PROSES UJIAN PEMBAWAAN
Nama : Singgih Pramusinto
NIM : 13111136
Prodi : Seni Karawitan
Sri Hastanto
dalam bukunya “Konsep Pathet Dalam Karawitan Jawa” menyebutkan, bentuk gending
dalam dunia karawitan Surakarta digolongkan menjadi dua golongan, yaitu golongan
gending alit dan gending gede. Gending-gending yang tergolong dalam gending
alit yaitu lancaran, ketawang, ladrang dan sebagainya, sedangkan
gending-gending yang tergolong dalam gending gede yaitu gending kethuk 2 kerep,
kethuk 4 kerep dan sebagainya. Saat ini keberadaan gending-gending yang
berukuran gede jarang disajikan di tarup karena membutuhkan durasi yang cukup
panjang yang mengakibatkan pengrawit menjadi jenuh. Karena kejenuhan tersebut
menyebabkan banyak pengrawit yang belum faham dan tidak sedikit juga pengrawit
yang kurang mampu untuk menyajikan gending gede tersebut.
Saat ujian
pembawaan dan tugas akhir (TA) ISI Surakarta, mahasiswa dituntut untuk
menyajikan gending-gending gede, karena mahasiswa ISI Surakarta merupakan
seniman yang akademis yang diwajibkan untuk melestarikan kesenian tradisi. Ujian
pembawaan seni karawitan dilaksanakan dengan syarak sudah menempuh semester IV
dan sudah membantu ujian pembawaan sebelumnya. Ujian pembawaan berbeda dengan
ujian-ujian lainnya, karena nilai ujian pembawaan akan berpengaruh kepada
pilihan jalur tugas akhir. Jika nilai tidak mencukupi untuk memilih jalur yang
di ingginkan maka seorang penyaji harus memilih jalur lainnya yang nilainya
mencukupi sebagai syarat ujian tersebut, bahkan tak jarang mahasiswa mengulang
ujian pembawaan untuk memperbaiki nilai yang diperoleh agar bisa memilih jalur
tugas akhir yang di inginkan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan
maka seorang penyaji ujian pembawaan diharapkan mendapatkan hasil yang maksimal.
Untuk
menghasilkan sajian yang maksimal maka sebelum dilaksanakan ujian pembawaan dari
jurusan karawitan diwajibkan kepada setiap penyaji untuk memilih kelompok,
memilih gending yang akan disajikan, melakukan penataran, ujian kelayakan dan
latihan wajib. Penentuan diwajibkan minimal untuk menyerambah semua gending
yang dipilih. Tidak semua penyaji mempunyai kelompok, dan tidak semua kelompok
utuh bisa lulus dari ujian penentuan. Penyaji yang lulus dari ujian kelayakan
belum bisa dikatakan sudah menguasai semua gending yang dipilihnya, karena
ujian kelayakan hanya meloloskan yang layak untuk maju ujian pembawaan bukan
yang menguasai semua gending yang dipilih, hal itu terbukti setelah ujian
penentuan masih banyak pula penyaji yang masih melakukan proses penataran lagi.
Kepada penyaji yang tidak lulus ujian penentuan maka dianggap gagal untuk maju
ujian pembawaan dan harus mengulang semester selanjutnya.
Dalam jadwal
yang dibuat oleh jurusan karawitan, untuk pelaksanaan proses latihan wajib
dilaksanakan enam hari dalam seminggu dan latihan didampingi oleh seorang dosen
pembimbing, akan tetapi banyak proses-proses latihan yang tidak bisa terlaksana
yang disebabkan banyak pendukung atau penyaji yang tidak bisa pda hari itu.
Ujian pembawaan
yang disajikan oleh saudara M. Faisal Gatot Wibowo melibatkan banyak pendukung
untuk mendukung jalannya sajian gending tersebut. Karena M. Faisal Gatot Wibowo
tidak mempuyai kelompok dan penyaji menyajikan ricikan kendhang, maka penyaji
tersebut harus memilih pendukung rebab, sindhen, dan gendher yang dianggap
mumpuni pada ricikan tersebut. Latihan pembawaan dilaksanakan sekitar 2-3 jam
yang disela-sela itu ada jeda waktu yang digunakan untuk istirahat, makan,
minum dan merokok. Oleh sebab itu seorang penyaji harus bersiap-siap terkuras
sakunya untuk membelikan makan, minum dan rokok yang disiapkan untuk para
pendukungnya. Karena pendukung juga banyak yang berangkat latihan hanya karena
mengharapkan imbalan-imbalan tersebut. Jarang pendukung bisa datang tepat watu,
sering kali latihan molor dari waktu yang ditentukan hanya karena menunggu
pendukung komplit. Jarang juga pendukung proses latihan bisa komplit, banyak pendukung
yang sering tidak berangkat latihan tanpa alasan tertentu yang tak lain juga
termasuk ricikan rebab, sindhen dan gendher. Hal tersebut menyebabkan kurang
maksimalnya proses latihan tersebut karena banyak instrumen yang tidak
disajikan. Dalam proses latihan juga banyak canda tawa yang kurang tepat pada
tempatnya seperti berbicara dan tertawa sendiri-sendiri saat gending disajikan,
dan lain sebagainya. Pada waktu latihan ricikan kendhang juga sering tidak
berjalan dengan lancar karena karena penempatan sekaran yang tidak tepat pada
tempatnya dan bahkan tidak jarang juga sampai berhenti mendadak, hal ini disebabkan
karena penyaji kendhang belum benar-benar hafal skema kendhangan gending yang
di sajikan.
Terkadang ada
perselisihan balungan dan garap antara dosen penatar dan dosen pembimbing, akan
tetapi karena yang bertanggung jawab tentang garap adalah dosen pembimbing maka
penyaji memilih untuk mengikuti garap yang disampaikan oleh dosen pembimbing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar