Pemanis yang Terpahitkan
Nama : Sri Sekar Rabulla Yanuar Dani
Nim : 13111146
Alunan nada – nada gamelan sayup terdengar
saat kaki ini menapak mendekati pendopo ageng kabupaten sukoharjo. Dalam
bangunan megah nan luas itu diadakan lomba karawitan tingkat kabupaten
Sukoharjo. Seperangkat gamelan yang indah dengan ukiran – ukiran serta pantulan
sinar lampu yang menyoroti gamelan membuat hati ini terkagum akan peninggalan
budi yang adi luhung dari para pendahulu.
Seperangkat gamelan yang terdiri dari
beberapa instrumen yang memiliki fungsi tersendiri dalam garap karawitan gaya surakarta di tabuh oleh para pengrawit yang telah memiliki pengalaman serta jam
yang teruji. Dalam karawitan gaya surakarta konsep kebersamaan merupakan hal yang
mendasar, tabuhan yang kompak,
rempeg, hingga volume bunyi yang dimainkan dari semua instrumen haruslah sama
tidak ada volume bunyi dari instrumen yang terlalu mendominasi. Akankah seperti
itu? Ada intrumen yang berfungsi sebagai pemanis, namun terabaikan.
Konsep kebersamaan sering
diungkapkan bahkan beratus kali dalam karawitan gaya surakarta agar alunan
gending yang dimainkan dapat memberikan kepuasan estetis pada penikmatnya.
Kebersamaan tak hanya konsep yang tersampaikan. Namun, seharusnya menjadi
konsep yang benar – benar diaplikasikan pada kehidupan karawitan non fetival dan
non ujian karya tingkat kepengrawitan.
Gamelan
ageng memiliki 20 ricikan yang terdiri dari beberapa kategori. Salah satunya
sebagai pemanis atau penghias lagu. Penghias lagu atau pemanis dalam alunan
gending memiliki peran penting dalam sajian karawitan gaya surakarta yang
berfungsi untuk memperindah sajian. Pemanis dalam kehidupan sehari – hari lebih
kita pahami sebagai pelengkap rasa. Jadi, dalam kehidupan sajian karawitan
fungsi ricikan pemanis yang salah satunya ialah instrumen gender penerus
memiliki peran penting dalam memberikan kelengkapan estetis.
Suara cemengkling, bentuk fisik
yang lebih kecil dari gender barung ialah ciri dari intrumen gender penerus. Dengan pola dan cengkok yang menyesuaikan
dengan rebab menjadi patokan seorang penabuh gender penerus untuk bermain serta
mengolah wiled.
Permainan instrumen ini tak ubahnya
seperti mencari mutiara. Kita hanya akan mendengarkan sajian gamelan ageng
lengkap saat ujian kompetensi keahlian seni atau saat festival dan lomba
karawitan berlangsung.
Kelompok
karawitan yang memiliki jam terbang tingi untuk melayani masyarakat tidak
pernah menyajikan gender penerus sebagai pemanis dan sajian bersama. Padahal
seorang pimpinan ataupun salah satu koordinator dalam kelompok karawitan
memiliki gelar sarjana seni dalam bidang karawitan, ataupun pernah belajar
dalam lingkup keraton yang dipahamkan konsep kebersamaan. Padahal dari segi
kesehjahteraan sosial, satu intrumen itu dapat membantu seseoarng untuk
mendapat lapangan kerja meski tak seberapa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar