Selasa, 22 November 2016

Semarak hari Jadi Jebres 2016



Semarak hari Jadi Jebres 2016


Nama   : Putri Wahyu Utami
NIM    : 13111150
Jurusan: Karawitan
No. Hp            : 089632669461



Taman Cerdas hari itu tampak ramai, berbeda dengan hari biasanya. Setiap orang sibuk untuk memperingati hari jadi Jebres. Salah satu kecamatan di kota Surakarta. Mereka berpartisipasi dalam mempersiapkan pertunjukkan, menonton, atau sekedar jajan di sekitar Taman Cerdas. Tidak hanya warga Jebres yang ikut berpartisipasi dalam acara ini. Mahasiswa ISI Surakarta dan UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret) juga turut membantu sebagai bentuk pengabdian telah menetap di lingkungan Jebres selama menempuh study di Surakarta.
Sebelumnya, Jebres sudah mengadakan pentas seni dan arak-arakan pada tanggal 23 September 2016. Arak-arakan dimulai dari pendopo ISI Surakarta hingga Taman Cerdas, yang diiringi dengan gamelan carabalen dan tari-tarian pada pukul 19.00 hingga selesai. Setelah itu acara dilanjutkan pentas seni, dengan menampilkan tarian anak, ketoprak anak, paduan suara remaja, serta fashion show, dan wayangan. Akan tetapi, wayangan gagal dipentaskan karena kendala cuaca malam itu. Walaupun hujan tak menurunkan antusias warga dalam mengikuti rangkaian acara tersebut. Hiasan lampion merah putih di Taman Cerdas juga menjadi daya tarik agar orang mampir ke Taman Cerdas, sekedar selfie atau menonton pentas seni.
Malam puncak hari jadi Jebres, Sabtu 24 September 2016. Panggung Taman cerdas penuh sesak orang, baik dari anak-anak hingga orang tua. Bahkan ada ibu-ibu yang rela meninggalkan acara favoritnya demi menonton malam puncak ini. Acara dibawakan oleh mas dan mbak Jebres yang menjadi icon kecamatan Jebres. Tarian anak membuka acara yang bertemakan “Babad Kademangan Jebres”. Tema ini diambil untuk memperingati mbah Jebres yang sangat berperan dalam terbentuknya kota Jebres.
Sebelum masuk pada acara inti, acara diisi dengan tari gambyong dari Ibu-Ibu PKK Jebres. Musik live dari mahasiswa ISI Surakarta. Walaupun tidak sekompak dan semenarik gambyong yang ditampilkan oleh penari muda yang cantik dan segar, tarian ini cukup menghibur dengan tingkah lucu para ibu-ibu yang mencoba menampilkan yang terbaik. Setelah tari gambyong, acara dilanjutkan fashion show oleh salah satu brand batik di Surakarta. Batik yang ditampilkan pun batik modern yang sesuai dengan anak muda, sehingga memberikan inspirasi dan minat anak muda, bahwa batik tidak selamanya “kuno”. Model-model cantik dan tampan yang merupakan remaja Jebres memperagakan busana batik dengan gaya mereka.
Sampai pada acara inti. Babad Kademangan Jebres. Pertunjukkan ini seperti drama kolosal yang ditampilkan warga Jebres yang bekerja sama dengan mahasiswa ISI Surakarta jurusan tari dan karawitan. Musik dipimpin Pak Bono, komposer karawitan dari Jebres. Babad Kademangan Jebres bercerita tentang kehidupan masyarakat Jebres yang terdiri dari berbagai kalangan yang hidup rukun bersama-sama. Kemudian datanglah penjajah yang mengusik ketenangan masyarakat. Pertarungan pun tidak dapat dihindari. Setiap kalangan mencoba mempertahankan daerah mereka dari penjajah. Lalu munculah tokoh yang membantu pertarungan itu. Masyarakat menang dibantu tokoh tersebut yang sekarang lebih dikenal mbah Jebres.
Pertunjukkannya sangat bagus. Menghipnotis orang yang menonton. Musik gamelan dan gerakan begitu selaras. Pemusik dan pemain berhasil membuat Babad Kademangan Jebres dengan konsep drama musikal begitu menarik. Akan tetapi, disisi lain terdapat kekurangan. Gerong pada kelompok karawitan tersebut tidak kompak. Microfon yang kurang menambah hancurnya kekompakan gerongan. Banyak lagu yang digarap bersama atau koor. Dengan microfon yang sedikit mereka seharusnya dapat berbagi, tetapi berbeda dengan kenyataannya. Mereka seakan berkata “ini lho suaraku!”, seperti ingin menonjolkan kelebihan masing-masing. Memang tidak semua penggerong dalam kelompok tersebut seperti itu, akan tetapi dua tiga orang yang bertingkah laku seperti itu berpengaruh dalam sajian dan membuat kesan jelek pada orang yang melihat. Profesionalitas? Sepertinya sudah tidak dihiraukan. Seharusnya masing-masing mengerti porsinya dalam suatu kelompok karawitan. Jika koor maka kompak bersama. Faktanya saat lagu garapan yang seharusnya bersama-sama, semua microfon disodorkan pada penggerong yang lebih tahu. Haruskah seperti itu? Bukankah sudah dilakukan latihan berkali-kali hingga dapat menyajikan pertunjukkan yang kompak dan baik? Apa harus kompak jika dilihat oleh dosen atau pelaku seni yang terkenal saja? Tentunya ini sebagai teguran pada diri masing-masing.
Kalian seharusnya bersyukur. Memiliki paras ayu, menarik, suara merdu dan sudah laku di pasaran. Apa semua itu kurang? Banyak orang yang tidak seberuntung kalian. Kalian ditunjuk untuk memeriahkan acara hari jadi Jebres tentunya bukan sembarang orang. Kalian adalah orang terpilih. Berusahalah bertanggung jawab pada tugas yang diberikan. Tidak usah iri pada yang lebih bisa. 
Terlepas dari semua itu, pertunjukkan ini tetap bagus dan menarik. Memang kekurangan-kekurangan yang ada menjadi krikil dalam sajian pertunjukkan Babad Kademangan Jebres ini. Akan tetapi, penonton tetap puas dan senang. Orang awam tidak memperhatikan kekurangan itu. Pertunjukkan ini tetap berjalan sukses, dan dinantikan untuk tahun kedepannya. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar