Serunya Limbukan
dan Gara-gara pada Masa Kini
Sehingga Menarik
Perhatian Penonton
Nama : Ambar Tri Wulan Dedari
Nim : 13111154
No Hp :
085725306570
Wayang
sering dipentaskan dalam wilayah jawa, karena wayangan sebuah kesenian yang
berasal dari Jawa, bahkan wayangan juga sering dipentaskan di luar Jawa
misalkan daerah Kalimantan dan lainnya. Wayangan biasa dipentaskan untuk
meramaikan sebuah kepentingan keluarga seperti pernikan, khitanan, kelahiran
bayi, juga biasa dipentaskan untuk mengingatkan bulan Suro, dan untuk kampanye
partai. Dijaman sekarang sebagian banyak penonton wayang sering menantikan
adegan Limbukan daan Gara-gara daripada menyaksikan cerita wayang lebih
detailnya sampai selesai, karena didalam Limbukan dan Gara-gara banyak terdapat
lagu-lagu yang dinyanyikan Sinden dan banyolan atau lelucon yang dipertunjukan.
Di jaman dulu pada saat adegan Limbukan dan
Gara-gara Sinden menembangkan jineman, langgam-langgam karya Ki Narto Sabdo,
dan gendhing-gendhing kuno lainnya, mungkin penonton juga menikmati lagu-lagu
tersebut hingga berjalannya waktu saat ini lagu-lagu yang kuno menjadi
lagu-lagu baru penciptanya pun juga sudah berbagai orang, yang sering di tembangkan
pada saat Limbukan dan Gara-gara, biasanya sinden menembangkan lagu sesuai
dengan permintaan penonton, kenapa begitu karena di jaman sekarang lebih
mengutamakan apa yang disukai penonton supaya wayang tetap ditanggap oleh
masyarakat.
Limbukan dan Gara-gara wayangan pada jaman
sekarang juga ada banyolan atau dagelan atau pelawak yang membuat suasana cair
juga pastinya memancing penonton untuk menyaksikan acara wayangan tersebut, selain
itu lagu-lagunya juga seru sekali atau biasa saya sebut “gayeng’’ disamping
sinden berdiri dan menari juga lagu-lagunya banyak jenis yang bisa
menggoyangkan badan seperti dangdutan dan sragenan. Jenis dangdutan biasanya
terdapat lagu-lagu banyuwanginan dan juga sragenan biasanya ada kendangan yang
khas dan itu memberi ide penggerong untuk senggakan.
Definisi diatas dapat saya katakan karena
saya ikut menyaksikan wayangan di Kecamatan Ngadirojo Wonogiri, saya mengamati
penonton wayangan lebih banyak saat limbukan dimulai, mereka mengirim lagu
kepada dhalang kemudian di nyanyikan oleh sinden agar memuaskan penonton, sinden
sebagai perantara menyanyikan lagu yang diinginkan penonton.
Lalu
apakah pertunjukan wayang hanya untuk kepuasan penonton pada adegan Limbukan
dan Gara-gara saja, apakah para pelaku seniman pementasan wayang tidak ingin
membuat penonton senang bila menyaksikan wayangan secara untuh melalui
cerita-cerita yang dimainkan oleh dhalang, dan juga mengembangkan garap
iringan-iringan pada saat wayangan bukan hanya adegan Limbukan dan Gara-gara
saja sehingga penonton menyukai wayangan dari awal sampai wayangan selesai.
Gayengnya
Limbukan dan Gara-gara pada wayangan juga bisa membuat penonton menari-nari
sambil membawa minuman keras, jika terjadi hal-hal berikut kenapa pelaku seni
tetap melakukan apa yang diminta penonton? Karena mungkin itu yang menjadi
salah satu penikmat wayang ingin menanggapnya. Bahkan waktu wayangan sudah
hampir habis untuk Limbukan dan Gara-gara hingga pagelaran wayang kulit
sekarang sudah melenceng dari pakemnya, dan makna serta inti ceritanya sendiri
sudah menjadi bias.
Mungkin
juga ada benarnya bila pertunjukan wayang dilakukan sesuai pakem akan
ditinggalkan penonton yang mayoritas penonton usia masih muda, yah itulah dunia
wayang kulit saat ini. Apakah akan bertahan terus seperti ini? Harapan saya
semoga ada generasi penerus yang masih muda mau peduli untuk mempertahankan
kesenian ini seperti jaman dahulu.
Sebenarnya banyak iringan-iringan baru pada
wayangan tidak hanya di Limbukan dan Gara-gara saja tapi juga di awalan saat
wayang akan dimulai, tapi mungkin masyarakat awam tidak paham dengan apa musik
itu, jadi mereka sangat lebih menikmati Limbukan dan Gara-gara, karena lagunya
lebih masyarakat kenal dengan mereka mengirim permintaan lagu kepada dhalang
lalu di nyanyikan oleh sinden atau bahkan kadang-kadang peminta lagunya sendiri
yang menyanyikan lagu yang ia ingini jadi mungkin disitu juga bisa menjadi
alasan Limbukan dan Gara-gara lebih gayeng dari pada adegan wayang yang
lainnya.
Dandanan sinden yang sangat menggoda dan ia
memberanikan diri untuk berdiri menyanyikan lagu yang ditunggu-tunggu penonton,
juga terdapat percakapan yang lucu sehingga penonton tertawa mendengarnya, ada
juga sinden menarikan salah satu tarian
gambyong, sebagai penghibur mereka berusaha melakukan apa yang diinginkan
penonton agar para penonton dapat terhibur dan menyukai wayangan itu, dari
iringan juga sindenan yang bagus juga bisa membawa anggapan dhalang bagi
penikmat juga bagus.
Jadi saat pertunjukan wayang dimulai
penonton mulai banyak sampai beberapa jam kemudian diawal pertunjukan penonton
masih bertahan hingga Limbukan dimulai penonton semakin banyak dan sangat
antusias menontonnya, hingga meminta lagu, ikut bergoyang, ikut tertawa dengan
lawakan-lawakan yang di pertunjukan oleh pelawak atau sinden dengan dalang,
juga penonton ingin cepat-cepat pengrawit memulai menabuh gamelannya.
Hingga Limbukan selesai dhalang melanjutkan
kembali lakon wayang tersebut penonton banyak yang bubar hanya sedikit saja
yang masih menunggu untuk menonton wayang, tapi begitu Gara-gara dimulai
penonton kembali lagi untuk menonton acara tesebut. Seperti apa yang dilakukan
saat Limbukan, dan begitu gara-gara selesai penonton kembali bubar dan yang
tersisa kadang-kadang hanya pengrawit atau pengiring wayangnya saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar