Pergeseran
Nilai Karawitan dari Zaman Dahulu ke Zaman Modern
Nama : Syaiful Mustofa
Nim : 13111118
Hingga
sekarang ini semakin banyak orang membicarakan masalah kebudayaan. Kebudayaan
itu sendiri tidak luput dari berkesenian. Kesenian selalu mengalami perubahan
dikarenakan beberapa faktor, selain tuntutan jaman (globalisasi) dan cara
pandang yang berbeda dari generasi ke generasi, juga karena tuntutan ekonomi
serta munculnya kreatifitas dikalangan seniman sebagai upaya agar profesi berkesenian
mereka tetap bertahan walaupun merusak tatanan/ tradisi yang sudah ada. Hal itu
terjadi pada klenengan/ karawitan
pada jaman sekarang yang tidak berorientasi lagi pada gaya kraton, melainkan
bergeser/ berorientasi pada masyarakat penikmatnya. Mengapa demikian?
Perubahan
ini terjadi karena situasi/ kondisi jaman yang sudah berubah dan selera
masyarakat pun juga telah berubah. Dahulu klenengan
digunakan untuk sarana meditasi, bentuk gending yang disajikan pun masih
menggunakan gending-gending yang besar (ageng),
dan dahulu para pengrawit/ penabuh
serta penikmat/ pendengar masih sabar untuk menyajikan dan mendengarkan
gending-gending tersebut. Akan tetapi sekarang klenengan orientasinya sudah mengarah ke hiburan, jadi
gending-gending itu sifatnya yang bisa menghibur masyarakat, yang dinamik, yang
tidak panjang/ memakan waktu yang lama untuk menyajikannya, dan yang
menggunakan kendang ciblon/ kendang
sunda (jaipong) untuk meramaikan
suasana. Perkembangan karawitan sekarang itu terjadi akibat munculnya
gending-gending sragenan/tayuban,
karena kebutuhan karawitan itu untuk mengikuti selera pasar. Maka dari itu
sragenan tidak mengacu pada budaya kraton, karena kraton masih memperhatikan
konsep mungguh dan adi luhung, jadi
aturannya masih ketat.
Tidak
hanya itu, perubahan tersebut terjadi juga karena adanya perubahan sosial
masyarakat. Masyarakat pada jaman sekarang sangat dipengaruhi oleh perkembangan
jaman/ globalisasi, artinya perkembangan jaman tersebut membawa efek
kecendurungan orang-orang/ masyarakat itu berpikir konsumtif, dalam seni yang
penting orang/ masyarakat itu senang. Kalau mendengarkan klenengan bergaya kraton harus dengan khusuk, harus dengan seluruh
jiwa, artinya perlu mengorbankan rasa untuk bisa menghayati klenengan/ gending-gending kraton
tersebut. Orang-orang sekarang cenderung tidak mau mendengarkan gending-gending
yang berat/ yang gede (ageng), mereka
cenderung hanya mencari yang praktis, yang gayeng,
seneng contohnya seperti sragenan,
tayuban. Contoh studi kasus di daerah Sragen, orang punya hajatan hampir
tidak menggunakan gending-gending yang besar/ ageng yang bergaya kraton,
kalaupun ada paling hanya satu dua gending saja terus dilanjut sragenan. Hal tersebut karena adanya
pengaruh globalisasi, orang-orang/ masyarakat sekarang cenderung hanya mencari
kepuasan sesaat. Sekarang yang masih mempunyai gagasan pemikiran/ memiliki
perhatian terhadap klenengan bergaya kraton tinggal sedikit, contohnya karawitan
Pujangga Laras.
Dengan
demikian sangat disayangkan, karena gending-gending yang bergaya kraton sudah
jarang dibunyikan, sehingga untuk mencari referensi gending-gending tersebut
sangatlah sulit, dan yang paling disayangkan lagi, sekarang masyarakat cenderung
memilih gending-gending yang ringan, yang pendek, dan yang dapat dijadikan tayuban atau sragenan, yang gending-gending
tersebut cenderung memiliki karakter senang, gembira, sigrak, dan prenes dan
yang dapat digarap menggunakan kendang ciblon/
jaipong. Kalaupun gendingnya tidak berkarakter seperti itu, kemudian
penabuh/ pengrawit akan menggarapnya
untuk dapat menimbulkan suasana gembira/ ramai, yaitu dengan garap ciblon. Hal itu sangat merusak
orientasi/ karawitan gaya kraton, padahal pada tayub sendiri sebenarnya sudah memiliki repertoar gending-gending
tersendiri yang jumlahnya cukup banyak, sebagai contoh: Celeng Mogok, Blenderan, Blandong, Pring Padha Pring, Cabawa Jamong,
Godril, Waru Dhoyong, Samiran dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, nilai-nilai
kemungguhan dan adi luhung pada klenengan
gaya kraton juga sudah bergeser menjadi sarana hiburan sesaat, dan semakin
banyaknya masyarakat yang hanya mencari hiburan tanpa bisa menghayati
gending-gending tersebut. Akan tetapi dengan adanya pergeseran tersebut bisa
dijadikan sebuah profesi oleh seniman awam/ para pengrawit karena masyarakat cenderung menyukai gending-gending yang
praktis, yang menghibur, dan gayeng.
Pergeseran
nilai karawitan tersebut sebenarnya bisa ditanggulangi dengan adanya pelatihan
karawitan di desa dengan masyarakat/ seniman awam sebagai pelaku yang belum
sepenuhnya mengetahui tentang karawitan gaya kraton. Dengan adanya pelatihan
tersebut, masyarakat/ seniman awam akan diajarkan tentang gending-gending yang
sifatnya agung, dan tidak hanya mengenal gending-gending yang sifatnya gumyak
saja. Dengan demikian maka penabuh/ pengrawit serta masyarakat penikmat seni
akan terbiasa dengan gending-gending yang besar (ageng), dan yang sifatnya agung. Maka keeksistensian gending-gending
gaya kraton akan tetap terjaga walaupun tergerus arus globalisasi/ perkembangan
jaman seperti sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar