Selasa, 29 November 2016

PROSES UJIAN PEMBAWAAN





PROSES UJIAN PEMBAWAAN

Nama   : Singgih Pramusinto
NIM    : 13111136
Prodi   : Seni Karawitan


Sri Hastanto dalam bukunya “Konsep Pathet Dalam Karawitan Jawa” menyebutkan, bentuk gending dalam dunia karawitan Surakarta digolongkan menjadi dua golongan, yaitu golongan gending alit dan gending gede. Gending-gending yang tergolong dalam gending alit yaitu lancaran, ketawang, ladrang dan sebagainya, sedangkan gending-gending yang tergolong dalam gending gede yaitu gending kethuk 2 kerep, kethuk 4 kerep dan sebagainya. Saat ini keberadaan gending-gending yang berukuran gede jarang disajikan di tarup karena membutuhkan durasi yang cukup panjang yang mengakibatkan pengrawit menjadi jenuh. Karena kejenuhan tersebut menyebabkan banyak pengrawit yang belum faham dan tidak sedikit juga pengrawit yang kurang mampu untuk menyajikan gending gede tersebut.
Saat ujian pembawaan dan tugas akhir (TA) ISI Surakarta, mahasiswa dituntut untuk menyajikan gending-gending gede, karena mahasiswa ISI Surakarta merupakan seniman yang akademis yang diwajibkan untuk melestarikan kesenian tradisi. Ujian pembawaan seni karawitan dilaksanakan dengan syarak sudah menempuh semester IV dan sudah membantu ujian pembawaan sebelumnya. Ujian pembawaan berbeda dengan ujian-ujian lainnya, karena nilai ujian pembawaan akan berpengaruh kepada pilihan jalur tugas akhir. Jika nilai tidak mencukupi untuk memilih jalur yang di ingginkan maka seorang penyaji harus memilih jalur lainnya yang nilainya mencukupi sebagai syarat ujian tersebut, bahkan tak jarang mahasiswa mengulang ujian pembawaan untuk memperbaiki nilai yang diperoleh agar bisa memilih jalur tugas akhir yang di inginkan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan maka seorang penyaji ujian pembawaan diharapkan mendapatkan hasil yang maksimal.
Untuk menghasilkan sajian yang maksimal maka sebelum dilaksanakan ujian pembawaan dari jurusan karawitan diwajibkan kepada setiap penyaji untuk memilih kelompok, memilih gending yang akan disajikan, melakukan penataran, ujian kelayakan dan latihan wajib. Penentuan diwajibkan minimal untuk menyerambah semua gending yang dipilih. Tidak semua penyaji mempunyai kelompok, dan tidak semua kelompok utuh bisa lulus dari ujian penentuan. Penyaji yang lulus dari ujian kelayakan belum bisa dikatakan sudah menguasai semua gending yang dipilihnya, karena ujian kelayakan hanya meloloskan yang layak untuk maju ujian pembawaan bukan yang menguasai semua gending yang dipilih, hal itu terbukti setelah ujian penentuan masih banyak pula penyaji yang masih melakukan proses penataran lagi. Kepada penyaji yang tidak lulus ujian penentuan maka dianggap gagal untuk maju ujian pembawaan dan harus mengulang semester selanjutnya.
Dalam jadwal yang dibuat oleh jurusan karawitan, untuk pelaksanaan proses latihan wajib dilaksanakan enam hari dalam seminggu dan latihan didampingi oleh seorang dosen pembimbing, akan tetapi banyak proses-proses latihan yang tidak bisa terlaksana yang disebabkan banyak pendukung atau penyaji yang tidak bisa pda hari itu.
Ujian pembawaan yang disajikan oleh saudara M. Faisal Gatot Wibowo melibatkan banyak pendukung untuk mendukung jalannya sajian gending tersebut. Karena M. Faisal Gatot Wibowo tidak mempuyai kelompok dan penyaji menyajikan ricikan kendhang, maka penyaji tersebut harus memilih pendukung rebab, sindhen, dan gendher yang dianggap mumpuni pada ricikan tersebut. Latihan pembawaan dilaksanakan sekitar 2-3 jam yang disela-sela itu ada jeda waktu yang digunakan untuk istirahat, makan, minum dan merokok. Oleh sebab itu seorang penyaji harus bersiap-siap terkuras sakunya untuk membelikan makan, minum dan rokok yang disiapkan untuk para pendukungnya. Karena pendukung juga banyak yang berangkat latihan hanya karena mengharapkan imbalan-imbalan tersebut. Jarang pendukung bisa datang tepat watu, sering kali latihan molor dari waktu yang ditentukan hanya karena menunggu pendukung komplit. Jarang juga pendukung proses latihan bisa komplit, banyak pendukung yang sering tidak berangkat latihan tanpa alasan tertentu yang tak lain juga termasuk ricikan rebab, sindhen dan gendher. Hal tersebut menyebabkan kurang maksimalnya proses latihan tersebut karena banyak instrumen yang tidak disajikan. Dalam proses latihan juga banyak canda tawa yang kurang tepat pada tempatnya seperti berbicara dan tertawa sendiri-sendiri saat gending disajikan, dan lain sebagainya. Pada waktu latihan ricikan kendhang juga sering tidak berjalan dengan lancar karena karena penempatan sekaran yang tidak tepat pada tempatnya dan bahkan tidak jarang juga sampai berhenti mendadak, hal ini disebabkan karena penyaji kendhang belum benar-benar hafal skema kendhangan gending yang di sajikan.
Terkadang ada perselisihan balungan dan garap antara dosen penatar dan dosen pembimbing, akan tetapi karena yang bertanggung jawab tentang garap adalah dosen pembimbing maka penyaji memilih untuk mengikuti garap yang disampaikan oleh dosen pembimbing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar