Karawitan Klenengan
NAMA : TITIN DWI ASTUTI
NIM : 13111124
PRODI ; SENI KARAWITAN
Karawitan klenengan agaknya sudah biasa
dalam masyarakat khususnya Surakarta dan sekitarnya. Berbagai kelompok
Karawitan pun berdiri dari berbagai kalangan dan usia. Entah dari seniman
terpelajar, dari kemampuan otodidak, dari anak-anak, remaja, mapun orang tua
semua ada. Baik dari yang sudah terkenal maupun masih rintisan. Setiap
pertunjukkan klenengan tentunya memiliki daya tarik sendiri terhadap
penontonnya. Daya tarik tersebutlah yang dapat mempengaruhi kelompok tersebut
banyak mendapatkan tawaran manggung.
Pertunjukkan klenengan pun memiliki
kelemahan dan keunggulan. Keunggulan tersebut di setiap masing-masing kelompok
pasti berbeda. Mustahil jika kelompok tersebut tidak mempunyai keunggulan, jika
iya pasti kelompok tersebut akan tidak laku di pasaran. Contoh keunggulan pada
kelompok klenengan adalah pemilihan penyajian gending-gending pada saat pentas,
tentunya itu hal yang sangat utama. Ketika kelompok tersebut di undang untuk
mengisi sebuah acara seperti hajatan, khitanan, dekah desa, perayaan, pawai,
dan lain sebagainya, pasti akan menyesuaikan gending yang di bawakan sesuai
acara tersebut, setidaknya pada inti acara tersebut. Karena menurut fenomena
dunia klenengan saat ini setelah acara inti, penyajian gending yang disajikan
sesuai dengan permintaan penonton (request).
Berkaitan dengan permintaan penonton,
kreativitas dan kemampuan pengrawit di sini bagai diuji. Bagaimana tidak? Jika
sebuah kelompok karawitan tidak bisa menyajikan sebuah lagu sesuai permintaan
penonton, pasti penonton kurang puas. Apalagi respon setiap penonton itu
berbeda-beda (ada yang diam, yang marah, yang menerima, yang ngomel-ngomel).
Ditambah lagi gending-gending tradisi untuk saat ini justru kurang diminati,
malah gending sragenan yang saat menguasai pasaran khususnya Surakarta dan
sekitarnya. Banyaknya lagu-lagu sragenan yang bermunculan mampu menggeser
gending-gending tradisi, kecuali gending untuk proses ritual/acara inti
tersebut.
Selain pemilihan gending dalam penyajian
kelompok tersebut, hal yang harus diperhatikan adalah tata pentas panggung
maupun pengrawit. Jika panggung terlihat megah dan mewah, penonton pun ketika
melihat sebelum pertunjukkan akan menciptakan kesan bahwa pertunjukkan tersebut
nantinya akan menarik dan meriah. Ini adalah salah satu strategi menarik penonton.
Selain itu kekompakan dari pengrawit seperti pemakain seragam pada pengrawit
juga akan menimbulkan keserasian yang wah dipandang mata ketika dilihat
(kompak).
Namun kelemahan pun juga dijumpai dalam
setiap kelompok karawitan. Seperti kurang penguasaan gending, relasi terhadap
bisnis pasaran, dan mungkin tikungan-tikungan dalam setiap pertunjukkan
(gangguan). Salah satu hal tersebut mengakibatkan hilangnya daya tarik
penonton. Dan parahnya bisa mendampakkan terhadap ketidak tarikan terhadap
karawitan.
Saat ini masih banyak masyarakat yang
kurang berapresiasi terhadap klenengan sendiri. Kurangnya apresiasi masyarakat
tentunya tercipta dari berbagai faktor. Jika dilihat dari faktor keadaan
seperti contoh jika dalam sebuah pentas terjadi hujan lebat lalu tidak ada
penontonnya, itu bisa diatasi dengan dipasangkan tenda untuk berteduh, namun
jika tidak ada penonton dalam sebuah acara karena tidak ada minat dan apresiasi
dari masyarakat bagaimana jadinya. Hal ini masih sering terjadi dalam
pertunjukkan klenengan tersendiri.
Lihat saja konser yang mendatangkan
artis luar negeri sebut saja K-pop, pasti tiket berapa pun mahal dan lama
mengantrinya pasti akan ludes terjual. Lalu bagaimana dengan karawitan yang
kadang di sajikan dengan gratis. Pasti yang menonton hanya komunitas atau yang
tahu tentang karawitan saja. Nampaknya minat masyarakat kita (secara umum)
masih sedikit terhadap karawitan sendiri. Hal ini mempengaruhi eksistensi
klenengan sendiri di wilayah tersebut. Lalu mengapa karawitan yang sudah
mendunia ini di masyarakatnya sendiri tidak di minati? Sedangkan musik dari
luar seperti K-pop, India, Rock sendiri malah diminati. Agaknya ini menjadi hal
yang harus diperhatikan dan direnungkan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar