Semarak hari Jadi Jebres 2016
Nama : Putri Wahyu Utami
NIM : 13111150
Jurusan:
Karawitan
No. Hp : 089632669461
Taman
Cerdas hari itu tampak ramai, berbeda dengan hari biasanya. Setiap orang sibuk untuk
memperingati hari jadi Jebres. Salah satu kecamatan di kota Surakarta. Mereka
berpartisipasi dalam mempersiapkan pertunjukkan, menonton, atau sekedar jajan
di sekitar Taman Cerdas. Tidak hanya warga Jebres yang ikut berpartisipasi
dalam acara ini. Mahasiswa ISI Surakarta dan UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret)
juga turut membantu sebagai bentuk pengabdian telah menetap di lingkungan
Jebres selama menempuh study di
Surakarta.
Sebelumnya,
Jebres sudah mengadakan pentas seni dan arak-arakan pada tanggal 23 September
2016. Arak-arakan dimulai dari pendopo ISI Surakarta hingga Taman Cerdas, yang
diiringi dengan gamelan carabalen dan tari-tarian pada pukul 19.00 hingga
selesai. Setelah itu acara dilanjutkan pentas seni, dengan menampilkan tarian
anak, ketoprak anak, paduan suara remaja, serta fashion show, dan wayangan.
Akan tetapi, wayangan gagal dipentaskan karena kendala cuaca malam itu.
Walaupun hujan tak menurunkan antusias warga dalam mengikuti rangkaian acara
tersebut. Hiasan lampion merah putih di Taman Cerdas juga menjadi daya tarik
agar orang mampir ke Taman Cerdas, sekedar selfie
atau menonton pentas seni.
Malam
puncak hari jadi Jebres, Sabtu 24 September 2016. Panggung Taman cerdas penuh
sesak orang, baik dari anak-anak hingga orang tua. Bahkan ada ibu-ibu yang rela
meninggalkan acara favoritnya demi menonton malam puncak ini. Acara dibawakan
oleh mas dan mbak Jebres yang menjadi icon
kecamatan Jebres. Tarian anak membuka acara yang bertemakan “Babad Kademangan
Jebres”. Tema ini diambil untuk memperingati mbah Jebres yang sangat berperan
dalam terbentuknya kota Jebres.
Sebelum
masuk pada acara inti, acara diisi dengan tari gambyong dari Ibu-Ibu PKK
Jebres. Musik live dari mahasiswa ISI
Surakarta. Walaupun tidak sekompak dan semenarik gambyong yang ditampilkan oleh
penari muda yang cantik dan segar, tarian ini cukup menghibur dengan tingkah
lucu para ibu-ibu yang mencoba menampilkan yang terbaik. Setelah tari gambyong,
acara dilanjutkan fashion show oleh salah satu brand batik di Surakarta. Batik
yang ditampilkan pun batik modern yang sesuai dengan anak muda, sehingga
memberikan inspirasi dan minat anak muda, bahwa batik tidak selamanya “kuno”.
Model-model cantik dan tampan yang merupakan remaja Jebres memperagakan busana
batik dengan gaya mereka.
Sampai
pada acara inti. Babad Kademangan Jebres. Pertunjukkan ini seperti drama
kolosal yang ditampilkan warga Jebres yang bekerja sama dengan mahasiswa ISI
Surakarta jurusan tari dan karawitan. Musik dipimpin Pak Bono, komposer
karawitan dari Jebres. Babad Kademangan Jebres bercerita tentang kehidupan
masyarakat Jebres yang terdiri dari berbagai kalangan yang hidup rukun
bersama-sama. Kemudian datanglah penjajah yang mengusik ketenangan masyarakat.
Pertarungan pun tidak dapat dihindari. Setiap kalangan mencoba mempertahankan
daerah mereka dari penjajah. Lalu munculah tokoh yang membantu pertarungan itu.
Masyarakat menang dibantu tokoh tersebut yang sekarang lebih dikenal mbah
Jebres.
Pertunjukkannya
sangat bagus. Menghipnotis orang yang menonton. Musik gamelan dan gerakan
begitu selaras. Pemusik dan pemain berhasil membuat Babad Kademangan Jebres
dengan konsep drama musikal begitu menarik. Akan tetapi, disisi lain terdapat
kekurangan. Gerong pada kelompok karawitan tersebut tidak kompak. Microfon yang
kurang menambah hancurnya kekompakan gerongan. Banyak lagu yang digarap bersama
atau koor. Dengan microfon yang sedikit mereka seharusnya dapat berbagi, tetapi
berbeda dengan kenyataannya. Mereka seakan berkata “ini lho suaraku!”, seperti
ingin menonjolkan kelebihan masing-masing. Memang tidak semua penggerong dalam kelompok
tersebut seperti itu, akan tetapi dua tiga orang yang bertingkah laku seperti
itu berpengaruh dalam sajian dan membuat kesan jelek pada orang yang melihat.
Profesionalitas? Sepertinya sudah tidak dihiraukan. Seharusnya masing-masing
mengerti porsinya dalam suatu kelompok karawitan. Jika koor maka kompak
bersama. Faktanya saat lagu garapan yang seharusnya bersama-sama, semua microfon
disodorkan pada penggerong yang lebih tahu. Haruskah seperti itu? Bukankah
sudah dilakukan latihan berkali-kali hingga dapat menyajikan pertunjukkan yang
kompak dan baik? Apa harus kompak jika dilihat oleh dosen atau pelaku seni yang
terkenal saja? Tentunya ini sebagai teguran pada diri masing-masing.
Kalian
seharusnya bersyukur. Memiliki paras ayu, menarik, suara merdu dan sudah laku
di pasaran. Apa semua itu kurang? Banyak orang yang tidak seberuntung kalian.
Kalian ditunjuk untuk memeriahkan acara hari jadi Jebres tentunya bukan
sembarang orang. Kalian adalah orang terpilih. Berusahalah bertanggung jawab
pada tugas yang diberikan. Tidak usah iri pada yang lebih bisa.
Terlepas
dari semua itu, pertunjukkan ini tetap bagus dan menarik. Memang
kekurangan-kekurangan yang ada menjadi krikil dalam sajian pertunjukkan Babad
Kademangan Jebres ini. Akan tetapi, penonton tetap puas dan senang. Orang awam
tidak memperhatikan kekurangan itu. Pertunjukkan ini tetap berjalan sukses, dan
dinantikan untuk tahun kedepannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar