UJIAN
PEMBAWAAN KARAWITAN
Nama : Rohmadin
Tepatnya di Teater Kecil ISI
Surakarta pada hari Selasa 25 Oktber 2016 dilaksanakan gladi bersih ujian
pembawaan yang di ikuti oleh 5 kelompok. setiap kelompok diwajibkan mengusai
enam gending, Namun dalam penyajiannya setiap kelompok hanya menyajikan dua
gending yang dipilih dengan cara mengambil undian dari dewan juri. Setelah
mengetahui materi apa yang akan disajikan penyaji dapat menempati panggung dan
menunggu dipersilakan oleh pembawa acara selaku pemimpin jalanya ujian pembawaan.
Terdapat lima dewan juri yang
terdiri dari satu penguji utama, dan empat dewan juri yang masing-masing
mengamati instrumen rebab, kendang, gender, dan sindhen. Dewanjuri juga
termasuk dosen ISI Surakarta. Yang sudah menekuni ilmu tentang karawitan yang
sangat berpengalaman dan berkopeten.
Suasana dalam panggung begitu
tenang, serius dan formal. banyak interaksi antara satu ricikan ke ricikan
lainya, dalam kesatuan garap semua ricikan berperan penting. Namun, ada salah
satu ricikan yang sangat pernting dan riskan jika ricikan tersebut mengalami
permasalah. Ricikan tersebut dapat mempengaruhi ricikan lainnya dan dapat
menghambat jalannya sajian. Ricikan tersebut ialah ricikan kendang. Berbalik
dari suasana didalam panggung menuju ke audien. Disini bisa dilihat ujian yang
seharusnya berjalan dengan konteks formal, akan tetapi para audien masih tidak
fokus kepada penyaji ujian. Sesering sekali terdengar locehan audien yang
sebernanya tidak perlu dilakukan. Bisa dilihat ketika penyaji selesai melakukan
penyajian. Disitu suara-suara bising, locehan, dan tepuk tangan mulai
terdengar. Kendati kejadian seperti ini tidak menjadi perhatian oleh panitia
penyelenggara, sehingga kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi hal yang biasa
yang seharusnya menjadi poin-poin dalam aturan-aturan yang harus dan wajib
dipatuhi. Sehingga konteks formal yang diterapkan masih terjaga. Pakaian yang
digunakan oleh penyaji dan peserta tidak begitu kompak. Apa kemungkinan
kurangnya komunikasi antara penyaji dan pendukung sehingga tidak ada
pemberitahuan sebelumnya kepada pendukung yang berkaitan pakain yang akan di
gunakan dalam pelaksanakan ujian pembawaan. Kurangnya kesadaran dari pendukung
sajian dalam pemilihan penampilan tidak dipertimbangkan. Namun demikan pengalaman
seperti ini seharusnya sudah menjadi pembelajaran dan tidak akan terjadi
kembali pada ujian pembawaan berikutnya.
Kemudian bagaimana dengan tata
cahaya lampu, pemilihan cahaya, kapan mulai redup dan mulai terang. Karena
pernah terjadi ketika penyaji sudah berjalan menyajikan gending. Tata cahaya
lampu belum terang masih redup seperti suasana pengambilan undian materi. Tanpa
disadari kejadian seperti ini sangat mengambat jalan sajian, karena baik interkasi
penyaji maupun pendukung kesulitan dalam membaca notasi gending yang disajikan.
Dilihat dari proses latihan yang dikalukan 10 kali tatap muka dalam dua minggu,
hasilnyapun sebenarnya sudah bagus dan baik. Namun sangat disayangkan ketika
disajikan di Teater Kecil ISI Surakarta. Mengapa, karena penikmat atau penonton
sedikit. Permasalahan ini terjadi karena beberapa hal. Pertama apa karena
kurang publikasi dan yang kedua panitia tidak berani mencari tempat yang
strategis dengan pertimbangan lingkungan yang bekaitan dengan gamelan dan
mempunyai penikmat atau penghayat yang cukup sehingga penyajian menjadi lebih
bermanfaat.
Di dalam dunia karawitan sekarang
jarang di temui pertujukan karawitan untuk keperluan hayatan. Namun sesering
kali hanya untuk keperluan hiburan. Terkadang dalam sebuah penyajian karawitan
tidak cukup hanya menyajikan begitu saja. Begitu saja disini berarti hanya di
sajikan gending apa adanya, jadi harus ada unsur garap yang bisa membuat
gending tersebut menjadi menarik untuk diperhatikan. Begitu juga dengan
gending-gending materi pembawaan, yang sudah sedemikian bagus dengan
garap-garap yang sudah dipertimbangkan oleh dosen pembimbing di waktu proses latihan
wajib. Akan tetapi setelah gending-gending menjadi bagus dan menarik. Mengapa
penontonnya hanya sedikit seolah-olah tidak terlalu menarik. Padahal jika
pemelihan tempatnya berani keluar dari kampus, melakukan kerja sama dengan
pihak tertentu yang mestinya ada kaitannya dengan penyajian pembawaan. Sehingga
bisa saling menguntungkan satu sama lain. Tidak menutup kemungkinan menjadi
daya tarik yang sangat luar biasa. Bisa mendatangkan kelompok atau oganisasi
karawitan untuk saling tukar pikiran/pendapat sehingga menjadi tolak ukur dalam
menyajikan sebuah gending. Supaya masyarakat juga dapat menyajikan
gending-gending tersebut. Dengan pengalaman yang sudah kehidupan karawitan bisa
berkembang dengan baik dilingkungan masyarakat. Manfaat rencana dari penyajian
pembawaan di luar kampus ini seharusnya menjadi petimbangan dari pihak jurusan
karawitan dan panitia penyelenggara ujian pembawaan. Karena sangat disayangkan
jika gending-gending yang sudah bagus dan baik tidak ada yang menikmati atau
tak ada yang mengayati.
Melihat visi dan misi ISI Surakarta,
salah satu misinya adalah mendinamisasikan kehidupan senibudaya masyarakat,
mengembangkan pusat informasi seni budaya yang akurat dan terpecaya. Dengan
tujuan mendinamisasi kehidupan seni budaya masyarakat melalui penggalian,
pengembangan, dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan kekaryaan seni. Dengan
demikian ujian pembawaan bisa menjadi salah satu cara untuk mengembangkan
informasi seni terutama seni karawitan. setelah adanya permasalahan ini semoga
kedepannya ujian pembawaan bisa bejalan dengan lebih baik dan bagus, dan juga
bisa berpengarung positif terhadap audien maupun dilingkungan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar