Gendingku ditelan dangdut
Nama
: Yuli Purnomo Sary
NIM :1311110
Prodi : Seni Karawitan
No.Hp
: 082136414269
Madyo
laras salah satu kelompok karawitan yang ada di Ngawi. Kelompok karawitan ini
dulu gending-gending yang disajikan masih tradisi (masih mengadopsi Gending
Gaya Surakarta atau Nartosabdan). Madyo Laras sekarang menjadi kelompok
karawitan bertabjub campursari. “Uyon-uyon” biasa disebut masyarakat. Gamelan
berbunyi bak suatu konser dalam acara bersih desa di Desa Karangsono,
Kwadungan, Ngawi.
Sajian
gending awal pementasan biasanya menyajikan Gending wilujeng. Dalam karawitan
biasanya gending ini selalu dibunyikan. Ibaratnya gending ini gending pembukaan
agar diberi selamat dalam pementasan. Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan
gending bonangan, untuk menunggu sindhen menempatkan diri. Setelah sindhen sudah berada dipanggung, gending
yang disajikan biasanya Ladrang Ayun-ayun. Pada zaman dahulu biasanya yang
disajikan gending-gending seperiti Gambir Sawit, Kutut Manggung, Budeng-budeng,
Renyep, Onang-onang, dan lain sebagainya. Paling kalau sudah malam baru langgam atau jineman.
Saat
ini, baru satu atau dua ladrang ciblonan masyarakat sudah banyak
permintaan lagu. Ladrang yang disajikan biasanya Ladrang Ayun-ayun, Ladrang
Asmaradana, atau Ladrang Tanjung Gunung. Gending tersebut dipilih karena
gending tersebut populer dikalangan seniman. Setelah salah satu dimainkan,
banyak sekali permintaan lagu seperti lagu sragenan,
lagu dangdut, atau lagu pop. Permintaan lagu umumnya bisa melalui kiriman surat
bahkan lewat pesan sms. Adanya banyak permintaan lagu tersebut, kemudian
dimainkan lagu-lagu tersebut.
Penonton
baik pria, wanita, tua, muda, maupun anak-anak menikmati pementasan tersebut.
Begitu lagu-lagu disajikan mereka asik dan menikmati. Banyak yang berjoget,
nyanyi sendiri, maupun hanya menonton. Meskipun lagu yang diminta sama, mereka
tetap senang dan menikmati. Bahkan ada lagu yang dimainkan diulang sampai
beberapa kali. Jika penonton minta lagu dan tidak dituruti, penonton marah
sampai mengamuk.
Lagu
dangdut koplo, lagu sragenan selalu
ditembangkan disetiap malam kelompok karawitan tersebut pentas. Lagu sragenan yang diminta fotomu, memanikmu,
gubuk asmoro, rabi dulur, dan banyak sekali. Biasanya yang sering meminta lagu
sragenan para orang tua. Sedangkan lagu koplo atau pop yang diminta biasanya
kelangan, kanggo riko, dan lain-lain. Rata-rata lagu yang mereka minta adalah
lagu-lagu yang sedang populer pada saat ini. Selain iu, mereka mengacu pada
kaset komersial yang dijual dipasaran.
Ujar mbah gimun salah satu pemain siter “aku
jane kangen gending gambir sawit, kutut manggung, sak suwene saiki aku jarang
krunggu gending-gending sing koyo ngunu kui, saiki mung sak seneng e dewe”.
Penambahan
intrumen seperti ketipung, dan orgen menambah vokabuler lagu dapat dimainkan
sesuai permintaan penonton. Baik lagu dangdut, lagu sragenan, maupun gending
bisa digarap dengan keyboad. Sajian garapnya biasanya contoh lagu gubuk asmara,
lagu disajikan dua kali rambahan.
Awal lagu masih seperti langgam biasa menggunkan kendang ciblon dengan irama wiled atau rangkep pada rambahan
pertama. Kemudian pada rambahan kedua disajikan dengan dangdut menggunakan
ketipung. Selain itu, terkadang juga disajikan seperti musik tayub.
Pada
saat ini sajian gending yang dipentaskan selalu menuruti selera masyarakat,
tanpa mengingat bagaimana nasib gending yang terdahulu kita. Setiap malam lagu
dangdut, sragenan maupun lagu lainnya
dimainkan. Akan tetapi, gendhing-gendhing ketuk kalih atau gending-gending lain
tidak dimainkan, kemungkinan gending tersebut akan hilang. Selain itu, anak-anak
penerus akan tidak mengerti bahwa gending-gending tersebut ada, padahal
gending-gending tersebut adalah salah satu karya besar dari nenek moyang kita.
Meskipun banyak permintaan lagu-lagu baru seperti dangdut atau lagu dolanan,
setidaknya Gending Gaya Surakarta atau Nartosabdan tetap disajikan, meskipun
hanya beberapa. Hal tersebut, agar gending-gending dari nenek moyang kita masih
tetap didengar oleh masyarakat dan tidak akan hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar