Selasa, 29 November 2016

Karawitan : Bagai sebuah ‘embes’



Karawitan : Bagai sebuah ‘embes’

Predy tri handoko/ 13111116/ S. Karawitan/ 089634810068.

Orang jawa terutama yang tinggal di desa mungkin tidak asing dengan kata embes. Embes biasa ditemukan di area sekitar sungai-sungai pedesaan. Embes berasal dari bahasa jawa yang mempunyai arti ngrembes, yaitu keluar air. Air tersebut keluar dari tanah tanpa ada yang mengharapkan. Dari embes tersebut air terus bercucuran dengan tidak memikirkan apakah airnya di pakai atau tidak. Itulah embes, sebutan untuk para lulusan pendidikan formal sarjana seni karawitan saat ini.
Seni karawitan tidak diragukan lagi kepopuleranya di tengah-tengah masyarakat terutama Jawa Tengah. Karawitan dengan sebutan lain klenengan tersebut telah berhasil menembus atmosfer nasional maupun internasional. Hal tersebut berkat adanya pemikir-pemikir karawitan serta komposer karawitan yang berusaha membawa seni karawitan menembus pasar internasional. Berbagai daerah di luar Indonesia, sepeti Kamboja, Meksiko, Cina, dan lain-lain telah mengenal karawitan sebagai seni musik klasik yang menarik. Oleh sebab itu banyak orang asing berbondong-bondong ke Indonesia untuk mempelajari karawitan dan  dikembangkan di negaranya masing-masing. Dengan demikian semakin luas cakupan persebaran karawitan di luar habitatnya. Disamping itu adanya perguruan tinggi seni seperti ISI Surakarta sangat berperan penting dalam hal pengembangan dan persebaran karawitan di dunia kesenian.
Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta merupakan salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang program studinya khusus dalam bidang kesenian, baik seni pertunjukan ataupun seni rupa desain. Dalam seni pertunjukan setidaknya terdapat lima program studi yang di ampu, salah satunya seni karawitan. Apabila di bandingkan dengan perguruan tinggi  lain memang agak aneh, tapi nyatanya setidaknya ada empat perguruan tinggi ISI tersebar di Indonesia. Mendengar hal ini tentu sangat bagus serta membanggakan di Indonesia tersedia tempat pendidikan khusus untuk belajar serta mengembangkan bakat mengenai kesenian. Apalagi di era sekarang masih banyak anak muda yang mau menuntut ilmu kesenian di perguruan tinggi tersebut. Tak hanya sebatas menuntut ilmu, dengan menjadi mahasiswa ISI otomatis  juga sebagai pelestari budaya daerah, sehingga tidak mungkin budaya-budaya tersebut akan luntur khususnya karawitan. Tapi tidak menutup kemungkinan juga karawitan akan luntur peminatnya karena semakin menipisnya lapangan kerja dalam bidang karawitan.
Banyaknya lulusan sarjana karawitan yang di luluskan dari ISI Surakarta tentu makin menipisnya lapangan pekerjaan tetap dan layak yang tersedia dalam bidang karawitan. Setidaknya 30 sampai 50 sarjana karawitan yang diluluskan tiap tahunya (Data laporan lulusan Sarjana, Magister dan Doktor ISI Surakarta dalam kurun 5 tahun terakhir). Dari jumlah sekian  hanya beberapa yang melanjutkan ke jenjang S-2 ( Magister), sedangkan yang lain memilih untuk tidak lanjut dikarenakan beberapa faktor. Faktor terbesar merupakan biaya, sehingga mereka harus terpaksa untuk bekerja. Tak sampai disini, mereka juga masih berfikir mau kerja apa setelah lulus. Hal tersebut yang juga membuat kegalauan para mahasiswa karawitan yang masih mengasah bakat di jenjang S-1 karawitan ISI Surakarta.
Setelah lulus mau kerja apa? Jadi guru? Peluang yang ada adalah menjadi guru Wiyata  Bhakti (WB), itupun peluangnya sangatlah sedikit. Hal tersebut karena tidak mungkin setiap tahun ada pergantian ataupun penambahan guru dalam satu sekolahan. Sementara itu sekitar 50 an sarjana karawitan dicetak setiap tahunya. Alternatif lain adalah mengajar karawitan, dapat dibayangkan tidak setiap sekolahan mempunyai gamelan. Walaupun ada, pembelajaran yang terdapat dalam sekolah hanya menjadi jam extrakulikuler. Dengan demikian royalti yang didapat pun tidak tetap. Mungkin niatnya memang melestarikan budaya, tapi hidup di era sekarang tanpa uang mungkin dapat dikatakan seperti sayur tanpa garam. Jadi tak salah jika di era sekarang memilih kerja lebih mengedepankan royalti dibanding yang lainya.
Manggung merupakan peluang yang paling besar di dapat ketika semua tak lagi mengikat. Akan tetapi apakah dari memprioritaskan manggung kian kemari (yaga) dapat menjadi sumber kehidupan?, sebagian yang ikut dalang kondang mungkin iya. Tapi bagaimana jika tidak? karawitan di desa-desa  saat ini tidak perlu mengedepankan sarjana karawitan. Apalagi yang sedang populer di masyarakat adalah gending-gending sragenan. Tentu sarjana karawitan tersisihkan karena itu diluar siklus selama pembelajaran. Mereka lebih mengedepankan sragenan karena dipengaruhi ekonomi. Sehingga tidak perlu menghadirkan seniman-seniman berijazah S-1,  karena seniman awam lebih menguasai dalam hal itu. Selain itu manggung hanya mengandalkan nasib semata. Mereka tidak mendapatkan royalty tetap melainkan ketika ada job saja. Jadinya, tak sedikit para seniman karawitan yang ekonominya masih di bawah garis kemiskinan. Setelah itu, lantas bagaimana dengan ijazah S-1 yang di sandang ketika harus memprioritaskan manggung menjadi pekerjaanya. Sehingga muncul pikiran tak perlu menyandang sarjana jika akhirnya menjadi pelaku (yaga) karena dengan otodidak pun semua terlihat sama di panggung. Melihat fenomena demikian banyak sarjana karawitan yang mencoba jalan lain, seperti penjaga konter, sales, ataupun pengrajin gamelan. Hal demikian yang membuat miris ketika diketahuinya. Mereka terlalu jauh melewati garis sehingga embel-embel yang diasah selama empat tahun seperti tak berarti.
Hal-hal diatas perlu kiranya menjadi sorotan saat ini. Semakin banyak sarjana karawitan yang di luluskan oleh ISI Surakarta tiap tahun. Tetapi tidak melihat disisi lain setelah mereka lulus S-1 bekerja sebagai apa. Jadi tidak sekedar mencetak seniman-seniman berpendidikan, tapi juga sudah seharusnya memperhatikan bilamana sarjana-sarjana tersebut tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh karena itulah kenapa saat ini sarjana karawitan disebut sebagai embes seperti yang dijelaskan didepan. Menanggapi hal tersebut alangkah baiknya apabila dari intern menjalin hubungan kerjasama terhadap lembaga-lembaga atau badan yang sebidang sehingga nantinya dapat memberikan peluang kerja layak dan tetap bagi sarjana karawitan yang tidak melanjutkan ke jenjang diatasnya.  Dengan demikian kehidupan kedepan sarjana karawitan menjadi lebih terlihat. Disisi itu Ilmu karawitan serta ijazah yang telah di asah selama empat tahun kini menjadi kilauan bintang di malam hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar