Selasa, 29 November 2016

KEHIDUPAN KELOMPOK KARAWITAN ANAK SURYAPUTRA DI KABUPATEN BLITAR”




“KEHIDUPAN KELOMPOK KARAWITAN ANAK SURYAPUTRA
DI KABUPATEN BLITAR”


Nama   : Dhimaz Anggoro Putro
NIM    : 13111101


            Usia anak-anak memang merupakan usia dini yang patut untuk mendapatkan perhatian lebih dari berbagai pihak yang ada disekitarnya. Perhatian tersebut perlu dilakukan agar dapat memberi pengarahan kepada anak-anak untuk dapat melakukan kegiatan yang positif. Maklum saja, di zaman yang seperti sekarang ini banyak anak-anak yang sudah mengenal gadget dan teknologi canggih lainnya. Dari kecanggihan teknologi tersebutlah dapat memberikan pengaruh positif dan tidak menutup kemungkinan munculnya pengaruh negatif yang dapat mempengaruhi pola pikir anak-anak. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah masuknya pengaruh negatif tersebut. Dilingkungan sekolah mungkin telah diajarkan pendidikan norma sosial dan sebagainya. Namun, lingkungan sekolah pun belum bisa menjamin keamanan dari pegaruh negatif yang masuk kepada anak-anak karena masih banyak lingkungan disekitar anak yang lebih bersinggungan langsung dengan si anak, misalnya lingkungan keluarga. Keluarga merupakan organisasi terkecil yang dapat bersinggungan langsung dengan si anak.
            Keluarga juga dapat mencegah masuknya pengaruh negatif yang masuk kepada anak-anak. Salah satu cara yaitu dengan mengikutsertakan anak-anak pada kegiatan yang bersifat positif. Kegiatan positif tersebut dapat mengacu pada kegiatan sosial, budaya, dan sebagainya. Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak pada Kelompok Karawitan Anak Surya Putra. Orang tua dari anak-anak tersebut memutuskan untuk membina putra-putrinya untuk menambah ilmu pengetahuan terkait Seni Karawitan. Sanggar Surya Putra yang dipimpin oleh Ki Wandono dan Sudarwyanto S.Kar yang juga merupakan lulusan STSI telah mendirikan sanggarnya sejak tahun 2000-an. Memang visi dan misi utama dari sanggar ini adalah melahirkan generasi-generasi penerus budaya bangsa, seni karawitan khususnya di Kabupaten Blitar. Selain kegiatan-kegiatan latihan rutin dilakukan, kelompok karawitan anak Surya Putra juga sering mengikuti kegiatan festival dan perlombaan diberbagai tingkat regional, krasidenan, bahkan nasional.
            Kelompok karawitan anak Surya Putra yang beranggotakan anak-anak usia kelas 4-5 SD hingga kelas 1-3 SMP ini juga sering menyumbangkan berbagai penghargaan untuk daerah melalui Dinas PORBUDPAR (Pemuda, Oleh Raga, dan Pariwisata) karena Sanggar Seni Surya Putra juga merupakan binaan dari DISPORBUDPAR tersebut. Akhir-akhir ini nama Karawitan Anak Surya Putra mulai mengepakkan sayapnya di kancah nasional. Pada tahun 2015 lalu, Kelompok Karawitan Anak Surya Putra mencetak prestati sebagai juara umum dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional. Sejak itulah DISPORBUDPAR mulai tertarik untuk mengangkat anak-anak sanggar tersebut untuk lebih dikenal banyak masyarakat. Hingga pada akhirnya Kelompok Karawitan Anak Surya Putra diberangkatkan untuk mengisi kegiatan Upacara 17 Agustus 1945 ke 70 yang bertempat di Istana Negara, Jakarta. Suatu kehormatan dan penghargaan tertinggi untuk Kelompok Karawitan Anak Surya Putra. Dengan prestasi tersebut orang tua semakin mempercayakan anak-anaknya kepada Sanggar Surya Putra yang juga dibina oleh DISPORBUDPAR Kabupaten Blitar. Dari hari kehari dari tahun ke tahun anak-anak sanggar karawitan Surya Putra selalu mengikuti kegiatan yang bergengsi. Adapun beberapa kegiatan yang diikuti anak-anak tersebut sepanjang tahun 2015-2016 ini diantara kegiatan Jatim Specta Night Carnival, Pentas Apeksi di Kalimantan, dan beberapa acara bergengsi lainnya.
Pada tanggal 20 Oktober 2016 Karawitan Anak Surya Putra kembali mendapatkan kesempatan untuk unjuk kebolehannya didepan khalayak ramai pada acara bergengsi yaitu Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) tahun 2016 yang bertempatkan di Pelataran Sasana Langen Budaya, Kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Pada kegiatan tersebut, Kelompok Karawitan Surya Putra mempersembahkan sebuah Seni Pertunjukan Karawitan yang bertemakan Kesenian Rakyat Blitar. Pada penampilan kali ini anak-anak membawakan karya komposisi berjudul “Ilir-ilir Jaranan Tril”. Karya tersebut merupakan karya komposer Sanggar Surya Putra yaitu Sudarwyanto yang juga kerap dengan sapaan “Lik Tho”.
Ilir-ilir Jaranan Tril merupakan kolaborasi antara Karawitan dan Tari, dimana tari juga merupakan bagian dari karawitan yang disajikan oleh anak-anak sanggar Surya Putra. Pada dasarnya yang dipersembahkan oleh anak-anak duta seni Kabupaten Blitar tersebut adalah lagu Ilir-ilir yang sudah dikomposisi sedemikian rupa dengan nuansa anak-anak yang menonjol. Disamping menabuh, anak-anak juga dituntut untuk bergerak (menari) sambil menabuh sesuai dengan lirik-lirik yang dilagukan. Terkadang mereka menabuh dengan berdiri, jongkok, tengkurap, dan sebagainya. Memang gerakan tersebut tidak lazim dilakukan oleh pengrawit pada umunya saat menabuh. Ketika hal tersebut dilakukan, mungkin merubah pradigma bahwa seorang pengrawit pada saat menabuh harus duduk bersila dengan berbagai “aturan” yang menyertai seorang pengrawit.
Dilain sisi, saat ini tuntutan sebuah pertunjukan haruslah menarik dan dapat menyerap perhatian penonton. Jika kita melihat dan berkaca pada Karawitan yang mengadopsi Gaya Keraton memang cenderung mengutamakan etika dan estetika seorang pengrawit dan segala hal yang menyertai karawitan. Hal tersebut memang benar adanya,  karena dilingkungan Keraton tata karma, sopan santun benar-benar diutamakan. Jika kedua kasus ini antara Karawitan Anak Surya Putra dengan Karawitan pada umumnya memang memiliki perbedaan yang mencolok dalam hal etika dan estetika ketika membawakan sebuah karya musik tradisi. Di luar Kelompok Karawitan Anak Surya Putra juga banyak yang melakukan hal serupa dengan menjadikan gerak sebagai pendukung sajian karawitan salah satu diantaranya adalah karya karawitan “Gandrung Marsam” yang disajikan oleh musisi karawitan Banyuwangi di Jakarta.
Akan tetapi kembali lagi pada masing-masing orang memiliki sudut pandang yang berbeda menurut argumennya masing-masing. Apalagi dalam dunia seni tidak mengenal “salah-benar” tetapi yang ada “enak-tidak enak”. Oleh karena itu apapun yang terjadi berkarya tidak mengenal batas, apalagi batasan pada etika dan estetika pada dunia Karawitan asalkan masih dalam “batas sewajarnya” dan tidak terlalu “ekstrim”. Pengembangan seni juga sangat diperlukan demi memunculkan nuansa baru dunia karawitan agar lebih segar untuk dinikmati oleh masyarakat.
Sekarang tinggal dikembalikan lagi pada masyarakat yang merupakan penikmat seni karawitan tersebut. Kritik dan saran dari semua penikmat seni merupakan bentuk perhatian dari berbagai pihak demi kebaikan dimasa mendatang. Alangkah baiknya jika semua berpegang teguh pada argumentasi dan jati diri yang dimiliki oleh masing-masing kelompok karawitan. Karena dengan berpegang teguh pada masing-masing argumen mampu membentuk karakter sehingga memiliki kekhasan yang tidak dimiliki kelompok lainnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar