EFEK CAMPURSARI
TERHADAP PERKEMBAN GAN MUSIK TRADISI
Nama: Panji Probo Asmoro
NIM : 13111135
Mengembangkan
musik tradisi memang tidak selamanya harus menggunakan media gamelan tradisional. Banyak
upaya melestarikan musik peninggalan nenek moyang dengan memadukannya dengan
alat musik modern. Pada masyarakat jawa perpaduan ini biasa disebut dengan
musik campursari. Jenis musik ini dianggap satu-satunya
produk asli budaya Gunung Kidul karena awalnya jenis musik ini terlahir di
daerah Gunung Kidul dan diciptakan oleh penduduk asli Gunung Kidul (Jogjakarta).
Kekuatan
campursari, yakni kebebasan berekspresi di dalamnya. Kebebasan itu tidak dapat
diperoleh dari pertunjukkan seni tradisional semacam wayang kulit atau
klenengan. Kebebasan berekspresi itu menyangkut cara membawakan lagu yang
begitu pasif dan polos pada sajian wayang kulit atau klenengan, sedangkan pada
musik campursari seorang penyanyi bisa membawakan lagu dengan berdiri sambil
bergoyang-goyang. Musik Campursari sendiri merupakan cerminan kekuatan untuk
tetap bertahan atau menunjukkan eksistensinya, dapat kita lihat bahwa musik ini
merupakan musik tradisional yang kemudian melakukan inovasi dengan mencampurkan
unsur-unsur musik tradisional dengan unsur musik modern.
Perkembangan
musik campursari ada segi positif dan negatif untuk perkembangan musik tradisi
masa kini. Segi positif dengan adanya campursari kita lebih bebas dan lebih
leluasa untuk berekspresi tanpa terbayang-bayang dengan aturan keraton, yang
notabenya harus wingit dalam pementasan. Dilihat dari segi peralatan juga lebih
simple, dan tidak membutuhkan personil yang banyak seperti halnya klenengan.
Camprsari juga sangat dekat dengan masyarakat khususnya kalangan menengah
kebawah, karena memang tidak ada jarak antara seniman dengan penikmnat seni.
Segi negatif dari campursari terhadap perkembangan tradisi yaitu akan
mempengaruhi rasa gending tradisi yang memang sudah didesain oleh para empu
karawitan terdahulu, yang sangat nampak pengaruhnya yaitu pada ricikan kendang.
Biasanya pengendang yang biasa menyajikan lagu-lagu campursari ketika dia
menyajikan klenengan gending-gending tradisi
maka pola kendangan atau wiledannya akan terasa beda dengan pengendang
yang memang mendalami gending tradisi.
Dengan
adanya campursari kini kedudukan musik tradisi kalah populer di telinga
masyarakat, karena campursari memang merupakan komposisi musik yang didesain
sebagai musik rakyat yang notabenya tidak ada jarak antara seniman dengan
penikmat seni, dari segi bahasapun mudah dipahami dan umumnya bahasa yang
digunakan dalam musik campursari adalah bahasa sehari-hari yang lugas apa
adanya, tanpa memperhatikan unsur sastra didalamnya. Tanpa kita pungkiri
perkembangan seni tradisi saat ini telah tercampur atau terkontaminasi dengan
adanya musik campursari. Bahkan hampir rata-rata pertunjukan yang notabenya
menggunakan instrument gamelan, kini mau tidak mau harus menyajikan lagu-lagu
campursari. Bahkan didaerah pesisir selatan seperti di daerah Cilacap sekitar,
pertunjukan wayang kulit harus menggunakan instrument orgen dan bas sebagai
alat pelengkap untuk menyajikan lagu-lagu campursari. Ironisnya ketika seorang
dalang menyajikan suatu pertunjukan wayang kulit tidak menggunakan alat berup
orgen, dia merasa tidak percaya diri dan biasanya akan mendapat komplain dari
penikmat seni.
Sebenarnya
Inovasi ini semata-mata bukan hanya untuk menarik minat pendengar dan untuk
menguntungkan si seniman namun inovasi ini merupakan wujud usaha musik
Campursari untuk tidak kalah dalam persaingan dengan musik-musik pendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar