Ini
Salah Siapa?
Ike Kusuma Hastuti, 13111102, Seni
Karawitan, 085799511921
Ada
pepatah mengatakan bahwa suatu proses tidak akan pernah menghianati hasil. Tetapi
bagaimana jika sudah berproses namun hasil yang dicapai tidak sesuai dengan apa
yang diinginkan? Dalam pembahasan kali ini kita akan mengulas sedikit banyak
tentang suatu proses yaitu Ujian Pembawaan. Bagi mahasiswa semester lima,
jurusan Seni Karawitan di ISI Surakarta wajib menempuh mata kuliah pembawaan.
Mata kuliah ini berbobot empat sks. Gending-gending yang akan disajikan adalah
gending yang ditentukan oleh pihak jurusan dengan segala pertimbangan yang
matang. Ada enam jenis gending yang harus dipilih oleh penyaji yang
masing-masing gending itu berbeda laras.
Proses
pembawaan dimulai dengan menentukan kelompok yang meliputi penyaji ricikan ngajeng yaitu ricikan rebab, kendhang,
gender, dan vokal sindhen. Setelah itu kelompok akan diberi pilihan
gending-gending yang dikelompokan dalam enam paket. Paket satu yaitu gending
dengan model sesegan, paket dua gending ketuk 2 kerep minggah ladrang, paket
tiga gending pakeliran, paket empat gending ketuk 4 kerep minggah 8, paket lima
gending ketuk 2 kerep minggah 4 terus ladrang kebar, paket enam gending mrabot
yaitu jineman; gending; ladrang; ketawang. Setelah mendapat gending
masing-masing penyaji harus menjalani proses penataran, yaitu proses pematangan
gending-gending yang telah dipilih dengan dosen penatar yang dinilai mempunyai
kredibilitas sesuai dengan ricikan yang dipilih.
Jenjang
waktu sebelum tanggal ujian kelayakan atau lebih sering disebut dengan ujian
penentuan seharusnya dapat dimanfaatkan oleh penyaji untuk menjalani proses
penataran sebanyak-banyaknya untuk mematangkan gending-gending yang telah
dipilih. Ketika ujian penentuan seharusnya penguji mewajibkan agar penyaji
menghafal gending yang telah dipilih dan yang akan disajikan pada ujian
penentuan. Akan tetapi, pada kenyataannya, penguji membolehkan para penyaji
untuk melihat notasi dan tetap meluluskan para penyaji dengan syarat harus menjalani
kembali proses penataran. Dengan keputusan tersebut, dosen penguji berharap
pada hari yang telah ditentukan sebagai hari ujian pembawaan, mereka (para
penyaji) dapat menguasai seutuhnya gending yang telah dipilih tersebut.
Setelah
menjalani ujian penentuan, pihak jurusan memberi waktu untuk proses latihan
dengan kelompok beserta para pendukung yang telah dibentuk oleh pihak jurusan
karawitan yang penyusunannya dibantu oleh HIMA. Waktu yang diberikan kurang
lebih dua sampai tiga minggu untuk 10-12 kali latihan. pendukung adalah
mahasiswa jurusan karawitan. Masalah yang seringkali muncul dalam proses
latihan ini adalah seringnya pendukung izin atau tidak bisa mengikuti proses
latihan dengan berbagai alasan. Mirisnya, tak sedikit pula yang izin dengan alasan
untuk “py” atau pentas. Bagaimanakah seharusnya pihak jurusan menyikapi hal
tersebut? Kelengkapan pendukung saat proses latihan sangat penting demi mencari
keselarasan garap dan menguatkan interaksi dengan semua ricikan. Sangat
disayangkan, apabila dalam proses latihan pendukung tidak lengkap. Hal itu juga
dapat menyebabkan terjadinya cekcok antara penyaji dan pendukung. Memang, bagi
para mahasiswa “py” merupakan hal yang penting, karena mereka hidup dari hasil
“py” tersebut. Akan tetapi, solidaritas juga penting dalam hal ujian pembawaan
ini. Sebaiknya pihak jurusan memberi ketentuan dalam hal ini, guna menunjang
kelancaran proses pembawaan, karena mereka yang menjadi pendukung juga akan
mengalami proses ini.
Tidak
hanya soal seringnya para pendukung yang tidak menghadiri proses latihan wajib,
banyak pula mahasiswa yang telah ditunjuk untuk ikut membantu proses latihan
menolak tugas yang diberikan tersebut dengan alasan di hari H ujian pembawaan
mereka ada kepentingan lain. Lagi-lagi, perkara uang yang didapat dari “py”
menjadi penyebab hal ini. Selain itu, sering pula terjadi hal dimana pendukung
membantu dua atau lebih kelompok penyaji ujian pembawaan. Dari sini timbulah
permasalahan baru, yaitu adanya jadwal yang sama antar kelompok yang dibantu. Nah,
siapakah yang bisa dimintai pertanggungjawaban? Apakah tidak ada orang lain
untuk membantu kelompok-kelompok penyaji pembawaan tersebut agar tidak “tumbuk”
dengan kelompok yang lain? Padahal jumlah mahasiswa jurusan karawitan tidak
sedikit. Masih banyak mahasiswa yang tidak diberi tugas untuk membantu proses
pembawaan. Mereka pun bertanya-tanya, “kenapa sampai tumbuk padahal saya juga
nganggur”. Apakah ada hal-hal yang mempengaruhi dibalik terjadinya peristiwa
ini? Mungkinkah faktor kekerabatan antar mahasiswa yang ditugaskan dengan
penyusun pendukung juga ikut menyebabkan terjadinya hal ini?
Mengenai
waktu yang diberikan oleh pihak jurusan sebagai proses latihan wajib, oleh para
penyaji dinilai kurang. Banyak dari mereka yang mengeluhkan tentang hal ini.
Padahal pihak jurusan tentunya sudah menimbang dengan matang mengenai hal ini.
Pihak jurusan membatasi latihan wajib hanya 10-12 kali pertemuan, dengan
harapan para penyaji juga melakukan latihan dengan kelompok mereka sendiri
diluar jadwal latihan dengan para pendukung. Akan tetapi, tidak banyak dari kelompok-kelompok
penyaji yang tetap menjalani saran dari pihak jurusan itu.
Gladi
resik, kegiatan yang dilakukan sebelum hari H pembawaan ini juga dapat
dimanfaatkan oleh para penyaji sebagai latihan tambahan diluar jadwal latihan
wajib. Hal yang sering terjadi adalah, ketidak seriusan dalam hal ini, baik
dari para penyaji maupun pendukung. Banyak pendukung yang masih ngobrol dengan
teman padahal mereka sudah di panggung dan sedang menjalani proses gladi resik.
Dimana kesadaran mereka, bahwa mereka sedang ditonton dan menjalankan tugas
sebagai seorang pendukung dan penyaji karawitan? Siapakah yang bertanggung
jawab? Seharusnya pihak jurusan menunjuk salah satu atau dua dosen sebagai
penanggung jawab ujian pembawaan ini diluar dosen pembimbing. Mereka yang
seharusnya menjadi penanggungjawab pemilihan pendukung, mengawasi kegiatan
latihan wajib, mengatur jalannya gladi resik dan hari ujian pembawaan, meskipun
ada HIMA yang membantu, sebaiknya ada perwakilan jurusan yang ikut turun tangan
untuk meminimalisir terjadinya kekacauan dalam proses ujian pembawaan ini.
Sampai
pada hari H ujian pembawaan, hari yang telah ditunggu tunggu. Nerveous sudah
pasti. Ditonton oleh banyak orang, diuji oleh dosen-dosen penguji, dipantau
oleh dosen pembimbing, membuat mereka semakin gugup dan takut salah. Alhasil
terjadilah, salah, kurang, lupa, dan bahkan blank.
Penonton riuh, penguji bingung, pembimbing, penyaji dan para pendukung panik.
Apa yang terjadi? Bagaimana bisa seperti itu? Tidak ada kesiapan dari pihak
penyaji. Kurangnya tanggung jawab oleh mereka. Saling menyalahkan. Siapa yang
salah? Jawabnya, “mereka”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar