Karawitan sebagai Bayanganan
Nama : Tri Uji Gemilang Sari
NIM : 13111164
Prodi : Karawitan
Seni musik
karawitan selain sebagai musik mandiri juga sering ditampilkan untuk mengiringi
berbagai pertunjukan. Seperti wayang kulit, tari, lengger, kethoprak dan lain
sebagainya. Kita ketahui bahwa pertunjukan kethoprak selalu menggunakan gamelan
sebagai iringannya. Meskipun dalam perkembangannya sering ditambahkan
instrument barat seperti organ tunggal agar lebih menarik.
Karawitan sebagai musik mandiri telah menunjukkan
perkembangannya dengan banyaknya seniman yang telah menciptakan gending-gending
maupun langgam-langgam yang begitu popular di kalangan masyarakat pecinta
karawitan. Dalam mengiringi tayub seniman juga menciptakan warna baru agar
tayub itu sendiri lebih menarik. Begitu pula dalam mengiringi wayang, karawitan
telah mengalami banyak perkembangan. Perkembangan tersebut berupa aransemen
gending yang lebih berwarna dan penciptaan gending baru yang lebih segar agar
lebih dapat membangun suasana pertunjukan wayang kulit. Sehingga penonton lebih
antusias dalam menonton pertunjukan tersebut.
Berbeda dengan karawitan yang difungsikan untuk
mengiringi kethoprak. Di sini iringan kethoprak masih jauh tertinggal bila
dibandingkan dengan iringan pertunjukan yang lain. Fenomena tersebut dapat
dilihat ketika pertunjukan berlangsung. Di berbagai daerah pertunjukan
kethoprak masih diiringi dengan gending-gending yang monoton. Sehingga penonton
tidak terlalu menghiraukan dan menikmati gending-gending yang disajikan. Tiddak
hanya itu, sajian gending-gending yang monoton tersebut juga menyebabkan
kurangnya nilai plus pada paguyuban karawitan itu sendiri.
Tidak dipungkiri seperti pertunjukan lainnya, ketoprak
memang tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya musik karawitan yang
mengiringinya. Akan tetapi kita bisa melihat pada kenyataannya bahwa karawitan
hanya menjadi bayang-bayang pertunjukan kethoprak saja. Dari sekian banyak
penonton hanya sedikit yang memperhatikan gendhing-gendhing yang disajikan.
Itupun bagi mereka yang memahami gending-gending beserta garapnya.
Banyak diantara
mereka hanya fokus dan lebih tertarik pada adegan-adegan yang dimainkan para
pemeran kethoprak. Suasana musikal yang diciptakan melalui gending-gending yang
disajikan pada setiap adegan tidak sampai kepada penonton. Terlebih lagi bagi
mereka yang kurang mengetahui musik karawitan. Tentunya mereka tidak akan
menghiraukan estetika garap gending yang disajikan.
Hal tersebut juga bisa mempengaruhi tingkat popularitas paguyuban
kethoprak dan paguyuban karawitan. Paguyuban kethoprak bisa lebih dikenal dari
pada paguyuban karawitan. Sehingga kesan yang didapat karawitan hanyalah
sebagai bayang-bayang pertunjukan kethoprak yang terkesan monoton. Tanpa adanya
pertunjukan kethoprak bisa jadi masyarakat penikmat seni tidak antusias ketika
karawitan melakukan pentas mandiri tanpa mengiringi pertunjukan apapun. Jika
dipikirkan kembali tentunya tidak adil bagi para pengrawit. Mengingat mereka
juga merasakan lelah dan kantuk karena mengiringi pertunjukan semalam suntuk
tanpa istirahat. Belum lagi dengan upah yang mereka dapat jauh dari kata layak.
Hal tersebut tidak dipungkiri karena setiap adegan yang
ditampilkan selalu diiringi gending-gending baku yang seakan-akan telah
dijadikan rumus atau patokan. Apabila hal tersebut tidak dilakukan maka
terkesan keluar dari pakem atau tradisi. Misalnya saja pada adegan menjelang
perang selalu diiringi Srepeg Mataraman, pada adegan kasmaran selalu diiringi
Asmarandana dan lain sebagainya. Jarang sekali
ada pembaharuan musikal yang dilakukan
oleh para pengrawit. Entah itu berupa aransemen atau penciptaan gending
baru. Belum ada keberanian dan kemauan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Akibatnya kemampuan kreativitas para seniman tidak bisa diwujudkan.
Hal ini
dikarenakan jarang diadakan latihan karawitan yang bersamaan dengan kethoprak. Serta
kesibukan dari masing-masing seniman. Sehingga iringannya hanya menggunakan
iringan baku seperti Asmarandana, Srepeg, Sampak, Blendrong dan lain
sebagainya. Hal ini dinilai lebih praktis dan tidak ruwet. Hal tersebut secara
tidak langsung dapat menghambat kreativitas para pengrawit. Mungkin akan
berbeda hasilnya jika sering diadakan latihan bersama dengan para pemain
kethoprak. Kemungkinan mendapatkan ide kreatif dalam menciptakan
gending-gending iringan kethoprak akan terpenuhi.
Padahal jika diadakan pembaharuan pada gending-gending
yang akan disajikan, kemungkinan membangun suasana yang lebih kuat bisa
terpenuhi. Penonton akan lebih antusias dalam menonton serta bisa meningkatkan
popularitas ketoprak dan juga karawitan. Seperti iringan pada pagelaran wayang
kulit yang kini telah mengalami perkembangan menjadi lebih menarik dan lebih
meriah dengan adanya warna baru pada sisi musikalnya.
Selain itu penonton juga bisa menikmati gendhing yang
disajikan dan ikut terhanyut dengan suasana pertunjukan yang sedang berlangsung.
Pembaharuan tersebut seperti yang disebutkan pada pernyataan di atas bisa
berupa aransemen gending atau dengan menciptakan gending baru yang disesuaikan
dengan adegan yang dimainkan. Tentunya yang membawa warna baru sehingga
pertunjukan bisa menjadi sangat meriah dan bisa menarik masyarakat yang belum
begitu mengenal pertunjukan tradisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar