Selasa, 29 November 2016


Ragam Penyajian Andhegan Pada Gending Gandrung Manis
Artikel Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kritik Karawitan


Nama : Tri Jeniati
NIM : 13111125



Gandrung Manis adalah gending yang berbentuk kethuk 2 kerep minggah 2. Kethuk 2 berarti terdapat dua tabuhan kethuk dalam satu kenongan, minggah 4 berarti terdapat empat tabuhan kethuk dalam setiap satu tabuhan kenong. Gendhing Gandrung Manis diawali dengan buka rebab, kemudian masuk merong berulang-ulang (biasanya dua kali) kemudian peralihan menuju umpak pada kenong ke tiga (gong-an ke dua) kemudian inggah dan suwuk.
Gendhing Gandrung Manis biasanya disajikan dalam laras pelog pathet barang, namun dapat juga disajikan dalam laras slendro pathet manyura. Dalam penyajian keduanya sama-sama menggunakan andhegan gawan. Selain andhegan gawan, dapat juga disajikan dengan menggunakan andhegan selingan. Dalam penyajian pada laras pelog pathet barang andhegan selingan yang digunakan adalah Dhandhanggula Banjet. Sedangkan jika Gending Gandrung Manis disajikan pada laras slendro pathet manyura menggunakan andhegan selingan Dhandhanggula Temanten Anyar. Perbedaan lain yang menonjol, yaitu jika Gending Gandrung Manis disajikan dalam laras slendro pathet manyura maka disajikan dengan menggunakan sampak. Sedangkan jika disajikan dalam laras pelog pathet barang tidak menggunakan.
1.      Andhegan Selingan Gending Gandrung Manis pada laras pelog pathet barang
Selingan di dalam sindhenan biasa digunakan untuk menyebut garap gending saat digarap mandheg. Pada umumnya ketika gending digarap mandheg selalu disajikan sindhenan andhegan (gawan gending maupun gawan cengkok). Agar tercipta suasana baru dan untuk memberi toleransi kepada penyaji ricikan lain, maka saat gending disajikan dengan garap mandheg tersebut, disajikan salah satu lagu lain di mana teks dan lagu ini oleh msayarakat karawitan Jawa disebut selingan. Teks dan lagu sindhenan andhegan selingan pada umumnya berwujud : (1) sekar macapat, (2) lagu yang disusun secara khusus, (3) bentuk gending lain (lancaran, langgam, jineman). Pada saat menyajikan selingan inilah pada umumnya pesindhen memiliki kesempatan untuk menampilkan kebolehannya dengan mengolah luk, wiled, dan gregelnya. Oleh karena itu, maka di dalam masyarakat karawitan Jawa terdapat pemahaman tentang perbedaan teknik penyajiannya ketika sekar Macapat disajikan sebagai waosan dan disajikan sebagai andhegan selingan.
Andhegan selingan dalam Gending Gandrung Manis laras pelog pathet barang menggunakan salah satu sekar macapat yaitu sekar macapat Dhandhanggula Banjet laras pelog pathet barang. Dalam penyajian Gendhing Gandrung Manis laras pelog pathet barang, andhegan sindhenan  terletak pada inggah di pertengahan kenong empat, atau lebih tepatnya pada balungan berikut.
. 5 . 6    . @ . 7(#)   . 3 . 2    . 4 . g3
Pada balungan yang diberi tanda (#) semua instrumen berhenti, kemudaian salah satu pesindhen menyajikan andhegan selingan sekar macapat Dhandhanggula Banjet laras pelog pathet barang . Setelah penyajian sekar macapat Dhandhanggula Banjet selesai, dilanjutkan atau disambung dengan andhegan gawan  Gending Gandrung Manis yang kemudian ditampani kendhang beserta instrumen lain hingga suwuk.
2.Selingan andhegan Gending Gandrung Manis pada laras slendro manyura.
Penyajian Gending Gandrung Manis dalam laras salendro pathet manyura memiliki perbedaan dengan  penyajian dalam laras pelog. Perbedaan yang menonjol yaitu digunakannya sampak dalam penyajian pada laras slendro. Selain itu perbedaan yang sangat jelas juga terlihat pada andhegan selingan yang digunakan. Jika dalam penyajian Gending Gandrung Manis menggunakan selingan andhegan sekar macapat Dhandhanggula Banjet, penyajian Gending Gandrung Manis dalam laras slendo menggunakan andhegan andhegan sekar macapat Temanten Anyar. Meski sama-sama menggunakan sekar macapat dhandhanggula, namun dhandhanggula yang digunakan berbeda. Perbadaan kedua sekar macapat dhandhanggula tersebut selain pada laras, cengkok dan cakepan,  juga terdapat perbedaan lain yaitu digunakannya senggakan pada sekar macapat Dhandhanggula Temanten Anyar. Vokal tunggal putri yang menyajikan sekar Dhandhanggula Temanten Anyar, kemudian diisi senggakan dari penggerong putra. Hal ini jika dianalisa  menggambarkan antara laki-laki dan perempuan guyub rukun dalam lagu itu.
Letak penyajian selingan andhegan Gending Gandrung Manis  pada laras slendro sama dengan penyajian pada laras pelog, terletak pada inggah di pertengahan kenong empat, salah satu pesindhen menyajikan sekar macapat dhandhanggula Temanten Anyar. Tetapi, yang membuat berbeda pada penyajian keduanya adalah setelah penyajian sekar macapat Dhandhanggula selesai disajikan, tidak langsung dilanjutkan dengan andhegan gawan Gending Gandrung Manis. Melainkan disajikan sampak terlebih dahulu, baru kemudian dilanjutkan andhegan gawan dan dilanjutkan gending hingga selesai.
Dalam pemilihan andhegan selingan tersebut tentunya ada keterkaitan antara gending dan juga andhegan selingan yang digunakan. Gending Gandrung Manis adalah gending yang menggambarkan atau menceritakan tentang seseorang yang sedang kasmaran. Hal ini dapat dilihat dari pengertian dari nama Gandrung Manis yang berarti terpikat dengan sosok yang manis atau cantik. (wedhapradhangga, hal.122).
Dhandhanggula Banjet digunakan sebagai andhegan selingan Gending Gandrung Manis pada laras pelog pathet barang tentunya memiliki beberapa faktor yang menyebabkan dipilihnya sekar macapat ini sebagai andhegan selingan pada gending ini. Jika dilihat dari segi nama sekar macapat, Dhandhanggula Banjet memiliki makna yaitu Dhandhanggula berasal dari kata Dhandhang dan gula. Dhandhang adalah sebutan untuk salah satu jenis alat memasak yang berwarna hitam pada bagian bawahnya (dalam bahasa Jawa disebut ireng). Sedangkan gula adalah salah satu bumbu yang mempunyai rasa manis. Dari penjelasan tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud Dhandhanggula memiliki arti ireng manis. Sudah jelas terbukti pada andhegan gawan Gending Gandrung Manis, kata ireng manis digunakan sebagai cakepan. Itu sebabnya mengapa dipilih sekar macapat dhandhanggula sebagai andhegan selingan  dan tidak menggunakan sekar macapat yang lain. Karena dari segi nama atau judul sudah memiliki keterkaitan. Pengertian Banjet dalam konteks ini adalah sepasang suami istri yang sedang bercinta. Bersangkutan dengan Gending Gandrung Manis yang menggambarkan tentang seseorang yang sedang terpikat atau jatuh cinta, dipilih andhegan selingan sekar Dhandhanggula Banjet sebagai andhegan selingan pada laras pelog. Dikarenakan jika seseorang sudah saling jatuh cinta pasti mempunyai keinginan untuk bercinta dalam ikatan yang sudah sah.
Andhegan selingan yang digunakan Gending Gandrung Manis dalam laras slendro pathet manyura adalah Dhandhanggula Temanten Anyar. Sebenarnya keterkaitan antara keduanya tidak berbeda jauh. Namun dalam andhegan selingan sekar Dhandhanggula Temanten Anyar lebih diperjelas lagi bahwa keterkaitan makna terpikat atau jatuh cinta yang terkandung dalam Gending Gandrung Manis dilanjutkan dengan Dhandhanggula Temanten Anyar yang mempunyai arti pengantin baru. Dari keterkaitan makna tersebut mungkin yang menjadikan alasan dipilihnya kedua sekar dhandhanggula tersebut sebagai andhegan selingan dalam Gending Gandrung Manis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar