Karawitan
: Bagai sebuah ‘embes’
Predy tri handoko/ 13111116/ S. Karawitan/ 089634810068.
Orang
jawa terutama yang tinggal di desa mungkin tidak asing dengan kata embes. Embes biasa ditemukan di area sekitar sungai-sungai pedesaan. Embes berasal dari bahasa jawa yang
mempunyai arti ngrembes, yaitu keluar
air. Air tersebut keluar dari tanah tanpa ada yang mengharapkan. Dari embes tersebut air terus bercucuran
dengan tidak memikirkan apakah airnya di pakai atau tidak. Itulah embes, sebutan untuk para lulusan
pendidikan formal sarjana seni karawitan saat ini.
Seni
karawitan tidak diragukan lagi kepopuleranya di tengah-tengah masyarakat
terutama Jawa Tengah. Karawitan dengan sebutan lain klenengan tersebut telah berhasil menembus atmosfer nasional maupun
internasional. Hal tersebut berkat adanya pemikir-pemikir karawitan serta
komposer karawitan yang berusaha membawa seni karawitan menembus pasar internasional.
Berbagai daerah di luar Indonesia, sepeti Kamboja, Meksiko, Cina, dan lain-lain
telah mengenal karawitan sebagai seni musik klasik yang menarik. Oleh sebab itu
banyak orang asing berbondong-bondong ke Indonesia untuk mempelajari karawitan dan
dikembangkan di negaranya masing-masing.
Dengan demikian semakin luas cakupan persebaran karawitan di luar habitatnya.
Disamping itu adanya perguruan tinggi seni seperti ISI Surakarta sangat
berperan penting dalam hal pengembangan dan persebaran karawitan di dunia
kesenian.
Institut
Seni Indonesia (ISI) Surakarta merupakan salah satu perguruan tinggi di Indonesia
yang program studinya khusus dalam bidang kesenian, baik seni pertunjukan
ataupun seni rupa desain. Dalam seni pertunjukan setidaknya terdapat lima
program studi yang di ampu, salah satunya seni karawitan. Apabila di bandingkan
dengan perguruan tinggi lain memang agak
aneh, tapi nyatanya setidaknya ada empat perguruan tinggi ISI tersebar di Indonesia.
Mendengar hal ini tentu sangat bagus serta membanggakan di Indonesia tersedia
tempat pendidikan khusus untuk belajar serta mengembangkan bakat mengenai
kesenian. Apalagi di era sekarang masih banyak anak muda yang mau menuntut ilmu
kesenian di perguruan tinggi tersebut. Tak hanya sebatas menuntut ilmu, dengan
menjadi mahasiswa ISI otomatis juga
sebagai pelestari budaya daerah, sehingga tidak mungkin budaya-budaya tersebut
akan luntur khususnya karawitan. Tapi tidak menutup kemungkinan juga karawitan
akan luntur peminatnya karena semakin menipisnya lapangan kerja dalam bidang
karawitan.
Banyaknya
lulusan sarjana karawitan yang di luluskan dari ISI Surakarta tentu makin
menipisnya lapangan pekerjaan tetap dan layak yang tersedia dalam bidang
karawitan. Setidaknya 30 sampai 50 sarjana karawitan yang diluluskan tiap
tahunya (Data laporan lulusan Sarjana, Magister dan Doktor ISI Surakarta dalam kurun
5 tahun terakhir). Dari jumlah sekian hanya beberapa yang melanjutkan ke jenjang S-2
( Magister), sedangkan yang lain memilih untuk tidak lanjut dikarenakan
beberapa faktor. Faktor terbesar merupakan biaya, sehingga mereka harus
terpaksa untuk bekerja. Tak sampai disini, mereka juga masih berfikir mau kerja
apa setelah lulus. Hal tersebut yang juga membuat kegalauan para mahasiswa
karawitan yang masih mengasah bakat di jenjang S-1 karawitan ISI Surakarta.
Setelah
lulus mau kerja apa? Jadi guru? Peluang yang ada adalah menjadi guru Wiyata Bhakti (WB), itupun peluangnya sangatlah
sedikit. Hal tersebut karena tidak mungkin setiap tahun ada pergantian ataupun
penambahan guru dalam satu sekolahan. Sementara itu sekitar 50 an sarjana
karawitan dicetak setiap tahunya. Alternatif lain adalah mengajar karawitan,
dapat dibayangkan tidak setiap sekolahan mempunyai gamelan. Walaupun ada,
pembelajaran yang terdapat dalam sekolah hanya menjadi jam extrakulikuler.
Dengan demikian royalti yang didapat pun tidak tetap. Mungkin niatnya memang
melestarikan budaya, tapi hidup di era sekarang tanpa uang mungkin dapat
dikatakan seperti sayur tanpa garam. Jadi tak salah jika di era sekarang
memilih kerja lebih mengedepankan royalti dibanding yang lainya.
Manggung merupakan
peluang yang paling besar di dapat ketika semua tak lagi mengikat. Akan tetapi
apakah dari memprioritaskan manggung
kian kemari (yaga) dapat menjadi
sumber kehidupan?, sebagian yang ikut dalang kondang mungkin iya. Tapi bagaimana
jika tidak? karawitan di desa-desa saat
ini tidak perlu mengedepankan sarjana karawitan. Apalagi yang sedang populer di
masyarakat adalah gending-gending sragenan.
Tentu sarjana karawitan tersisihkan karena itu diluar siklus selama
pembelajaran. Mereka lebih mengedepankan sragenan
karena dipengaruhi ekonomi. Sehingga tidak perlu menghadirkan seniman-seniman
berijazah S-1, karena seniman awam lebih
menguasai dalam hal itu. Selain itu manggung
hanya mengandalkan nasib semata. Mereka tidak mendapatkan royalty tetap
melainkan ketika ada job saja. Jadinya, tak sedikit para seniman karawitan yang
ekonominya masih di bawah garis kemiskinan. Setelah itu, lantas bagaimana
dengan ijazah S-1 yang di sandang ketika harus memprioritaskan manggung menjadi pekerjaanya. Sehingga
muncul pikiran tak perlu menyandang sarjana jika akhirnya menjadi pelaku (yaga) karena dengan otodidak pun semua
terlihat sama di panggung. Melihat fenomena demikian banyak sarjana karawitan
yang mencoba jalan lain, seperti penjaga konter, sales, ataupun pengrajin
gamelan. Hal demikian yang membuat miris ketika diketahuinya. Mereka terlalu
jauh melewati garis sehingga embel-embel yang
diasah selama empat tahun seperti tak berarti.
Hal-hal
diatas perlu kiranya menjadi sorotan saat ini. Semakin banyak sarjana karawitan
yang di luluskan oleh ISI Surakarta tiap tahun. Tetapi tidak melihat disisi
lain setelah mereka lulus S-1 bekerja sebagai apa. Jadi tidak sekedar mencetak
seniman-seniman berpendidikan, tapi juga sudah seharusnya memperhatikan
bilamana sarjana-sarjana tersebut tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan
selanjutnya. Oleh karena itulah kenapa saat ini sarjana karawitan disebut sebagai
embes seperti yang dijelaskan
didepan. Menanggapi hal tersebut alangkah baiknya apabila dari intern menjalin hubungan
kerjasama terhadap lembaga-lembaga atau badan yang sebidang sehingga nantinya
dapat memberikan peluang kerja layak dan tetap bagi sarjana karawitan yang
tidak melanjutkan ke jenjang diatasnya.
Dengan demikian kehidupan kedepan sarjana karawitan menjadi lebih
terlihat. Disisi itu Ilmu karawitan serta ijazah yang telah di asah selama
empat tahun kini menjadi kilauan bintang di malam hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar