Selasa, 22 November 2016

Ini Salah Siapa?




Ini Salah Siapa?

Ike Kusuma Hastuti, 13111102, Seni Karawitan, 085799511921
 
Ada pepatah mengatakan bahwa suatu proses tidak akan pernah menghianati hasil. Tetapi bagaimana jika sudah berproses namun hasil yang dicapai tidak sesuai dengan apa yang diinginkan? Dalam pembahasan kali ini kita akan mengulas sedikit banyak tentang suatu proses yaitu Ujian Pembawaan. Bagi mahasiswa semester lima, jurusan Seni Karawitan di ISI Surakarta wajib menempuh mata kuliah pembawaan. Mata kuliah ini berbobot empat sks. Gending-gending yang akan disajikan adalah gending yang ditentukan oleh pihak jurusan dengan segala pertimbangan yang matang. Ada enam jenis gending yang harus dipilih oleh penyaji yang masing-masing gending itu berbeda laras.
Proses pembawaan dimulai dengan menentukan kelompok yang meliputi penyaji ricikan ngajeng yaitu ricikan rebab, kendhang, gender, dan vokal sindhen. Setelah itu kelompok akan diberi pilihan gending-gending yang dikelompokan dalam enam paket. Paket satu yaitu gending dengan model sesegan, paket dua gending ketuk 2 kerep minggah ladrang, paket tiga gending pakeliran, paket empat gending ketuk 4 kerep minggah 8, paket lima gending ketuk 2 kerep minggah 4 terus ladrang kebar, paket enam gending mrabot yaitu jineman; gending; ladrang; ketawang. Setelah mendapat gending masing-masing penyaji harus menjalani proses penataran, yaitu proses pematangan gending-gending yang telah dipilih dengan dosen penatar yang dinilai mempunyai kredibilitas sesuai dengan ricikan yang dipilih.
Jenjang waktu sebelum tanggal ujian kelayakan atau lebih sering disebut dengan ujian penentuan seharusnya dapat dimanfaatkan oleh penyaji untuk menjalani proses penataran sebanyak-banyaknya untuk mematangkan gending-gending yang telah dipilih. Ketika ujian penentuan seharusnya penguji mewajibkan agar penyaji menghafal gending yang telah dipilih dan yang akan disajikan pada ujian penentuan. Akan tetapi, pada kenyataannya, penguji membolehkan para penyaji untuk melihat notasi dan tetap meluluskan para penyaji dengan syarat harus menjalani kembali proses penataran. Dengan keputusan tersebut, dosen penguji berharap pada hari yang telah ditentukan sebagai hari ujian pembawaan, mereka (para penyaji) dapat menguasai seutuhnya gending yang telah dipilih tersebut.
Setelah menjalani ujian penentuan, pihak jurusan memberi waktu untuk proses latihan dengan kelompok beserta para pendukung yang telah dibentuk oleh pihak jurusan karawitan yang penyusunannya dibantu oleh HIMA. Waktu yang diberikan kurang lebih dua sampai tiga minggu untuk 10-12 kali latihan. pendukung adalah mahasiswa jurusan karawitan. Masalah yang seringkali muncul dalam proses latihan ini adalah seringnya pendukung izin atau tidak bisa mengikuti proses latihan dengan berbagai alasan. Mirisnya, tak sedikit pula yang izin dengan alasan untuk “py” atau pentas. Bagaimanakah seharusnya pihak jurusan menyikapi hal tersebut? Kelengkapan pendukung saat proses latihan sangat penting demi mencari keselarasan garap dan menguatkan interaksi dengan semua ricikan. Sangat disayangkan, apabila dalam proses latihan pendukung tidak lengkap. Hal itu juga dapat menyebabkan terjadinya cekcok antara penyaji dan pendukung. Memang, bagi para mahasiswa “py” merupakan hal yang penting, karena mereka hidup dari hasil “py” tersebut. Akan tetapi, solidaritas juga penting dalam hal ujian pembawaan ini. Sebaiknya pihak jurusan memberi ketentuan dalam hal ini, guna menunjang kelancaran proses pembawaan, karena mereka yang menjadi pendukung juga akan mengalami proses ini.
Tidak hanya soal seringnya para pendukung yang tidak menghadiri proses latihan wajib, banyak pula mahasiswa yang telah ditunjuk untuk ikut membantu proses latihan menolak tugas yang diberikan tersebut dengan alasan di hari H ujian pembawaan mereka ada kepentingan lain. Lagi-lagi, perkara uang yang didapat dari “py” menjadi penyebab hal ini. Selain itu, sering pula terjadi hal dimana pendukung membantu dua atau lebih kelompok penyaji ujian pembawaan. Dari sini timbulah permasalahan baru, yaitu adanya jadwal yang sama antar kelompok yang dibantu. Nah, siapakah yang bisa dimintai pertanggungjawaban? Apakah tidak ada orang lain untuk membantu kelompok-kelompok penyaji pembawaan tersebut agar tidak “tumbuk” dengan kelompok yang lain? Padahal jumlah mahasiswa jurusan karawitan tidak sedikit. Masih banyak mahasiswa yang tidak diberi tugas untuk membantu proses pembawaan. Mereka pun bertanya-tanya, “kenapa sampai tumbuk padahal saya juga nganggur”. Apakah ada hal-hal yang mempengaruhi dibalik terjadinya peristiwa ini? Mungkinkah faktor kekerabatan antar mahasiswa yang ditugaskan dengan penyusun pendukung juga ikut menyebabkan terjadinya hal ini?
Mengenai waktu yang diberikan oleh pihak jurusan sebagai proses latihan wajib, oleh para penyaji dinilai kurang. Banyak dari mereka yang mengeluhkan tentang hal ini. Padahal pihak jurusan tentunya sudah menimbang dengan matang mengenai hal ini. Pihak jurusan membatasi latihan wajib hanya 10-12 kali pertemuan, dengan harapan para penyaji juga melakukan latihan dengan kelompok mereka sendiri diluar jadwal latihan dengan para pendukung. Akan tetapi, tidak banyak dari kelompok-kelompok penyaji yang tetap menjalani saran dari pihak jurusan itu.
Gladi resik, kegiatan yang dilakukan sebelum hari H pembawaan ini juga dapat dimanfaatkan oleh para penyaji sebagai latihan tambahan diluar jadwal latihan wajib. Hal yang sering terjadi adalah, ketidak seriusan dalam hal ini, baik dari para penyaji maupun pendukung. Banyak pendukung yang masih ngobrol dengan teman padahal mereka sudah di panggung dan sedang menjalani proses gladi resik. Dimana kesadaran mereka, bahwa mereka sedang ditonton dan menjalankan tugas sebagai seorang pendukung dan penyaji karawitan? Siapakah yang bertanggung jawab? Seharusnya pihak jurusan menunjuk salah satu atau dua dosen sebagai penanggung jawab ujian pembawaan ini diluar dosen pembimbing. Mereka yang seharusnya menjadi penanggungjawab pemilihan pendukung, mengawasi kegiatan latihan wajib, mengatur jalannya gladi resik dan hari ujian pembawaan, meskipun ada HIMA yang membantu, sebaiknya ada perwakilan jurusan yang ikut turun tangan untuk meminimalisir terjadinya kekacauan dalam proses ujian pembawaan ini.
Sampai pada hari H ujian pembawaan, hari yang telah ditunggu tunggu. Nerveous sudah pasti. Ditonton oleh banyak orang, diuji oleh dosen-dosen penguji, dipantau oleh dosen pembimbing, membuat mereka semakin gugup dan takut salah. Alhasil terjadilah, salah, kurang, lupa, dan bahkan blank. Penonton riuh, penguji bingung, pembimbing, penyaji dan para pendukung panik. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa seperti itu? Tidak ada kesiapan dari pihak penyaji. Kurangnya tanggung jawab oleh mereka. Saling menyalahkan. Siapa yang salah? Jawabnya, “mereka”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar