Selasa, 22 November 2016

Serunya Limbukan dan Gara-gara pada Masa Kini Sehingga Menarik Perhatian Penonton




Serunya Limbukan dan Gara-gara pada Masa Kini
Sehingga Menarik Perhatian Penonton


Nama  : Ambar Tri Wulan Dedari
Nim     : 13111154
No Hp : 085725306570




Wayang sering dipentaskan dalam wilayah jawa, karena wayangan sebuah kesenian yang berasal dari Jawa, bahkan wayangan juga sering dipentaskan di luar Jawa misalkan daerah Kalimantan dan lainnya. Wayangan biasa dipentaskan untuk meramaikan sebuah kepentingan keluarga seperti pernikan, khitanan, kelahiran bayi, juga biasa dipentaskan untuk mengingatkan bulan Suro, dan untuk kampanye partai. Dijaman sekarang sebagian banyak penonton wayang sering menantikan adegan Limbukan daan Gara-gara daripada menyaksikan cerita wayang lebih detailnya sampai selesai, karena didalam Limbukan dan Gara-gara banyak terdapat lagu-lagu yang dinyanyikan Sinden dan banyolan atau lelucon yang dipertunjukan.
     Di jaman dulu pada saat adegan Limbukan dan Gara-gara Sinden menembangkan jineman, langgam-langgam karya Ki Narto Sabdo, dan gendhing-gendhing kuno lainnya, mungkin penonton juga menikmati lagu-lagu tersebut hingga berjalannya waktu saat ini lagu-lagu yang kuno menjadi lagu-lagu baru penciptanya pun juga sudah berbagai orang, yang sering di tembangkan pada saat Limbukan dan Gara-gara, biasanya sinden menembangkan lagu sesuai dengan permintaan penonton, kenapa begitu karena di jaman sekarang lebih mengutamakan apa yang disukai penonton supaya wayang tetap ditanggap oleh masyarakat.
     Limbukan dan Gara-gara wayangan pada jaman sekarang juga ada banyolan atau dagelan atau pelawak yang membuat suasana cair juga pastinya memancing penonton untuk menyaksikan acara wayangan tersebut, selain itu lagu-lagunya juga seru sekali atau biasa saya sebut “gayeng’’ disamping sinden berdiri dan menari juga lagu-lagunya banyak jenis yang bisa menggoyangkan badan seperti dangdutan dan sragenan. Jenis dangdutan biasanya terdapat lagu-lagu banyuwanginan dan juga sragenan biasanya ada kendangan yang khas dan itu memberi ide penggerong untuk senggakan.
     Definisi diatas dapat saya katakan karena saya ikut menyaksikan wayangan di Kecamatan Ngadirojo Wonogiri, saya mengamati penonton wayangan lebih banyak saat limbukan dimulai, mereka mengirim lagu kepada dhalang kemudian di nyanyikan oleh sinden agar memuaskan penonton, sinden sebagai perantara menyanyikan lagu yang diinginkan penonton.
Lalu apakah pertunjukan wayang hanya untuk kepuasan penonton pada adegan Limbukan dan Gara-gara saja, apakah para pelaku seniman pementasan wayang tidak ingin membuat penonton senang bila menyaksikan wayangan secara untuh melalui cerita-cerita yang dimainkan oleh dhalang, dan juga mengembangkan garap iringan-iringan pada saat wayangan bukan hanya adegan Limbukan dan Gara-gara saja sehingga penonton menyukai wayangan dari awal sampai wayangan selesai.
Gayengnya Limbukan dan Gara-gara pada wayangan juga bisa membuat penonton menari-nari sambil membawa minuman keras, jika terjadi hal-hal berikut kenapa pelaku seni tetap melakukan apa yang diminta penonton? Karena mungkin itu yang menjadi salah satu penikmat wayang ingin menanggapnya. Bahkan waktu wayangan sudah hampir habis untuk Limbukan dan Gara-gara hingga pagelaran wayang kulit sekarang sudah melenceng dari pakemnya, dan makna serta inti ceritanya sendiri sudah menjadi bias.
Mungkin juga ada benarnya bila pertunjukan wayang dilakukan sesuai pakem akan ditinggalkan penonton yang mayoritas penonton usia masih muda, yah itulah dunia wayang kulit saat ini. Apakah akan bertahan terus seperti ini? Harapan saya semoga ada generasi penerus yang masih muda mau peduli untuk mempertahankan kesenian ini seperti jaman dahulu.
     Sebenarnya banyak iringan-iringan baru pada wayangan tidak hanya di Limbukan dan Gara-gara saja tapi juga di awalan saat wayang akan dimulai, tapi mungkin masyarakat awam tidak paham dengan apa musik itu, jadi mereka sangat lebih menikmati Limbukan dan Gara-gara, karena lagunya lebih masyarakat kenal dengan mereka mengirim permintaan lagu kepada dhalang lalu di nyanyikan oleh sinden atau bahkan kadang-kadang peminta lagunya sendiri yang menyanyikan lagu yang ia ingini jadi mungkin disitu juga bisa menjadi alasan Limbukan dan Gara-gara lebih gayeng dari pada adegan wayang yang lainnya.
     Dandanan sinden yang sangat menggoda dan ia memberanikan diri untuk berdiri menyanyikan lagu yang ditunggu-tunggu penonton, juga terdapat percakapan yang lucu sehingga penonton tertawa mendengarnya, ada juga  sinden menarikan salah satu tarian gambyong, sebagai penghibur mereka berusaha melakukan apa yang diinginkan penonton agar para penonton dapat terhibur dan menyukai wayangan itu, dari iringan juga sindenan yang bagus juga bisa membawa anggapan dhalang bagi penikmat juga bagus.
     Jadi saat pertunjukan wayang dimulai penonton mulai banyak sampai beberapa jam kemudian diawal pertunjukan penonton masih bertahan hingga Limbukan dimulai penonton semakin banyak dan sangat antusias menontonnya, hingga meminta lagu, ikut bergoyang, ikut tertawa dengan lawakan-lawakan yang di pertunjukan oleh pelawak atau sinden dengan dalang, juga penonton ingin cepat-cepat pengrawit memulai menabuh gamelannya.
     Hingga Limbukan selesai dhalang melanjutkan kembali lakon wayang tersebut penonton banyak yang bubar hanya sedikit saja yang masih menunggu untuk menonton wayang, tapi begitu Gara-gara dimulai penonton kembali lagi untuk menonton acara tesebut. Seperti apa yang dilakukan saat Limbukan, dan begitu gara-gara selesai penonton kembali bubar dan yang tersisa kadang-kadang hanya pengrawit atau pengiring wayangnya saja.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar