“KEHIDUPAN KELOMPOK
KARAWITAN ANAK SURYAPUTRA
DI KABUPATEN BLITAR”
Nama : Dhimaz Anggoro Putro
NIM : 13111101
Usia anak-anak
memang merupakan usia dini yang patut untuk mendapatkan perhatian lebih dari
berbagai pihak yang ada disekitarnya. Perhatian tersebut perlu dilakukan agar
dapat memberi pengarahan kepada anak-anak untuk dapat melakukan kegiatan yang
positif. Maklum saja, di zaman yang seperti sekarang ini banyak anak-anak yang
sudah mengenal gadget dan teknologi canggih lainnya. Dari kecanggihan teknologi
tersebutlah dapat memberikan pengaruh positif dan tidak menutup kemungkinan
munculnya pengaruh negatif yang dapat mempengaruhi pola pikir anak-anak. Banyak
hal yang dapat dilakukan untuk mencegah masuknya pengaruh negatif tersebut.
Dilingkungan sekolah mungkin telah diajarkan pendidikan norma sosial dan
sebagainya. Namun, lingkungan sekolah pun belum bisa menjamin keamanan dari
pegaruh negatif yang masuk kepada anak-anak karena masih banyak lingkungan
disekitar anak yang lebih bersinggungan langsung dengan si anak, misalnya
lingkungan keluarga. Keluarga merupakan organisasi terkecil yang dapat
bersinggungan langsung dengan si anak.
Keluarga juga dapat
mencegah masuknya pengaruh negatif yang masuk kepada anak-anak. Salah satu cara
yaitu dengan mengikutsertakan anak-anak pada kegiatan yang bersifat positif.
Kegiatan positif tersebut dapat mengacu pada kegiatan sosial, budaya, dan
sebagainya. Sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak pada Kelompok
Karawitan Anak Surya Putra. Orang tua dari anak-anak tersebut memutuskan untuk
membina putra-putrinya untuk menambah ilmu pengetahuan terkait Seni Karawitan.
Sanggar Surya Putra yang dipimpin oleh Ki Wandono dan Sudarwyanto S.Kar yang
juga merupakan lulusan STSI telah mendirikan sanggarnya sejak tahun 2000-an.
Memang visi dan misi utama dari sanggar ini adalah melahirkan generasi-generasi
penerus budaya bangsa, seni karawitan khususnya di Kabupaten Blitar. Selain
kegiatan-kegiatan latihan rutin dilakukan, kelompok karawitan anak Surya Putra
juga sering mengikuti kegiatan festival dan perlombaan diberbagai tingkat
regional, krasidenan, bahkan nasional.
Kelompok karawitan
anak Surya Putra yang beranggotakan anak-anak usia kelas 4-5 SD hingga kelas
1-3 SMP ini juga sering menyumbangkan berbagai penghargaan untuk daerah melalui
Dinas PORBUDPAR (Pemuda, Oleh Raga, dan Pariwisata) karena Sanggar Seni Surya
Putra juga merupakan binaan dari DISPORBUDPAR tersebut. Akhir-akhir ini nama
Karawitan Anak Surya Putra mulai mengepakkan sayapnya di kancah nasional. Pada
tahun 2015 lalu, Kelompok Karawitan Anak Surya Putra mencetak prestati sebagai
juara umum dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional. Sejak itulah DISPORBUDPAR
mulai tertarik untuk mengangkat anak-anak sanggar tersebut untuk lebih dikenal
banyak masyarakat. Hingga pada akhirnya Kelompok Karawitan Anak Surya Putra
diberangkatkan untuk mengisi kegiatan Upacara 17 Agustus 1945 ke 70 yang
bertempat di Istana Negara, Jakarta. Suatu kehormatan dan penghargaan tertinggi
untuk Kelompok Karawitan Anak Surya Putra. Dengan prestasi tersebut orang tua
semakin mempercayakan anak-anaknya kepada Sanggar Surya Putra yang juga dibina
oleh DISPORBUDPAR Kabupaten Blitar. Dari hari kehari dari tahun ke tahun
anak-anak sanggar karawitan Surya Putra selalu mengikuti kegiatan yang
bergengsi. Adapun beberapa kegiatan yang diikuti anak-anak tersebut sepanjang
tahun 2015-2016 ini diantara kegiatan Jatim Specta Night Carnival, Pentas
Apeksi di Kalimantan, dan beberapa acara bergengsi lainnya.
Pada tanggal 20 Oktober 2016 Karawitan Anak Surya
Putra kembali mendapatkan kesempatan untuk unjuk kebolehannya didepan khalayak
ramai pada acara bergengsi yaitu Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) tahun
2016 yang bertempatkan di Pelataran Sasana Langen Budaya, Kompleks Taman Mini
Indonesia Indah, Jakarta Timur. Pada kegiatan tersebut, Kelompok Karawitan
Surya Putra mempersembahkan sebuah Seni Pertunjukan Karawitan yang bertemakan
Kesenian Rakyat Blitar. Pada penampilan kali ini anak-anak membawakan karya
komposisi berjudul “Ilir-ilir Jaranan
Tril”. Karya tersebut merupakan karya komposer Sanggar Surya Putra yaitu
Sudarwyanto yang juga kerap dengan sapaan “Lik
Tho”.
Ilir-ilir Jaranan Tril merupakan kolaborasi antara
Karawitan dan Tari, dimana tari juga merupakan bagian dari karawitan yang
disajikan oleh anak-anak sanggar Surya Putra. Pada dasarnya yang dipersembahkan
oleh anak-anak duta seni Kabupaten Blitar tersebut adalah lagu Ilir-ilir yang
sudah dikomposisi sedemikian rupa dengan nuansa anak-anak yang menonjol.
Disamping menabuh, anak-anak juga dituntut untuk bergerak (menari) sambil
menabuh sesuai dengan lirik-lirik yang dilagukan. Terkadang mereka menabuh
dengan berdiri, jongkok, tengkurap, dan sebagainya. Memang gerakan tersebut tidak
lazim dilakukan oleh pengrawit pada umunya saat menabuh. Ketika hal tersebut
dilakukan, mungkin merubah pradigma bahwa seorang pengrawit pada saat menabuh
harus duduk bersila dengan berbagai “aturan” yang menyertai seorang pengrawit.
Dilain sisi, saat ini tuntutan sebuah pertunjukan
haruslah menarik dan dapat menyerap perhatian penonton. Jika kita melihat dan
berkaca pada Karawitan yang mengadopsi Gaya Keraton memang cenderung
mengutamakan etika dan estetika seorang pengrawit dan segala hal yang menyertai
karawitan. Hal tersebut memang benar adanya, karena dilingkungan Keraton tata karma, sopan
santun benar-benar diutamakan. Jika kedua kasus ini antara Karawitan Anak Surya
Putra dengan Karawitan pada umumnya memang memiliki perbedaan yang mencolok
dalam hal etika dan estetika ketika membawakan sebuah karya musik tradisi. Di
luar Kelompok Karawitan Anak Surya Putra juga banyak yang melakukan hal serupa
dengan menjadikan gerak sebagai pendukung sajian karawitan salah satu
diantaranya adalah karya karawitan “Gandrung Marsam” yang disajikan oleh musisi
karawitan Banyuwangi di Jakarta.
Akan tetapi kembali lagi pada masing-masing orang
memiliki sudut pandang yang berbeda menurut argumennya masing-masing. Apalagi
dalam dunia seni tidak mengenal “salah-benar”
tetapi yang ada “enak-tidak enak”.
Oleh karena itu apapun yang terjadi berkarya tidak mengenal batas, apalagi
batasan pada etika dan estetika pada dunia Karawitan asalkan masih dalam “batas
sewajarnya” dan tidak terlalu “ekstrim”. Pengembangan seni juga sangat
diperlukan demi memunculkan nuansa baru dunia karawitan agar lebih segar untuk
dinikmati oleh masyarakat.
Sekarang tinggal dikembalikan lagi pada masyarakat
yang merupakan penikmat seni karawitan tersebut. Kritik dan saran dari semua
penikmat seni merupakan bentuk perhatian dari berbagai pihak demi kebaikan
dimasa mendatang. Alangkah baiknya jika semua berpegang teguh pada argumentasi
dan jati diri yang dimiliki oleh masing-masing kelompok karawitan. Karena
dengan berpegang teguh pada masing-masing argumen mampu membentuk karakter
sehingga memiliki kekhasan yang tidak dimiliki kelompok lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar