Selasa, 22 November 2016

Gendingku ditelan dangdut





Gendingku ditelan dangdut

Nama : Yuli Purnomo Sary
NIM   :1311110
Prodi  : Seni Karawitan
No.Hp : 082136414269

Madyo laras salah satu kelompok karawitan yang ada di Ngawi. Kelompok karawitan ini dulu gending-gending yang disajikan masih tradisi (masih mengadopsi Gending Gaya Surakarta atau Nartosabdan). Madyo Laras sekarang menjadi kelompok karawitan bertabjub campursari. “Uyon-uyon” biasa disebut masyarakat. Gamelan berbunyi bak suatu konser dalam acara bersih desa di Desa Karangsono, Kwadungan, Ngawi.
Sajian gending awal pementasan biasanya menyajikan Gending wilujeng. Dalam karawitan biasanya gending ini selalu dibunyikan. Ibaratnya gending ini gending pembukaan agar diberi selamat dalam pementasan. Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan gending bonangan, untuk menunggu sindhen menempatkan diri. Setelah sindhen sudah berada dipanggung, gending yang disajikan biasanya Ladrang Ayun-ayun. Pada zaman dahulu biasanya yang disajikan gending-gending seperiti Gambir Sawit, Kutut Manggung, Budeng-budeng, Renyep, Onang-onang, dan lain sebagainya. Paling kalau sudah malam baru langgam atau jineman.
Saat ini, baru satu atau dua ladrang ciblonan masyarakat sudah banyak permintaan lagu. Ladrang yang disajikan biasanya Ladrang Ayun-ayun, Ladrang Asmaradana, atau Ladrang Tanjung Gunung. Gending tersebut dipilih karena gending tersebut populer dikalangan seniman. Setelah salah satu dimainkan, banyak sekali permintaan lagu seperti lagu sragenan, lagu dangdut, atau lagu pop. Permintaan lagu umumnya bisa melalui kiriman surat bahkan lewat pesan sms. Adanya banyak permintaan lagu tersebut, kemudian dimainkan lagu-lagu tersebut.
Penonton baik pria, wanita, tua, muda, maupun anak-anak menikmati pementasan tersebut. Begitu lagu-lagu disajikan mereka asik dan menikmati. Banyak yang berjoget, nyanyi sendiri, maupun hanya menonton. Meskipun lagu yang diminta sama, mereka tetap senang dan menikmati. Bahkan ada lagu yang dimainkan diulang sampai beberapa kali. Jika penonton minta lagu dan tidak dituruti, penonton marah sampai mengamuk.
Lagu dangdut koplo, lagu sragenan selalu ditembangkan disetiap malam kelompok karawitan tersebut pentas. Lagu sragenan yang diminta fotomu, memanikmu, gubuk asmoro, rabi dulur, dan banyak sekali. Biasanya yang sering meminta lagu sragenan para orang tua. Sedangkan lagu koplo atau pop yang diminta biasanya kelangan, kanggo riko, dan lain-lain. Rata-rata lagu yang mereka minta adalah lagu-lagu yang sedang populer pada saat ini. Selain iu, mereka mengacu pada kaset komersial yang dijual dipasaran.
 Ujar mbah gimun salah satu pemain siter “aku jane kangen gending gambir sawit, kutut manggung, sak suwene saiki aku jarang krunggu gending-gending sing koyo ngunu kui, saiki mung sak seneng e dewe”.
Penambahan intrumen seperti ketipung, dan orgen menambah vokabuler lagu dapat dimainkan sesuai permintaan penonton. Baik lagu dangdut, lagu sragenan, maupun gending bisa digarap dengan keyboad. Sajian garapnya biasanya contoh lagu gubuk asmara, lagu disajikan dua kali rambahan. Awal lagu masih seperti langgam biasa menggunkan kendang ciblon dengan irama wiled atau rangkep pada rambahan pertama. Kemudian pada rambahan kedua disajikan dengan dangdut menggunakan ketipung. Selain itu, terkadang juga disajikan seperti musik tayub. 
Pada saat ini sajian gending yang dipentaskan selalu menuruti selera masyarakat, tanpa mengingat bagaimana nasib gending yang terdahulu kita. Setiap malam lagu dangdut, sragenan maupun lagu lainnya dimainkan. Akan tetapi, gendhing-gendhing ketuk kalih atau gending-gending lain tidak dimainkan, kemungkinan gending tersebut akan hilang. Selain itu, anak-anak penerus akan tidak mengerti bahwa gending-gending tersebut ada, padahal gending-gending tersebut adalah salah satu karya besar dari nenek moyang kita. Meskipun banyak permintaan lagu-lagu baru seperti dangdut atau lagu dolanan, setidaknya Gending Gaya Surakarta atau Nartosabdan tetap disajikan, meskipun hanya beberapa. Hal tersebut, agar gending-gending dari nenek moyang kita masih tetap didengar oleh masyarakat dan tidak akan hilang.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar