Rabu, 30 November 2016

DALANG ATAU PENGRAWIT ?



DALANG ATAU PENGRAWIT ?

Nama   : Sonya Tanta Okmida
NIM    : 13111162
Jurusan: Seni Karawitan
No. Hp : 08562532855



Malam itu kota karanganyar nampak ramai sekali, banyak orang berjualan diarea sekitar alun-alun kota karanganyar. Banyak anak muda dan orang tua berbondong- bondong ingin melihat wayangan yang diselenggarakan ole bupati karanganyar di alun–alun kota. Yang menjadi heran adalah ketika anak muda jaman sekarang yang biasanya hanya ingin menonton film dan bermain saja kini mulai menikmati pertunjukan wayang pada malam itu.
Saat itu yang menjadi dalang adalah Ki Purbo, yang menjadi ganjil di pemikiran saya adalah apakah masyarakat hanya ingin menonton dalang memainkan wayang atau menonton para penggamel yang mengiringi wayang tersebut ? sesuatu yang kadang sudah biasa dipemikiran setiap orang adalah pasti hanya ingin melihat dalang memainkan wayang, lalu apakah ada yang memperhatikan para pengrawit yang mengiringi dalang dalam memainkan wayangnya. Para pengrawit yang memukul gamelan semalem suntuk tidak pernah ada yang meperhatikan, apakah karena sikap para pengrawit yang kadang tidak serius dalam menabuh sehingga mereka tidak pernah diperhatikan secara mendetail oleh para masyarakat.
Ketika para pengrawit yang nabuh semalam suntuk hanya mendapatkan bayaran seratus dua ratus masih kalah dengan bayaran seorang dalang yang “mengoceh” semalam suntuk hingga berjuta juta ? “ya itu wes pantese lah, kan dalang ki yo mikir naskah, nek salah diguyu wong akeh, lha nek pengrawit salah bener ora ono sing ngerti” itu salah satu ujar seorang dalang ketika saya menyakan pertanyaan tersebut. Heran bukan main ketika seorang dalang mengatakan hal seperti itu, apakah hanya seorang dalang yang hanya berfikir tentang naskah dan lain sebagainya, apakah para pengrawit juga tidak notasi dan hal lainnya juga ? entahlah yang mana yang benar.
Saat para pengrawit merubah sikap dan caranya dalam menabuh karawitan apakah akan berbeda hasilnya nanti, dalang mendapatkan bayaran yang lebih besar karena diperhatikan oleh para penontonnya, akankah para pengrait mendapat bayaran yang besar pula ketika para pengrawit diperhatikan oleh para penonton ? mungkin bisa jadi seperti itu. Ketika para pengrawit “py” mengiringi wayangan akan berbedaa bayaran ketika para pengrawit “py” dalam panghargyan manten, karena ternyata lebih besar ketika para pengrawit melakukan “py” panghargyan manten. Acara panghargyan manten yang hanya akan berlangsung 5-7 jam mendapatkan bayaran yang cukup lumayan dibandingkan dengan “py” wayangan. apakah mungkin karena ada beberapa faktor yang membedakan bayaran itu sendiri, mungkin sikap para pengrawitnya. Entahlah yang pasti para pengrawit dimata seorang dalan ternyata tidak ada artinya. Mereka memainkan karawitan masih belum sejajar dengan dalang yang memainkan wayang semalam suntuk. 

Selasa, 29 November 2016

Perkembangan Karawitan




                                               
Perkembangan Karawitan

Nama   : Didik setiono
NIM    : 13111127


Karawitan berasal dari bahasa jawa yaitu rawit, yang mempunyai arti rumit, halus, dan indah. Karawitan khususnya di pakai untuk mengacu pada genre musik gamelan jawa yang berlaras slendro dan pelog. Dalam Karawitan biasanya terdapat pementasan gending dengan menggunakan gamelan ageng baik vokal maupun instrumental yang biasa disebut dengan klenengan. Dahulu Klenengan hanya berkembang pada tembok kraton saja dan disajikan oleh para abdidalem kraton sebagai hiburan dan upacara adat, abdidalem yang terkenal pada masa itu R.L Matropangrawit dan Mloyowidodo.
Pada tanggal 27 bulan agustus tahun 1950  konservatori didirikan, dengan pertimbangan agar seni budaya karawitan dapat berkembang. Kemudian pada tanggal 15 Juli 1964 ASKI (Akademik Seni Karawitan Indonesia) didirikan dengan tujuan untuk mengembangkan seni tradisonal karena melihat kota surakarta sebagai kota budaya dan memiliki potensi tinggi untuk mengembangkan seni tradisi. Dengan adanya perguruan tinggi ini adalah sebagai penjembatan antara karawitan yang dulunya hanya berkembang pada tembok kraton saja menjadi karawitan yang berkembang pada masyarakat umum.
Selain itu banyak seniman yang bermunculan dari berbagai daerah antara lain adalah Ki NartoSabdo seniman dari klaten ini, adalah pemimpin sekaligus pendiri paguyuban wayang orang ngesti pandawa, sekaligus pengendhang wayang tobong yang banyak membuat gubahan komposisi gending-gending baru antara lain ketawang pamuji, ladrang pujimaya, dll. Ki Cokrowarsito seorang abdidalem dikraton Yogyakarta juga seorang komposer yang banyak membuat karya komposisi gamelan yang merakyat sperti Kuwi Opo Kuwi, Gugur Gunung, Penghijauan, dll. Dengan adanyan ke dua latar belakang tersebut dapat disimpulkan bahwa klenengan yang pada jaman dahulu dipakai sebagai upacara adat kerajan dan hanya ditabuh oleh para abdidalem, namun sekarang klenengan dapat dipakai sebagai hiburan untuk iringian pada acara hajatan pernikahan, khitanan, dll yang berhubugan dengan seni tradisi.
Menurut pendapat Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S. Kar., M.S, tentang bergesernya klenengan gaya kraton menjadi gaya pesisiran disebabkan karena adanya perubahan sosial yaitu perubahan selera pada masyarakat. Masyarakat pada masa sekarang ini sangat dipengaruhi oleh kapitalisme (sistem perekonomian dimana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh swasta)[1]. Kapitalisme ini membawa efek kecenderungan orang mejadi konsumtif (konsumif/konsumsi: hanya memakai, tidak menghasilkan)[2]. Dalam hal ini yang dipentingkan oleh orang sekarang adalah kesenangan, kalau untuk mendengarkan gendhing kraton harus menjiwai jadi perlu mengorbankan rasa untuk bisa menghayati klenengan kraton. Orang jaman sekarang cenderung hidunisme (mencari kepuasan sesaat) karena terpengaruh oleh kapitalisasi dan globalisasi.
Pendapat saya tentang hal tersebut adalah orang-orang zaman sekarang kesanya menginginkan sesuatu itu yang praktis mendengarkan gendhing juga yang berkesan gayeng atau rame. Contohnya seseorang yang lelah setelah pulang bekerja seharian ingin mendengarkan musik yang ringan-ringan seperti musik-musik gaya sragenan, bila untuk mendengarkan gending kraton rata-rata berat karena dalam menghayatinya harus menjiwai, dalam menjiwai perlu mengorbankan rasa jadi orang belum mendengarkan, tapi membayangkanya saja sudah malas. Dari fenomena-fenomena diatas saya dapat menyimpulkan bahwa gending-gending klenengan yang semula bergaya kraton bergeser menjadi bukan bergaya kraton lagi karena dipengaruhi oleh pengaruh sosial dan konsumtif masyarakat.
Dari sisi keuntungan semakin luas anggota masyarakat yang dapat mendengarkan, dapat menonton, dapat menghayati gending-gending yang ringan dan dari sisi jumlah semakin luas, tetapi dari sisi kualitas rugi karena orang-orang yang bisa menghayati gending-gending tradisi gaya kraton semakin sedikit. Bukti dari pernyataan tersebut yaitu, hanya sedikit saja kelompok karawitan yang berorientasi pada garap-garap kraton, contohnya klompok klenengan pujangga laras masih mempertahankan garap kraton karena rata-rata para pengrawitnya yaitu abdidalam kraton.



[1] https:/id.m.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme
[2] KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

PROSES UJIAN PEMBAWAAN





PROSES UJIAN PEMBAWAAN

Nama   : Singgih Pramusinto
NIM    : 13111136
Prodi   : Seni Karawitan


Sri Hastanto dalam bukunya “Konsep Pathet Dalam Karawitan Jawa” menyebutkan, bentuk gending dalam dunia karawitan Surakarta digolongkan menjadi dua golongan, yaitu golongan gending alit dan gending gede. Gending-gending yang tergolong dalam gending alit yaitu lancaran, ketawang, ladrang dan sebagainya, sedangkan gending-gending yang tergolong dalam gending gede yaitu gending kethuk 2 kerep, kethuk 4 kerep dan sebagainya. Saat ini keberadaan gending-gending yang berukuran gede jarang disajikan di tarup karena membutuhkan durasi yang cukup panjang yang mengakibatkan pengrawit menjadi jenuh. Karena kejenuhan tersebut menyebabkan banyak pengrawit yang belum faham dan tidak sedikit juga pengrawit yang kurang mampu untuk menyajikan gending gede tersebut.
Saat ujian pembawaan dan tugas akhir (TA) ISI Surakarta, mahasiswa dituntut untuk menyajikan gending-gending gede, karena mahasiswa ISI Surakarta merupakan seniman yang akademis yang diwajibkan untuk melestarikan kesenian tradisi. Ujian pembawaan seni karawitan dilaksanakan dengan syarak sudah menempuh semester IV dan sudah membantu ujian pembawaan sebelumnya. Ujian pembawaan berbeda dengan ujian-ujian lainnya, karena nilai ujian pembawaan akan berpengaruh kepada pilihan jalur tugas akhir. Jika nilai tidak mencukupi untuk memilih jalur yang di ingginkan maka seorang penyaji harus memilih jalur lainnya yang nilainya mencukupi sebagai syarat ujian tersebut, bahkan tak jarang mahasiswa mengulang ujian pembawaan untuk memperbaiki nilai yang diperoleh agar bisa memilih jalur tugas akhir yang di inginkan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan maka seorang penyaji ujian pembawaan diharapkan mendapatkan hasil yang maksimal.
Untuk menghasilkan sajian yang maksimal maka sebelum dilaksanakan ujian pembawaan dari jurusan karawitan diwajibkan kepada setiap penyaji untuk memilih kelompok, memilih gending yang akan disajikan, melakukan penataran, ujian kelayakan dan latihan wajib. Penentuan diwajibkan minimal untuk menyerambah semua gending yang dipilih. Tidak semua penyaji mempunyai kelompok, dan tidak semua kelompok utuh bisa lulus dari ujian penentuan. Penyaji yang lulus dari ujian kelayakan belum bisa dikatakan sudah menguasai semua gending yang dipilihnya, karena ujian kelayakan hanya meloloskan yang layak untuk maju ujian pembawaan bukan yang menguasai semua gending yang dipilih, hal itu terbukti setelah ujian penentuan masih banyak pula penyaji yang masih melakukan proses penataran lagi. Kepada penyaji yang tidak lulus ujian penentuan maka dianggap gagal untuk maju ujian pembawaan dan harus mengulang semester selanjutnya.
Dalam jadwal yang dibuat oleh jurusan karawitan, untuk pelaksanaan proses latihan wajib dilaksanakan enam hari dalam seminggu dan latihan didampingi oleh seorang dosen pembimbing, akan tetapi banyak proses-proses latihan yang tidak bisa terlaksana yang disebabkan banyak pendukung atau penyaji yang tidak bisa pda hari itu.
Ujian pembawaan yang disajikan oleh saudara M. Faisal Gatot Wibowo melibatkan banyak pendukung untuk mendukung jalannya sajian gending tersebut. Karena M. Faisal Gatot Wibowo tidak mempuyai kelompok dan penyaji menyajikan ricikan kendhang, maka penyaji tersebut harus memilih pendukung rebab, sindhen, dan gendher yang dianggap mumpuni pada ricikan tersebut. Latihan pembawaan dilaksanakan sekitar 2-3 jam yang disela-sela itu ada jeda waktu yang digunakan untuk istirahat, makan, minum dan merokok. Oleh sebab itu seorang penyaji harus bersiap-siap terkuras sakunya untuk membelikan makan, minum dan rokok yang disiapkan untuk para pendukungnya. Karena pendukung juga banyak yang berangkat latihan hanya karena mengharapkan imbalan-imbalan tersebut. Jarang pendukung bisa datang tepat watu, sering kali latihan molor dari waktu yang ditentukan hanya karena menunggu pendukung komplit. Jarang juga pendukung proses latihan bisa komplit, banyak pendukung yang sering tidak berangkat latihan tanpa alasan tertentu yang tak lain juga termasuk ricikan rebab, sindhen dan gendher. Hal tersebut menyebabkan kurang maksimalnya proses latihan tersebut karena banyak instrumen yang tidak disajikan. Dalam proses latihan juga banyak canda tawa yang kurang tepat pada tempatnya seperti berbicara dan tertawa sendiri-sendiri saat gending disajikan, dan lain sebagainya. Pada waktu latihan ricikan kendhang juga sering tidak berjalan dengan lancar karena karena penempatan sekaran yang tidak tepat pada tempatnya dan bahkan tidak jarang juga sampai berhenti mendadak, hal ini disebabkan karena penyaji kendhang belum benar-benar hafal skema kendhangan gending yang di sajikan.
Terkadang ada perselisihan balungan dan garap antara dosen penatar dan dosen pembimbing, akan tetapi karena yang bertanggung jawab tentang garap adalah dosen pembimbing maka penyaji memilih untuk mengikuti garap yang disampaikan oleh dosen pembimbing.

PEMBAWAAN “HANTU” MAHASISWA JURUSAN KARAWITAN


Nama     :  Tri Wahyudi

Malam itu tanggal 25 Oktober 2016, suara alunan gamelan terdengar begitu indahnya di dalam Gedung Teater Kecil yang merupakan salah satu gedung pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Indahnya alunan musik Jawa itu seakan mampu menghipnotis siapa saja yang mendengarnya, bagaikan musik penghantar tidur yang akan membawa ke alam mimpi. Malam itu merupakan malam gladi bersih bagi mahasiswa-mahasiswi jurusan karawitan yang sedang menempuh ujian pembawaan. Gladi bersih dilakukan malam sebelum hari pementasan ujian yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2016 esok hari. Pembawaan adalah syarat yang wajib ditempuh mahasiswa Jurusan Karawitan guna memenuhi persyaratan tugas akhir. Bagi sebagian mahasiswa bahkan hampir semuanya, pembawaan merupakan suatu hal yang paling menakutkan bagaikan ‘’hantu’’ yang selalu mengusik ketenangan. Berbagai ketentuan dan persyaratan yang harus dipenuhi barangkali yang membuat ujian ini bagaikan suatu momok yang begitu menakutkan dan mengerikan.
Untuk dapat melalui ujian ini para mahasiswa harus menempuh beberapa tahap dan proses yang sangat melelahkan. Perjuangan keras, doa dan ikhtiar harus senantiasa dilakukan karena untuk bisa maju menjalani ujian pembawaan ada syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu mahasiswa harus lulus mata kuliah tabuh bersama satu sampai dengan empat. Selain itu kesiapan mental, skill dan materiil juga menjadi syarat utama untuk bisa menjalani ujian pembawaan ini. Biasanya ujian pembawaan dilaksanakan secara berkelompok yang terdiri dari empat mahasiswa, dengan menyajikam empat ricikan pokok dari seperangkat instrumen gamelan yang nantinya akan dinilai dalam ujian pembawaan yaitu rebab, kendang, gender, serta vokal sinden. Masing-masing mahasiswa wajib memilih dan menyajikan salah satu dari ricikan pokok tersebut sesuai dengan kemampuan masing-masing. Untuk materi yang akan disajikan terdapat 6 jenis gendhing yang telah ditentukan oleh para dosen penguji yang harus dipilih oleh setiap kelompok yang nantinya akan diambil 2 gendhing yang diundi secara acak pada waktu ujian berlangsung dengan syarat hafal materi tanpa adanya notasi. Proses pengundian inilah yang membuat ketakutan yang teramat sangat bagi para mahasiswa bagaikan hantu yang muncul secara tiba-tiba. Ketegangan dan wajah pucat pasti selalu nampak begitu jelas di wajah para mahasiswa penyaji. Tak jarang dari beberapa mahasiswa melakukan beberapa kesalahan akibat dari rasa tegang yang berlebihan.  
Materi-materi yang disediakan oleh para dosen Jurusan Karawitan sendiri antara lain adalah Sinom Gendhing kethuk 4 kerep minggah 4 Laras Pelog pathet Barang, Sembawa Gendhing kethuk 2 kerep minggah Ladrang Tedhak Saking kalajengaken Ketawang Girisa Laras Pelog Pathet lima, Kabor Ketawang Gendhing Kethuk 2 kerep Minggah Ladrang. Sekar Lesah Laras Slendro Pathet Nem, Gendreh Gendhing. Kethuk. 4 Kerep Minggah 8 Laras Slendro Pathet Manyura, Lipur Erang-erang Gendhing. Kethuk 2 Kerep Minggah 4 Kalajengaken Ladrang  Tirta Kencana Laras Pelog Pathet Nem, Jineman Uler Kambang Dhawah Bandelori Gendhing Kethuk 2 Kerep Minggah Ladrang Eling-eling Kasmaran Kalajengaken Ketawang  Dhandanggula Tlutur Laras Slendro Pathet Sanga. Dari enam jenis gendhing tersebut sudah mempunyai bentuk dan Pathet yang berbeda. Penghafalan jelas sangat dituntut dalam ujian pembawaan ini untuk mendapat nilai yang baik nantinya, karena itu sebelum pementasan dilaksanakan dilakukan ujian penentuan yang dilakukan untuk menentukan siapa saja mahasiswa yang akan lolos ke tahap berikutnya yaitu proses latihan bersama dosen pembimbing  selama kurang lebih 4 minggu untuk penghafalan dan pemantapan materi. Dalam proses latian pembawaaan ini melibatkan para mahasiswa dari semester satu sampai dengan tujuh untuk mendukung tiap-tiap kelompok sampai dengan waktu pelaksanaan ujian nantinya. Semua mahasiswa dilibatkan tidak terkecuali para mahasiswi. Hal ini merupakan indikasi bahwa kualitas perempuan tidak jauh dibedakan dengan laki-laki dalam hal menabuh gamelan. Pelibatan semua mahasiswa ini menurut saya sangatlah baik dimana pada proses ini akan mampu memberikan pengalaman bagi mahasiswa-mahasiswa lain yang nantinya juga akan menjalani ujian pembawaan, selain itu proses ini sangatlah bermanfaat sebagai media pengenalan bentuk-bentuk gendhing Gaya Surakarta terutama bagi mahasiswa semester baru.

 Dalam proses latihan ujian pembawaan membutuhkan kerja sama yang baik antara pendukung dan penyaji untuk menghasilkan sajian yang maksimal sesuai dengan harapan dan standar penilaian. Tetapi pada prakteknya sangat disayangkan kerja sama tersebut kurang mampu terjalin dengan baik, karena masih banyaknya para pendukung yang sering bermalas-malasan untuk datang pada proses latihan. Kurangnya kesadaran ini tentu sangatlah merugikan karena banyaknya instrumen yang tidak terisi sehingga dapat menganggu jalinan lagu antar instrumen karena pada dasarnya karawitan adalah sebuah konser musik dengan jalinan komunikasi antar instrumen yang kuat. Disisi lain dengan tidak lengkapnya instrumen yang ditabuh akan dapat mengurangi keindahan sajian musikal. Sebagai seorang pecinta karawitan saya sangat mengharapkan hal ini dapat segera dibenahi untuk proses kedepannya dan ujian pembawaan bukanlah menjadi hal yang perlu ditakuti lagi oleh mahasiswa khususnya Jurusan Karawitan.
            .


EFEK CAMPURSARI TERHADAP PERKEMBAN GAN MUSIK TRADISI



EFEK CAMPURSARI TERHADAP PERKEMBAN GAN MUSIK TRADISI

Nama: Panji Probo Asmoro
NIM  : 13111135


Mengembangkan musik tradisi memang tidak selamanya harus menggunakan media gamelan tradisional. Banyak upaya melestarikan musik peninggalan nenek moyang dengan memadukannya dengan alat musik modern. Pada masyarakat jawa perpaduan ini biasa disebut dengan musik campursari. Jenis musik ini dianggap satu-satunya produk asli budaya Gunung Kidul karena awalnya jenis musik ini terlahir di daerah Gunung Kidul dan diciptakan oleh penduduk asli Gunung Kidul (Jogjakarta).
Kekuatan campursari, yakni kebebasan berekspresi di dalamnya. Kebebasan itu tidak dapat diperoleh dari pertunjukkan seni tradisional semacam wayang kulit atau klenengan. Kebebasan berekspresi itu menyangkut cara membawakan lagu yang begitu pasif dan polos pada sajian wayang kulit atau klenengan, sedangkan pada musik campursari seorang penyanyi bisa membawakan lagu dengan berdiri sambil bergoyang-goyang. Musik Campursari sendiri merupakan cerminan kekuatan untuk tetap bertahan atau menunjukkan eksistensinya, dapat kita lihat bahwa musik ini merupakan musik tradisional yang kemudian melakukan inovasi dengan mencampurkan unsur-unsur musik tradisional dengan unsur musik modern.
Perkembangan musik campursari ada segi positif dan negatif untuk perkembangan musik tradisi masa kini. Segi positif dengan adanya campursari kita lebih bebas dan lebih leluasa untuk berekspresi tanpa terbayang-bayang dengan aturan keraton, yang notabenya harus wingit dalam pementasan. Dilihat dari segi peralatan juga lebih simple, dan tidak membutuhkan personil yang banyak seperti halnya klenengan. Camprsari juga sangat dekat dengan masyarakat khususnya kalangan menengah kebawah, karena memang tidak ada jarak antara seniman dengan penikmnat seni. Segi negatif dari campursari terhadap perkembangan tradisi yaitu akan mempengaruhi rasa gending tradisi yang memang sudah didesain oleh para empu karawitan terdahulu, yang sangat nampak pengaruhnya yaitu pada ricikan kendang. Biasanya pengendang yang biasa menyajikan lagu-lagu campursari ketika dia menyajikan klenengan gending-gending tradisi  maka pola kendangan atau wiledannya akan terasa beda dengan pengendang yang memang mendalami gending tradisi.
Dengan adanya campursari kini kedudukan musik tradisi kalah populer di telinga masyarakat, karena campursari memang merupakan komposisi musik yang didesain sebagai musik rakyat yang notabenya tidak ada jarak antara seniman dengan penikmat seni, dari segi bahasapun mudah dipahami dan umumnya bahasa yang digunakan dalam musik campursari adalah bahasa sehari-hari yang lugas apa adanya, tanpa memperhatikan unsur sastra didalamnya. Tanpa kita pungkiri perkembangan seni tradisi saat ini telah tercampur atau terkontaminasi dengan adanya musik campursari. Bahkan hampir rata-rata pertunjukan yang notabenya menggunakan instrument gamelan, kini mau tidak mau harus menyajikan lagu-lagu campursari. Bahkan didaerah pesisir selatan seperti di daerah Cilacap sekitar, pertunjukan wayang kulit harus menggunakan instrument orgen dan bas sebagai alat pelengkap untuk menyajikan lagu-lagu campursari. Ironisnya ketika seorang dalang menyajikan suatu pertunjukan wayang kulit tidak menggunakan alat berup orgen, dia merasa tidak percaya diri dan biasanya akan mendapat komplain dari penikmat seni.  
Sebenarnya Inovasi ini semata-mata bukan hanya untuk menarik minat pendengar dan untuk menguntungkan si seniman namun inovasi ini merupakan wujud usaha musik Campursari untuk tidak kalah dalam persaingan dengan musik-musik pendatang.




Karawitan Modern Yang Merajalela

Nama               : Nanang Dwi Purnama
Nim                 : 13111139
Jurusan            : Seni Karawitan
INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA


            Karawitan di jaman dahulu sangat berpedoman pada karawitan yang terdapat di Kraton, Lembaga pendidikan bidang seni. Berbagai nilai estetik sangat dipertimbangkan untuk menyajikan gendhing-gendhing tradisi. Dengan adanya  kelompok karawitan yang ada di lingkup kraton dan di lembag pendidikan di bidang seni tersebut telah menciptakan tokoh-tokoh karawitan yang hebat. Diantaranya Marta Pangrawit, Mloyo Widodo, dan lainnya. Gendhing-gendhing kethuk 2 kerep, gendhing-gendhing kethuk 4 kerep di kehidupan karawitan di masa lampau masih banyak disajikan. Akan tetapi berbeda dengan kehidupan karawitan di masa sekarang ini.
            Pelaku seni karawitan (pengrawit) pada beberapa tahun terakhir ini kehilangan kesadaran atas penyajian gendhing-gendhing tradisi. Pada awalnya, seniman karawitan sangat menikmati gendhing-gendhing tradisi. Akan tetapi dengan munculnya trobosan-trobosan musik baru yang khususnya terdapat di lingkungan kampus mempengaruhi perkembangan karawitan di daerah-daerah. Pada awalnya di lingkup kampus ISI Surakarta jenis musik-musik pembaruan biasanya disajikan dalam musik tari, musik wayang kulit. Dengan adanya lulusan Sarjana Karawitan yang berdomisili di daerah-daerah, musik jenis pembaruan tersebut mulai tersebar.
            Munculnya musik pembaharuan di masa sekarang ini sangat menarik perhatian khusus dari seniman tradisi (pengrawit kraton, dosen-dosen ISI Surakarta, pengrawit senior). Ada salah satu tokoh seniman yang ada di kampus ISI Surakarta membahas persoalan ini di media masa, dengan pokok pembahasan sajian klenengan yng dilakukan sebelum pagelaran wayang kulit. Untuk di masa sekarang ini, waktu sebelum pagelaran wayang kulit dimulai digunakan untuk penyajian jenis-jenis musik pembaruan tersebut. Dengan alasan untuk memenuhi kepuasan penonton, dan juga senimannya itu sendiri. Hal tersebut sangat disayangakan dikarenakan begitu dangkal pola pikiran seniman sekarang ini. Memang untuk memenuhi kepuasan konsumen sangat penting, karena sumber penghasilan seniman karawitan pada umumnya dari honor pentas di daerah-daerah. Hal tersebut yang mendorong seniman-seniman karawitan di jaman sekarang ini untuk lebih bisa mengusai jenis-jenis musik pembaharuan tersebut. Bahkan ada seorang dalang yang dalam sajian pagelaran wayang kulit semalam suntuk hampir tidak menyajikan gendhing-gendhing tradisi. Musik yang disajikan semuanya adalah musik komposisi.
Kreatif
            Suatu proses untuk menemukan gagasan-gagasan baru untuk menyelesaikan atau mengatasi suatu hal bisa disebut kreatif. Kreatif dalam hel tersebut berkaitan dengan adanya musik-musik pembaharuan yang difungsikan untuk keperluan yang biasanya dulu dilakukan dengan menggunakan musik tradisi. Sebagai contoh, munculnya lagu Nusantara diciptakan oleh Dedek Wahyudi (pegawai ISI Surakarta). Lagu tersebut pada awalnya digunakan untuk musik non klenengan, akan tetapi dengan adanya kretifitas pelaku seni di masa sekarang ini lagu tersebut biasa disajikan sebagai musik klenengan di pagelaran sebelum wayang kulit dimulai. Hal tersebut sangat digemari masyarakat umum maupun senimannya itu sendiri. Dikarenakan lagu tersebut mempunyai kesan sigrak, gumnyak, gayeng. Berawal dari itu, hampir semua seniman-seniman yang ada di daerah-daerah mulai mengikuti alur tersebut
Dampak Positif
            Bagi seniman sekarang ini, dengan adanya musik komposisi yang difungsikan sebagai klenengan menjadi ruang bagi seniman untuk berkreasi tanpa mempertimbangkan aturan yang ada dalam tradisi karawitan jawa. Seniman tidak perlu takut mengeluarkan buah pikirannya yang justru dari situlah terlahir jenis musik baru. Pengalaman bermusik bagi seniman juga bertambah dikarenakan dalam pertunjukkannya seniman dituntut untuk dapat memainkan alat musik non gamelan. Sebagai contoh, beberapa alat musik tersebut adalah saxophone dan biola yang dikolaborasikan dengan gamelan sehingga iringan musik lebih menarik perhatian penonton. Adanya alat musik saxo dan biola tersebut menurut seniman dapat mendukung suasana yang diinginkan. Bertambahnya penghasilan yang didapat karena banyaknya job-job untuk pentas di daerah-daerah apabila dapat menguasai beberapa jenis musik modern tersebut.
Dampak Negatif  
            Seniman senior (tradisi) merasa senang karena karawitan sekarang mengalami perkembangan. Salah satunya muncul jenis musik baru hasil daya pikiran seniman kreatif di masa sekarang. Akan tetapi disisi lain seniman tradisi tersebut menyayangkan apabila gendhing tradisi jawa yang kaya akan garap disetiap ricikan gamelan. Contohnya dalam ricikan gender terdapat banyak cengkok dan wiletan, berbeda seniman maka berbeda pula wiletannya. Dengan adanya musik-musik terobosan terbaru seperti yang dijelaskan diatas, ruang lingkup untuk belajar tentang apa yang terkandung dalam karawitan tradisi menjadi terbatas karena tidak adanya kesempatan untuk menyajikan gendhing-gendhing tradisi di pagelaran wayangan atau dikesenian yang lain. Dilihat dari sudut pandang seniman tradisi dengan adanya musik-musik baru menimbulkan kesan bahwa pendengar dituntut untuk terus berpikir dan tidak merasa rileks karena musik sekarang ini cenderung tidak mempunyai dinamika musikal. Kesan yang timbul dalam musik karawitan di masa sekarang ini cenderung selalu gumnyak, sigrak, gayeng. Dan jarang sekali muncul ide-ide baru yang mempengaruhi pola pikir seniman di masa sekarang ini untuk kembali ke bentuk karawitan tradisi. Daya tarik musik komposisi yang mengikuti perkembangan jaman selera masyarakat sangat kuat.
Harapan kedepan
            Banyak seniman yang mempunyai harapan berhubungan dengan karawitan di masa yang akan datang, yaitu bagaimana pelaku seniman karawitan dapat menempatkan gendhing-gendhing tradisi di pertunjukan klenengan. Karena dinilai gendhing-gendhing tersebut banyak hal yang rumit dalam hal penggarapannya. Setiap ricikan yang terdapat pada gamelan jawa mempunyai pola tabuhan yang berbeda – beda. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap emosional pengrawit pada saat penyajian gendhing-gendhing tradisi. Karena disitulah letak kesulitan yang paling tinggi untuk menggarap balungan gendhing. Hal tersebut untuk sekarang ini masih di wadahi dalam pembelajaran di lembga pendidikan bidang seni. Diantaranya SMK N 8 Surakarta, ISI Surakarta. Dalam pembelajarannya sangat ketat dengan aturan-aturan yang terdapat pada karawitan tradisi. Apalagi didukung dengan pengampu yang kemampuan karawitan tradisinya sangat kuat. 

Sikap penyajian karawitan





Sikap penyajian karawitan

Nama: Fajar Eko Apriyanto
Nim: 13111129
Prodi/smt: Seni Karawitan/VII


Karawitan merupakan seni musik tradisional Jawa yang telah berkembang secara turun-temurun dari nenek moyang kita sesuai dengan perkembangan jaman dan tidak meninggalkan keasliannya. Meskipun zaman semakin bertambah maju dan canggih, sampai sekarang  seni karawitan masih banyak digemari masyarakat, dari kalangan orang tua sampai kalangan anak muda bahkan anak-anak. Di samping karawitan sebagai seni budaya luhur, karawitan adalah bentuk realisasi dari seni tradisional yang mempunyai garap. namun berkembangnya jaman musik karawitan bergeser menjadi musik hiburan, contohnya Gendhing-gendhing sragenan bahkan lagu-lagu dangdut  yang banyak digemari dikalangan anak muda dan orang tua, dengan alasan gendhingnya rampak dan  bisa dijogeti. karawitan sering di gunakan  dalam acara pernikahan, khitanan, bersih desa dan acara lain. perkembangan karawitan sekarang ini mengalami kemajuan, baik kemasan maupun garap dalam penyajiannya. Garap yang dimaksudkan adalah pengembangan atau penambahan instrumen  jaipong bahkan instrumen barat juga masuk seperti halnya simbal dan senar drum. Sehingga  Masyarakat banyak yang menikmati hiburan karawitan ini dengan cara ikut bernyanyi, berjoget dan lain sebagainya. Hal ini seolah menjadi gejolak atau kontra sendiri ketika pada jaman dulu karawitan merupakan pertunjukan musik tradisional yang bersifat halus dan indah yang menyajikan gendhing-gendhing halus yang enak untuk didengarkan akan tetapi pada jaman sekarang tidak jarang kelompok karawitan lebih mengutamakan garap lagon-lagon yang didangdutkan daripada menggarap gendhing-gendhing agengnya. Hal ini tidak sepenuhnya kesalahan seniman pengrawitnya itu sendiri, akan tetapi mereka lebih mengikuti pasar atau minat masyarakat. Memang tidak dipungkiri selera masyarakat pada jaman dahulu dengan jaman sekarang  sangat berbeda, sehingga para senimanpun terus berputar otak membuat pembaruan-pembaruan agar kelompok karawitan mereka tetap diminati.
 Dalam karawitan ini masih menggunakan aturan pathet, gendhing-gendhing sragenan mulai dimainkan setelah selesai permainan pathet sanga oleh rebab, gender, dan gambang. antusias penonton mulai terlihat  saat gending-gending sragenan mulai dimainkan dan mereka mewujudkannya dengan tarian/jogetan. Tidak hanya berjoget, mereka juga menyumbangkan lagu-lagu yang mereka inginkan. Saweran diberikan kepada pesindhen atas gending yang dibawakan pesindhen dengan kemauan penonton. Atmosfer penonton memadati depan panggung saat gending-gending sragenan mulai rampak dimainkan, sebelum jaipong di mainkan, ada gending-gending tayuban yang diminta oleh para orang tua, mereka  menari dengan guyub saat gendhing tayuban di mainkan. Para kaula muda pun tidak mau kalah dengan orang tua, mereka meminta jaipong dimainkan dan digarap koplo seperti halnya ketipung, para pejoget bilang “ayo kendhange di ngaplakne”. Banyak dari kawula muda yang minta lagu dangdut yang di garap dengan gamelan. Para penonton sangat terhibur dan senang sehingga membuat suasana di atas panggung tambah semangat memainkan gamelan.Semangat penonton seperti motivasi untuk niyaga dalam memainkan suatu gending sragenan. perubahan ini disebut perkembangan atau penurunan estetika, kita kembalikan terhadap diri kita sendiri yang menilainya.
            Perubahan tidak hanya terdapat pada segi insntrumen dan masyarakat penikmatnya saja, akan tetapi perubahan itu juga terjadi pada seniman karawitan itu sendiri. Pada jaman dahulu musik karawitan dianggap sebagai pengolah rasa batin seseorang dan rasa keindahan seseorang. Orang yang biasa berkecimpung dalam dunia karawitan bisa merubah karakter seseorang menjadi halus dan tingkah laku sopan karena semua itu dianggap jiwa seseorang menjadi sehalus gendhing-gendhing tersebut. Akan tetapi pada jaman sekarang banyak perubahan yang terjadi, pada jaman dahulu pada saat pertunjukan karawitan setelah menyajikan gendhing para pengrawit  melakukan pathetan, pengrawit yang lain diam seketika menikmati pathetan itu karena fungsi pathetan untuk mengikat rasa batin mereka, akan tetapi pada waktu sekarang ketika pathetan berlangsung tak jarang pengrawit yang lainnya sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang bermain hp, ngobrol, bercanda dengan pengrawit lainnya, ada juga yang merokok sehingga nilai dari estetika seorang senimannya sendiri sebenarnya sudah sangat berbeda pada waktu sekarang dibandingkan dengan jaman dahulu.
            Cara bersikap mereka memang unik jika dicermati, sembari menabuh balungan atau saron tangan kiri sebagian mereka ada yang tidak memithet wilahan, akan tetapi tangan kiri mereka gunakan untuk merokok bahkan ada juga yang bermain Hp sekedar melihat sms atau bahkan membalas pesan sms, tidak hanya pengrawitnya saja bahkan sering dijumpai para pesinden juga tidak mau ketinggalan mereka ada yang mau disuruh turun panggung dan bernyanyi di bawah dengan para penonton atau pejoget dan bahkan duet bareng penonton. Pada dasarnya Karawitan berasal bahasa Jawa rawit yang berarti rumit, halus dan indah dari pengertian tersebut dapat kita ketahui bahwa kesenian Karawitan adalah karya seni yang memiliki sifat halus, rumit dan indah, akan tetapi dalam perubahannya tidak sedikit kelompok-kelompok karawitan yang keluar dari aturan atau pakem yang telah disebutkan tersebut. Karena banyaknya persaingan dan mengikuti zaman yang semakin maju.



Ragam Penyajian Andhegan Pada Gending Gandrung Manis
Artikel Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kritik Karawitan


Nama : Tri Jeniati
NIM : 13111125



Gandrung Manis adalah gending yang berbentuk kethuk 2 kerep minggah 2. Kethuk 2 berarti terdapat dua tabuhan kethuk dalam satu kenongan, minggah 4 berarti terdapat empat tabuhan kethuk dalam setiap satu tabuhan kenong. Gendhing Gandrung Manis diawali dengan buka rebab, kemudian masuk merong berulang-ulang (biasanya dua kali) kemudian peralihan menuju umpak pada kenong ke tiga (gong-an ke dua) kemudian inggah dan suwuk.
Gendhing Gandrung Manis biasanya disajikan dalam laras pelog pathet barang, namun dapat juga disajikan dalam laras slendro pathet manyura. Dalam penyajian keduanya sama-sama menggunakan andhegan gawan. Selain andhegan gawan, dapat juga disajikan dengan menggunakan andhegan selingan. Dalam penyajian pada laras pelog pathet barang andhegan selingan yang digunakan adalah Dhandhanggula Banjet. Sedangkan jika Gending Gandrung Manis disajikan pada laras slendro pathet manyura menggunakan andhegan selingan Dhandhanggula Temanten Anyar. Perbedaan lain yang menonjol, yaitu jika Gending Gandrung Manis disajikan dalam laras slendro pathet manyura maka disajikan dengan menggunakan sampak. Sedangkan jika disajikan dalam laras pelog pathet barang tidak menggunakan.
1.      Andhegan Selingan Gending Gandrung Manis pada laras pelog pathet barang
Selingan di dalam sindhenan biasa digunakan untuk menyebut garap gending saat digarap mandheg. Pada umumnya ketika gending digarap mandheg selalu disajikan sindhenan andhegan (gawan gending maupun gawan cengkok). Agar tercipta suasana baru dan untuk memberi toleransi kepada penyaji ricikan lain, maka saat gending disajikan dengan garap mandheg tersebut, disajikan salah satu lagu lain di mana teks dan lagu ini oleh msayarakat karawitan Jawa disebut selingan. Teks dan lagu sindhenan andhegan selingan pada umumnya berwujud : (1) sekar macapat, (2) lagu yang disusun secara khusus, (3) bentuk gending lain (lancaran, langgam, jineman). Pada saat menyajikan selingan inilah pada umumnya pesindhen memiliki kesempatan untuk menampilkan kebolehannya dengan mengolah luk, wiled, dan gregelnya. Oleh karena itu, maka di dalam masyarakat karawitan Jawa terdapat pemahaman tentang perbedaan teknik penyajiannya ketika sekar Macapat disajikan sebagai waosan dan disajikan sebagai andhegan selingan.
Andhegan selingan dalam Gending Gandrung Manis laras pelog pathet barang menggunakan salah satu sekar macapat yaitu sekar macapat Dhandhanggula Banjet laras pelog pathet barang. Dalam penyajian Gendhing Gandrung Manis laras pelog pathet barang, andhegan sindhenan  terletak pada inggah di pertengahan kenong empat, atau lebih tepatnya pada balungan berikut.
. 5 . 6    . @ . 7(#)   . 3 . 2    . 4 . g3
Pada balungan yang diberi tanda (#) semua instrumen berhenti, kemudaian salah satu pesindhen menyajikan andhegan selingan sekar macapat Dhandhanggula Banjet laras pelog pathet barang . Setelah penyajian sekar macapat Dhandhanggula Banjet selesai, dilanjutkan atau disambung dengan andhegan gawan  Gending Gandrung Manis yang kemudian ditampani kendhang beserta instrumen lain hingga suwuk.
2.Selingan andhegan Gending Gandrung Manis pada laras slendro manyura.
Penyajian Gending Gandrung Manis dalam laras salendro pathet manyura memiliki perbedaan dengan  penyajian dalam laras pelog. Perbedaan yang menonjol yaitu digunakannya sampak dalam penyajian pada laras slendro. Selain itu perbedaan yang sangat jelas juga terlihat pada andhegan selingan yang digunakan. Jika dalam penyajian Gending Gandrung Manis menggunakan selingan andhegan sekar macapat Dhandhanggula Banjet, penyajian Gending Gandrung Manis dalam laras slendo menggunakan andhegan andhegan sekar macapat Temanten Anyar. Meski sama-sama menggunakan sekar macapat dhandhanggula, namun dhandhanggula yang digunakan berbeda. Perbadaan kedua sekar macapat dhandhanggula tersebut selain pada laras, cengkok dan cakepan,  juga terdapat perbedaan lain yaitu digunakannya senggakan pada sekar macapat Dhandhanggula Temanten Anyar. Vokal tunggal putri yang menyajikan sekar Dhandhanggula Temanten Anyar, kemudian diisi senggakan dari penggerong putra. Hal ini jika dianalisa  menggambarkan antara laki-laki dan perempuan guyub rukun dalam lagu itu.
Letak penyajian selingan andhegan Gending Gandrung Manis  pada laras slendro sama dengan penyajian pada laras pelog, terletak pada inggah di pertengahan kenong empat, salah satu pesindhen menyajikan sekar macapat dhandhanggula Temanten Anyar. Tetapi, yang membuat berbeda pada penyajian keduanya adalah setelah penyajian sekar macapat Dhandhanggula selesai disajikan, tidak langsung dilanjutkan dengan andhegan gawan Gending Gandrung Manis. Melainkan disajikan sampak terlebih dahulu, baru kemudian dilanjutkan andhegan gawan dan dilanjutkan gending hingga selesai.
Dalam pemilihan andhegan selingan tersebut tentunya ada keterkaitan antara gending dan juga andhegan selingan yang digunakan. Gending Gandrung Manis adalah gending yang menggambarkan atau menceritakan tentang seseorang yang sedang kasmaran. Hal ini dapat dilihat dari pengertian dari nama Gandrung Manis yang berarti terpikat dengan sosok yang manis atau cantik. (wedhapradhangga, hal.122).
Dhandhanggula Banjet digunakan sebagai andhegan selingan Gending Gandrung Manis pada laras pelog pathet barang tentunya memiliki beberapa faktor yang menyebabkan dipilihnya sekar macapat ini sebagai andhegan selingan pada gending ini. Jika dilihat dari segi nama sekar macapat, Dhandhanggula Banjet memiliki makna yaitu Dhandhanggula berasal dari kata Dhandhang dan gula. Dhandhang adalah sebutan untuk salah satu jenis alat memasak yang berwarna hitam pada bagian bawahnya (dalam bahasa Jawa disebut ireng). Sedangkan gula adalah salah satu bumbu yang mempunyai rasa manis. Dari penjelasan tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud Dhandhanggula memiliki arti ireng manis. Sudah jelas terbukti pada andhegan gawan Gending Gandrung Manis, kata ireng manis digunakan sebagai cakepan. Itu sebabnya mengapa dipilih sekar macapat dhandhanggula sebagai andhegan selingan  dan tidak menggunakan sekar macapat yang lain. Karena dari segi nama atau judul sudah memiliki keterkaitan. Pengertian Banjet dalam konteks ini adalah sepasang suami istri yang sedang bercinta. Bersangkutan dengan Gending Gandrung Manis yang menggambarkan tentang seseorang yang sedang terpikat atau jatuh cinta, dipilih andhegan selingan sekar Dhandhanggula Banjet sebagai andhegan selingan pada laras pelog. Dikarenakan jika seseorang sudah saling jatuh cinta pasti mempunyai keinginan untuk bercinta dalam ikatan yang sudah sah.
Andhegan selingan yang digunakan Gending Gandrung Manis dalam laras slendro pathet manyura adalah Dhandhanggula Temanten Anyar. Sebenarnya keterkaitan antara keduanya tidak berbeda jauh. Namun dalam andhegan selingan sekar Dhandhanggula Temanten Anyar lebih diperjelas lagi bahwa keterkaitan makna terpikat atau jatuh cinta yang terkandung dalam Gending Gandrung Manis dilanjutkan dengan Dhandhanggula Temanten Anyar yang mempunyai arti pengantin baru. Dari keterkaitan makna tersebut mungkin yang menjadikan alasan dipilihnya kedua sekar dhandhanggula tersebut sebagai andhegan selingan dalam Gending Gandrung Manis.

Ragam sindhenan andhegan Arum-arum dalam Gending Budheng-budheng



Ragam sindhenan andhegan Arum-arum dalam Gending Budheng-budheng

NAMA           : SUCIATI (13111128)


Jika berbicara tentang karawitan tentu sangat banyak hal-hal rumit yang terkandung di dalamnya, salah satunya adalah sindhenan. Dalam dunia karawitan sindhenan berarti vokal tunggal yang disajikan oleh seorang pesinden menggunakan teks berbentuk wangsalan dan abon-abon. Sindhenan meliputi srambahan dan andhegan. Pengertian Sindhenan andhegan sendiri adalah sindhenan yang disajikan pada saat gending berhenti hanya untuk sementara (bukan suwuk). Sindhenan andhegan dibagi menjadi tiga macam, yaitu Sindhenan andhegan gending, Sindhenan andhegan selingan, dan Sindhenan andhegan gawan. Sindhenan andhegan pada umumnya dilakukan ketika gending mandheg (berhenti untuk sementara kemudian dilanjutkan lagi).
Sindhenan andhegan selingan merupakan andhegan yang cakepannya mengambil dari sekar. Contohnya adalah pada gending Renyep minggah ladrang Eling-eling Kasmaran laras slendro pathet sanga, diberi andhegan selingan yang mengambil dari sekar “Sinom Logondang”. Sedangkan Sindhenan andhegan gawan gending adalah Sindhenan andhegan khusus yang hanya terdapat dalam suatu gending tertentu yang tidak bisa disajikan pada gending lain. Contohnya pada Sindhenan andhegan gending Budheng-budheng atau sering disebut dengan Arum-arum yang pada andhegannya terdapat cakepanangger-angger atak Arum-arum”.
Gending Budheng-budheng sering disebut Arum-arum karena pada teks Sindhenan andhegannya terdapat kata “arum” (kusuma gandane arum dan angger a tak Arum-arum-arum). Gending Budheng-budheng berbentuk kethuk 2 arang minggah 4 yang berlaras Pelog Pathet Nem[1] (Mloyowidodo, 1976: 69). Jalan sajian dari gending ini pada umumnya disajikan berawal dari buka rebab kemudian merong satu gong-an kembali lagi ke merong, lalu pada kenong ketiga peralihan ke umpak lanjut ke inggah (Arum-arum) satu gong-an. Pada inggah kedua tepatnya kenong ketiga mandheg (andhegan) sampai gong kembali lagi ke inggah. Setelah itu pengrawit mempunyai wewenang untuk menyajikan beberapa kali inggah.
Gending Budheng-budheng tidak begitu populer dikalangan masyarakat luas, hanya seniman profesional saja yang sering menyajikan gending ini. Tidak seperti gending Gambir Sawit, Pangkur, Logondang, dan lain-lain yang sering didengar oleh masyarakat luas karena sangat dominan muncul dalam acara-acara tertentu. Gending Budheng-budheng memiliki beberapa versi Sindhenan andhegan gawan yang masing-masing teks dan wiledannya berbeda, antara lain: Sindhenan andhegan menurut versi Martopangrawit, Sindhenan andhegan menurut versi Nyi Bei Madusari, Sindhenan andhegan menurut versi Nyi Tugini, dan lain-lain. Ada beberapa versi Sindhenan andhegan Arum-arum yang dideskripsikan sebagai berikut
a)                  Sindhenan andhegan versi Martopangrawit
5  j6j jk.6  j6j jk.!  zjk@cj#j k.!  zj#xjxk@x!x c6
We-ruh  ma–neh yen   we – ruh -     a
j.2  jz3c5  k.j5j k56  zj4xj xk4x5x xx xkxxxxxxxx6xjx5xj xk6x4x x cj5j k.6  kz!xjx@xj xk!x6x xj.x!x x xk@xj#xj c.
nju – puk      a-la du -                 du                  do -              kok
kz!xj@xj xkk!c6  5  zk.xj5xj xk6x!x x x5x x xkx.xj5xj xk6x!x x xjx5x6x x c3
     a    -    ne
jjk.j6j k52  2  k2j2j 2  2  zj6xj xk5c4  zk2xj4xj xk5x6x x x5x x c6
nga la he-na   bojo-ne  sing     wi     -            re   
zj2xxxxjx xjx xk.x5x x xjx3x2x x xjx1xjx xkyct  zkyxj1xjx x.x x xjx.xjx xkx2x3x x xjx1x2x x xjxtxyx x xjxuxjx xkx6x5xx x c6
ku                                  -                          ning
j.2  jz3c5  jz5c6  jzk5jx4xj c2  j.4  kz5xj6xj xk5x4x x c5
rom-pyoh     a    -    la        rom   -   pyoh
j.6  kz!xjx@jx xkx!x6x x xjx.x!x x xkx@xjx#xjx c.  zk!xj@xj xk!c6  5 zk.xjx5xj xk6x!x xx x5x x xk.xj5xj xk6x!x x xj5x6x x c3
se   -                 si                    -    nom    -  e
j.6    j5j 3  2  z2x x xjx6xj xk5c4  zk2xjx4xj xk5x6x x x5x x c6
ngem-bang ba-kung        re         -           re
jz2xj xk.x5x x xjx3x2x x xj1xj xkyct  kzyxjx1xj x.x x xjx.xjx xkx2x3x x xjx1x2x x xjxtxyx x xjxuxjxxkxyxtx x cy
ma                            -                            ne         
j.2  jz3c5  jz5c6  jzk5jx4xj c2  j.4  kz5xj6xj xk5x4x x c5
ngu-dhup     a    -     la          tu    -     ri
j.6  kz!xjx@jx xkx!x6x x xjx.x!x x xkx@xjx#xjx c.  zk!xj@xj xk!c6  5 zk.xjx5xj xk6x!x xx x5x x xk.xj5xj xk6x!x x xj5x6x x c3
ge   -                   go             -    dheg   -      e
jk.k .  z.cj.jk.k .j.j .z.c.
ku-su -  ma gan-da-ne a -  rum
j.3  5  zk5xj6xj xk5c3  j22  j2j zk2c3  jz1xj xk.c2  zj2xj xk.c3  g3
ang- ger      ang   - ger a  tak    a  -    rum       a  -    rum

(Martopangrawit, 1985: 20).

b)                  Sindhenan andhegan versi Nyi Bei Madusari
5  6  6  6    !  z@x.x#x!c@  z6x5x3x.c5  z5xx.x5x6x7x x.x6x5x6x5c6
La-mun  si-  ra           yun      u       -      ta       -               ma
2  z3c5  z5c6  z5x.x4x5x4c2    4  z5x.x6x.x5x6x5x.x4x5x4c5
a -  ywa    tan  -     sah                gu -            gu
6  z!x.x@x#x!x@x6x.x5x4x5x4c2  4  z5x.x6x5x6x5x xx.x5x6x!x5x.x5x6x!x5x6x.c3
ing                 u                - jar -                        e
6  5  3  2 2  2  2  6  z5x3c2  z3x.x5x.c62x.x1x2c3  z1x.x1x2x3x1x2ct  ztx.xyx.cu  y
 Su-jan-ma  kang   ka- ton – ne    a -  mung        le-   la     -        mis                la      - mis
2  z3c5  z5c6  z5x.x4x5x4c2    4  z5x.x6x5x6c5
den   a   -  bi   -       sa                 si  -       ra
6  z!x.x@x#x!x@x6x.x5x4x5x4c2  4  z5x.x6x5x6x5x xx.x5x6x!x5x.x5x6x!x5x6x.c3
Nying-       kir                  - ra -                      ke
6    5  3  2    z6x.x5x3c2  z3x.x5x.c6 z2x.x1x2c3  z1x.x1x2x3x1x.x2x1x2x.c6
Mung was-pa – da              lan             e             ling     -              e
2  z3c5  z5c6  z5x.x4x5x4c2    4  z5x.x6x5x6c5
ka – es  -  thi  -       ya                ma-     ring
6  z!x.x@x#x!x@x6x.x5x4x5x4c2  4  z5x.x6x5x6x5x xx.x5x6x!x5x.x5x6x!x5x6x.c3
Ra -             ha                - yu -                      ne
.  .  .    .  .  .  .  . 
lir  pus-pa         gan-da- ne     a - rum
3  5  z5x6x5x6x5x3c2  2  2  2    z2c3  1  1  2  z2x.c3  g3
a-ngger       ang       - ger    a – tak           a   - rum  a – rum     a  - rum

(Suparno, 1985)
            Berdasarkan data-data di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya versi sindhenan andhegan Arum-arum menunjukkan bahwa setiap pesinden memiliki keterampilan sendiri-sendiri dalam menyajikan sindhenan andhegan. Pemaparan di atas juga dapat memberi referensi kepada pesinden-pesinden baru yang belum mengetahui hal ini sebelumnya. Selain itu setiap pesinden dapat memilih sindhenan andhegan mana yang cocok dengan suaranya masing-masing. Hal itu dapat menambah wawasan bagi seniman terutama pesinden dalam dunia karawitan.















[1] Maksud dari kethuk 2 arang adalah dalam satu kenongan (tabuhan kenong) terdapat 2 kali tabuhan kethuk dengan jarak yang jarang (arang).