yang terdiri dari satu penguji utama, dan empat dewan juri yang masing-masing mengamati instrumen rebab, kendang, gender, dan sindhen. Dewanjuri juga termasuk dosen ISI Surakarta. Yang sudah menekuni ilmu tentang karawitan yang sangat berpengalaman dan berkopeten.
            Suasana dalam panggung begitu tenang, serius dan formal. banyak interaksi antara satu ricikan ke ricikan lainya, dalam kesatuan garap semua ricikan berperan penting. Namun, ada salah satu ricikan yang sangat pernting dan riskan jika ricikan tersebut mengalami permasalah. Ricikan tersebut dapat mempengaruhi ricikan lainnya dan dapat menghambat jalannya sajian. Ricikan tersebut ialah ricikan kendang. Berbalik dari suasana didalam panggung menuju ke audien. Disini bisa dilihat ujian yang seharusnya berjalan dengan konteks formal, akan tetapi para audien masih tidak fokus kepada penyaji ujian. Sesering sekali terdengar locehan audien yang sebernanya tidak perlu dilakukan. Bisa dilihat ketika penyaji selesai melakukan penyajian. Disitu suara-suara bising, locehan, dan tepuk tangan mulai terdengar. Kendati kejadian seperti ini tidak menjadi perhatian oleh panitia penyelenggara, sehingga kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi hal yang biasa yang seharusnya menjadi poin-poin dalam aturan-aturan yang harus dan wajib dipatuhi. Sehingga konteks formal yang diterapkan masih terjaga. Pakaian yang digunakan oleh penyaji dan peserta tidak begitu kompak. Apa kemungkinan kurangnya komunikasi antara penyaji dan pendukung sehingga tidak ada pemberitahuan sebelumnya kepada pendukung yang berkaitan pakain yang akan di gunakan dalam pelaksanakan ujian pembawaan. Kurangnya kesadaran dari pendukung sajian dalam pemilihan penampilan tidak dipertimbangkan. Namun demikan pengalaman seperti ini seharusnya sudah menjadi pembelajaran dan tidak akan terjadi kembali pada ujian pembawaan berikutnya.
            Kemudian bagaimana dengan tata cahaya lampu, pemilihan cahaya, kapan mulai redup dan mulai terang. Karena pernah terjadi ketika penyaji sudah berjalan menyajikan gending. Tata cahaya lampu belum terang masih redup seperti suasana pengambilan undian materi. Tanpa disadari kejadian seperti ini sangat mengambat jalan sajian, karena baik interkasi penyaji maupun pendukung kesulitan dalam membaca notasi gending yang disajikan. Dilihat dari proses latihan yang dikalukan 10 kali tatap muka dalam dua minggu, hasilnyapun sebenarnya sudah bagus dan baik. Namun sangat disayangkan ketika disajikan di Teater Kecil ISI Surakarta. Mengapa, karena penikmat atau penonton sedikit. Permasalahan ini terjadi karena beberapa hal. Pertama apa karena kurang publikasi dan yang kedua panitia tidak berani mencari tempat yang strategis dengan pertimbangan lingkungan yang bekaitan dengan gamelan dan mempunyai penikmat atau penghayat yang cukup sehingga penyajian menjadi lebih bermanfaat.
            Di dalam dunia karawitan sekarang jarang di temui pertujukan karawitan untuk keperluan hayatan. Namun sesering kali hanya untuk keperluan hiburan. Terkadang dalam sebuah penyajian karawitan tidak cukup hanya menyajikan begitu saja. Begitu saja disini berarti hanya di sajikan gending apa adanya, jadi harus ada unsur garap yang bisa membuat gending tersebut menjadi menarik untuk diperhatikan. Begitu juga dengan gending-gending materi pembawaan, yang sudah sedemikian bagus dengan garap-garap yang sudah dipertimbangkan oleh dosen pembimbing di waktu proses latihan wajib. Akan tetapi setelah gending-gending menjadi bagus dan menarik. Mengapa penontonnya hanya sedikit seolah-olah tidak terlalu menarik. Padahal jika pemelihan tempatnya berani keluar dari kampus, melakukan kerja sama dengan pihak tertentu yang mestinya ada kaitannya dengan penyajian pembawaan. Sehingga bisa saling menguntungkan satu sama lain. Tidak menutup kemungkinan menjadi daya tarik yang sangat luar biasa. Bisa mendatangkan kelompok atau oganisasi karawitan untuk saling tukar pikiran/pendapat sehingga menjadi tolak ukur dalam menyajikan sebuah gending. Supaya masyarakat juga dapat menyajikan gending-gending tersebut. Dengan pengalaman yang sudah kehidupan karawitan bisa berkembang dengan baik dilingkungan masyarakat. Manfaat rencana dari penyajian pembawaan di luar kampus ini seharusnya menjadi petimbangan dari pihak jurusan karawitan dan panitia penyelenggara ujian pembawaan. Karena sangat disayangkan jika gending-gending yang sudah bagus dan baik tidak ada yang menikmati atau tak ada yang mengayati.
            Melihat visi dan misi ISI Surakarta, salah satu misinya adalah mendinamisasikan kehidupan senibudaya masyarakat, mengembangkan pusat informasi seni budaya yang akurat dan terpecaya. Dengan tujuan mendinamisasi kehidupan seni budaya masyarakat melalui penggalian, pengembangan, dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan kekaryaan seni. Dengan demikian ujian pembawaan bisa menjadi salah satu cara untuk mengembangkan informasi seni terutama seni karawitan. setelah adanya permasalahan ini semoga kedepannya ujian pembawaan bisa bejalan dengan lebih baik dan bagus, dan juga bisa berpengarung positif terhadap audien maupun dilingkungan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar