Selasa, 29 November 2016

Pergeseran Nilai Karawitan dari Zaman Dahulu ke Zaman Modern




Pergeseran Nilai Karawitan dari Zaman Dahulu ke Zaman Modern

Nama   : Syaiful Mustofa
Nim     : 13111118


Hingga sekarang ini semakin banyak orang membicarakan masalah kebudayaan. Kebudayaan itu sendiri tidak luput dari berkesenian. Kesenian selalu mengalami perubahan dikarenakan beberapa faktor, selain tuntutan jaman (globalisasi) dan cara pandang yang berbeda dari generasi ke generasi, juga karena tuntutan ekonomi serta munculnya kreatifitas dikalangan seniman sebagai upaya agar profesi berkesenian mereka tetap bertahan walaupun merusak tatanan/ tradisi yang sudah ada. Hal itu terjadi pada klenengan/ karawitan pada jaman sekarang yang tidak berorientasi lagi pada gaya kraton, melainkan bergeser/ berorientasi pada masyarakat penikmatnya. Mengapa demikian?
Perubahan ini terjadi karena situasi/ kondisi jaman yang sudah berubah dan selera masyarakat pun juga telah berubah. Dahulu klenengan digunakan untuk sarana meditasi, bentuk gending yang disajikan pun masih menggunakan gending-gending yang besar (ageng), dan dahulu para pengrawit/ penabuh serta penikmat/ pendengar masih sabar untuk menyajikan dan mendengarkan gending-gending tersebut. Akan tetapi sekarang klenengan orientasinya sudah mengarah ke hiburan, jadi gending-gending itu sifatnya yang bisa menghibur masyarakat, yang dinamik, yang tidak panjang/ memakan waktu yang lama untuk menyajikannya, dan yang menggunakan kendang ciblon/ kendang sunda (jaipong) untuk meramaikan suasana. Perkembangan karawitan sekarang itu terjadi akibat munculnya gending-gending sragenan/tayuban, karena kebutuhan karawitan itu untuk mengikuti selera pasar. Maka dari itu sragenan tidak mengacu pada budaya kraton, karena kraton masih memperhatikan konsep mungguh dan adi luhung, jadi aturannya masih ketat.
Tidak hanya itu, perubahan tersebut terjadi juga karena adanya perubahan sosial masyarakat. Masyarakat pada jaman sekarang sangat dipengaruhi oleh perkembangan jaman/ globalisasi, artinya perkembangan jaman tersebut membawa efek kecendurungan orang-orang/ masyarakat itu berpikir konsumtif, dalam seni yang penting orang/ masyarakat itu senang. Kalau mendengarkan klenengan bergaya kraton harus dengan khusuk, harus dengan seluruh jiwa, artinya perlu mengorbankan rasa untuk bisa menghayati klenengan/ gending-gending kraton tersebut. Orang-orang sekarang cenderung tidak mau mendengarkan gending-gending yang berat/ yang gede (ageng), mereka cenderung hanya mencari yang praktis, yang gayeng, seneng contohnya seperti sragenan, tayuban. Contoh studi kasus di daerah Sragen, orang punya hajatan hampir tidak menggunakan gending-gending yang besar/ ageng yang bergaya kraton, kalaupun ada paling hanya satu dua gending saja terus dilanjut sragenan. Hal tersebut karena adanya pengaruh globalisasi, orang-orang/ masyarakat sekarang cenderung hanya mencari kepuasan sesaat. Sekarang yang masih mempunyai gagasan pemikiran/ memiliki perhatian terhadap klenengan bergaya kraton tinggal sedikit, contohnya karawitan Pujangga Laras.
Dengan demikian sangat disayangkan, karena gending-gending yang bergaya kraton sudah jarang dibunyikan, sehingga untuk mencari referensi gending-gending tersebut sangatlah sulit, dan yang paling disayangkan lagi, sekarang masyarakat cenderung memilih gending-gending yang ringan, yang pendek, dan yang dapat dijadikan tayuban atau sragenan, yang gending-gending tersebut cenderung memiliki karakter senang, gembira, sigrak, dan prenes dan yang dapat digarap menggunakan kendang ciblon/ jaipong. Kalaupun gendingnya tidak berkarakter seperti itu, kemudian penabuh/ pengrawit akan menggarapnya untuk dapat menimbulkan suasana gembira/ ramai, yaitu dengan garap ciblon. Hal itu sangat merusak orientasi/ karawitan gaya kraton, padahal pada tayub sendiri sebenarnya sudah memiliki repertoar gending-gending tersendiri yang jumlahnya cukup banyak, sebagai contoh: Celeng Mogok, Blenderan, Blandong, Pring Padha Pring, Cabawa Jamong, Godril, Waru Dhoyong, Samiran dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, nilai-nilai kemungguhan dan adi luhung pada klenengan gaya kraton juga sudah bergeser menjadi sarana hiburan sesaat, dan semakin banyaknya masyarakat yang hanya mencari hiburan tanpa bisa menghayati gending-gending tersebut. Akan tetapi dengan adanya pergeseran tersebut bisa dijadikan sebuah profesi oleh seniman awam/ para pengrawit karena masyarakat cenderung menyukai gending-gending yang praktis, yang menghibur, dan gayeng.
Pergeseran nilai karawitan tersebut sebenarnya bisa ditanggulangi dengan adanya pelatihan karawitan di desa dengan masyarakat/ seniman awam sebagai pelaku yang belum sepenuhnya mengetahui tentang karawitan gaya kraton. Dengan adanya pelatihan tersebut, masyarakat/ seniman awam akan diajarkan tentang gending-gending yang sifatnya agung, dan tidak hanya mengenal gending-gending yang sifatnya gumyak saja. Dengan demikian maka penabuh/ pengrawit serta masyarakat penikmat seni akan terbiasa dengan gending-gending yang besar (ageng), dan yang sifatnya agung. Maka keeksistensian gending-gending gaya kraton akan tetap terjaga walaupun tergerus arus globalisasi/ perkembangan jaman seperti sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar