Selasa, 29 November 2016

Pemanis yang Terpahitkan





Pemanis yang Terpahitkan

Nama : Sri Sekar Rabulla Yanuar Dani
Nim    : 13111146


          Alunan nada – nada gamelan sayup terdengar saat kaki ini menapak mendekati pendopo ageng kabupaten sukoharjo. Dalam bangunan megah nan luas itu diadakan lomba karawitan tingkat kabupaten Sukoharjo. Seperangkat gamelan yang indah dengan ukiran – ukiran serta pantulan sinar lampu yang menyoroti gamelan membuat hati ini terkagum akan peninggalan budi yang adi luhung dari para pendahulu.
          Seperangkat gamelan yang terdiri dari beberapa instrumen yang memiliki fungsi tersendiri dalam garap karawitan gaya surakarta di tabuh oleh para pengrawit yang telah memiliki pengalaman serta jam yang teruji. Dalam karawitan gaya surakarta konsep kebersamaan merupakan hal yang mendasar, tabuhan yang kompak, rempeg, hingga volume bunyi yang dimainkan dari semua instrumen haruslah sama tidak ada volume bunyi dari instrumen yang terlalu mendominasi. Akankah seperti itu? Ada intrumen yang berfungsi sebagai pemanis, namun terabaikan.
            Konsep kebersamaan sering diungkapkan bahkan beratus kali dalam karawitan gaya surakarta agar alunan gending yang dimainkan dapat memberikan kepuasan estetis pada penikmatnya. Kebersamaan tak hanya konsep yang tersampaikan. Namun, seharusnya menjadi konsep yang benar – benar diaplikasikan pada kehidupan karawitan non fetival dan non ujian karya tingkat kepengrawitan.
Gamelan ageng memiliki 20 ricikan yang terdiri dari beberapa kategori. Salah satunya sebagai pemanis atau penghias lagu. Penghias lagu atau pemanis dalam alunan gending memiliki peran penting dalam sajian karawitan gaya surakarta yang berfungsi untuk memperindah sajian. Pemanis dalam kehidupan sehari – hari lebih kita pahami sebagai pelengkap rasa. Jadi, dalam kehidupan sajian karawitan fungsi ricikan pemanis yang salah satunya ialah instrumen gender penerus memiliki peran penting dalam memberikan kelengkapan estetis.
                Suara cemengkling, bentuk fisik yang lebih kecil dari gender barung ialah ciri dari intrumen gender penerus.  Dengan pola dan cengkok yang menyesuaikan dengan rebab menjadi patokan seorang penabuh gender penerus untuk bermain serta mengolah wiled.
          Permainan instrumen ini tak ubahnya seperti mencari mutiara. Kita hanya akan mendengarkan sajian gamelan ageng lengkap saat ujian kompetensi keahlian seni atau saat festival dan lomba karawitan berlangsung.
Kelompok karawitan yang memiliki jam terbang tingi untuk melayani masyarakat tidak pernah menyajikan gender penerus sebagai pemanis dan sajian bersama. Padahal seorang pimpinan ataupun salah satu koordinator dalam kelompok karawitan memiliki gelar sarjana seni dalam bidang karawitan, ataupun pernah belajar dalam lingkup keraton yang dipahamkan konsep kebersamaan. Padahal dari segi kesehjahteraan sosial, satu intrumen itu dapat membantu seseoarng untuk mendapat lapangan kerja meski tak seberapa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar