Selasa, 29 November 2016

Karawitan sebagai Bayanganan



Karawitan sebagai Bayanganan

Nama       : Tri Uji Gemilang Sari
NIM         : 13111164
Prodi        : Karawitan


 Seni musik karawitan selain sebagai musik mandiri juga sering ditampilkan untuk mengiringi berbagai pertunjukan. Seperti wayang kulit, tari, lengger, kethoprak dan lain sebagainya. Kita ketahui bahwa pertunjukan kethoprak selalu menggunakan gamelan sebagai iringannya. Meskipun dalam perkembangannya sering ditambahkan instrument barat seperti organ tunggal agar lebih menarik.
Karawitan sebagai musik mandiri telah menunjukkan perkembangannya dengan banyaknya seniman yang telah menciptakan gending-gending maupun langgam-langgam yang begitu popular di kalangan masyarakat pecinta karawitan. Dalam mengiringi tayub seniman juga menciptakan warna baru agar tayub itu sendiri lebih menarik. Begitu pula dalam mengiringi wayang, karawitan telah mengalami banyak perkembangan. Perkembangan tersebut berupa aransemen gending yang lebih berwarna dan penciptaan gending baru yang lebih segar agar lebih dapat membangun suasana pertunjukan wayang kulit. Sehingga penonton lebih antusias dalam menonton pertunjukan tersebut.
Berbeda dengan karawitan yang difungsikan untuk mengiringi kethoprak. Di sini iringan kethoprak masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan iringan pertunjukan yang lain. Fenomena tersebut dapat dilihat ketika pertunjukan berlangsung. Di berbagai daerah pertunjukan kethoprak masih diiringi dengan gending-gending yang monoton. Sehingga penonton tidak terlalu menghiraukan dan menikmati gending-gending yang disajikan. Tiddak hanya itu, sajian gending-gending yang monoton tersebut juga menyebabkan kurangnya nilai plus pada paguyuban karawitan itu sendiri.
Tidak dipungkiri seperti pertunjukan lainnya, ketoprak memang tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya musik karawitan yang mengiringinya. Akan tetapi kita bisa melihat pada kenyataannya bahwa karawitan hanya menjadi bayang-bayang pertunjukan kethoprak saja. Dari sekian banyak penonton hanya sedikit yang memperhatikan gendhing-gendhing yang disajikan. Itupun bagi mereka yang memahami gending-gending beserta garapnya.
 Banyak diantara mereka hanya fokus dan lebih tertarik pada adegan-adegan yang dimainkan para pemeran kethoprak. Suasana musikal yang diciptakan melalui gending-gending yang disajikan pada setiap adegan tidak sampai kepada penonton. Terlebih lagi bagi mereka yang kurang mengetahui musik karawitan. Tentunya mereka tidak akan menghiraukan estetika garap gending yang disajikan.
Hal tersebut juga bisa mempengaruhi tingkat popularitas paguyuban kethoprak dan paguyuban karawitan. Paguyuban kethoprak bisa lebih dikenal dari pada paguyuban karawitan. Sehingga kesan yang didapat karawitan hanyalah sebagai bayang-bayang pertunjukan kethoprak yang terkesan monoton. Tanpa adanya pertunjukan kethoprak bisa jadi masyarakat penikmat seni tidak antusias ketika karawitan melakukan pentas mandiri tanpa mengiringi pertunjukan apapun. Jika dipikirkan kembali tentunya tidak adil bagi para pengrawit. Mengingat mereka juga merasakan lelah dan kantuk karena mengiringi pertunjukan semalam suntuk tanpa istirahat. Belum lagi dengan upah yang mereka dapat jauh dari kata layak.
Hal tersebut tidak dipungkiri karena setiap adegan yang ditampilkan selalu diiringi gending-gending baku yang seakan-akan telah dijadikan rumus atau patokan. Apabila hal tersebut tidak dilakukan maka terkesan keluar dari pakem atau tradisi. Misalnya saja pada adegan menjelang perang selalu diiringi Srepeg Mataraman, pada adegan kasmaran selalu diiringi Asmarandana dan lain sebagainya. Jarang sekali  ada pembaharuan musikal yang dilakukan  oleh para pengrawit. Entah itu berupa aransemen atau penciptaan gending baru. Belum ada keberanian dan kemauan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Akibatnya kemampuan kreativitas para seniman tidak bisa diwujudkan.
 Hal ini dikarenakan jarang diadakan latihan karawitan yang bersamaan dengan kethoprak. Serta kesibukan dari masing-masing seniman. Sehingga iringannya hanya menggunakan iringan baku seperti Asmarandana, Srepeg, Sampak, Blendrong dan lain sebagainya. Hal ini dinilai lebih praktis dan tidak ruwet. Hal tersebut secara tidak langsung dapat menghambat kreativitas para pengrawit. Mungkin akan berbeda hasilnya jika sering diadakan latihan bersama dengan para pemain kethoprak. Kemungkinan mendapatkan ide kreatif dalam menciptakan gending-gending iringan kethoprak akan terpenuhi.
Padahal jika diadakan pembaharuan pada gending-gending yang akan disajikan, kemungkinan membangun suasana yang lebih kuat bisa terpenuhi. Penonton akan lebih antusias dalam menonton serta bisa meningkatkan popularitas ketoprak dan juga karawitan. Seperti iringan pada pagelaran wayang kulit yang kini telah mengalami perkembangan menjadi lebih menarik dan lebih meriah dengan adanya warna baru pada sisi musikalnya.
Selain itu penonton juga bisa menikmati gendhing yang disajikan dan ikut terhanyut dengan suasana pertunjukan yang sedang berlangsung. Pembaharuan tersebut seperti yang disebutkan pada pernyataan di atas bisa berupa aransemen gending atau dengan menciptakan gending baru yang disesuaikan dengan adegan yang dimainkan. Tentunya yang membawa warna baru sehingga pertunjukan bisa menjadi sangat meriah dan bisa menarik masyarakat yang belum begitu mengenal pertunjukan tradisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar