Adi Raos Asal Sumberlawang Group Karawitan
yang Tetap
Eksis di Sragen
Nama : Teki Teguh Setiawan
NIM : 12111102
Prodi : Seni Karawitan
Sragen
merupakan kabupaten yang kental akan budayanya.Sragen ditetapkan oleh Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 1977 sebagai kota cagar budaya yang
mempunyai kesenian paling komplit dari daerah lainnya, kesenian tersebut antara
lain :Grup band, organ tunggal,
campursari, tayub, karawitan, tari, wayang, wayang cokek, rebana, lesung dan
ketroprak. Salah satu kesenian yang patut dibanggakan dari kabupaten tersebut
adalah kesenian karawitan.Pasalnya Sragen mempunyai sanggar kesenian karawitan yang
paling banyak dibandingkan daerah lainnya di Jawa Tengah.
Menurut
Sugino S.sn selaku seniman sekaligus anggota dinas pariwisata, kurang lebih
terdapat hampir900 sanggar gamelan yang terdaftar resmi di Sragen, daftar
tersebut belum mencakup sanggar lainnya yang belum didaftarkan secara resmi.

Salah satu
sanggar yang tetap eksis dan mempunyai tempat tersendiri di masyarakat adalah
grup karawitan Adi Raos. Sanggar tersebut berdiri sejak tanggal 02 September
2006 yang diresmikan oleh bupati pada saat itu yaitu Untung Wiyono. Pemimpin
sekaligus pendiri sanggar tersebut adalah Sugino. Beliau dahulu juga alumni
ASKI pada tahun 1994 yang kini berubah nama menjadi ISI.
Sanggar tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan,
seperti kata pepatah “Tiada gading yang tak retak”. Banyak kelebihan dari
sanggar tersebut dibandingkan grup lainnya, kelebihan tersebut antara lain
adalah penabuh yang masih muda dan rata-rata dari mahasiswa atau berpendidikan
dibandingkan sanggar lainnya, gamelan yang sangat terawat, garap gending
karawitan yang kreatif dan menguasai banyak gending baik gaya Surakarta, Jogja,
Ki Narto Sabdo dan gaya Sragenan itu sendiri.
Selain
itu, Pesinden adalah salah satu bagian yang sangat penting dalam pementasan
karawitan. Selain fungsinya yang vital sebagai swarawati atau vokalis dalam
gamelan, Kini untuk memenuhi pasar masyarakat, sebuah sanggar karawitan dalam
setiap pementasan harus memiliki pesinden yang muda atau masyarakat menyebutnya
“nom-noman” . Masyarakat sekarang
menuntut kurang lengkap rasanya jika dalam pertunjukan karawitan tidak ada
pesinden muda. Hal inilah juga yang dimilik oleh sanggar karawitan Adi Raos.
Biasanya, sanggar tersebut bekerjasama dengan mengambil pesinden muda dari ISI
maupun pesinden muda lokal dari Sragen.
. Hal itulah yang membuat pemimpin
sanggar Adi Raos sekaligus pengendangnya
mempunya ide yang tak dimilik sanggar karawitan lain. Ide –ide tersebut menjadi
alasan untuk memikat masyarakat dan sebagai senjata untuk memasarkan gamelan
supaya tetap eksis. Biasanya sanggar tersebut manggung tidak hanya di daerah
Sragen melainkan keluar daerah lain seperti Karanganyar, Boyolali, Semarang,
Surabaya dan Jakarta, hal ini membuktikan bahwa sanggar tersebut memiliki
jangkauan luas dan mampu eksis dibandingkan sanggar lain yang berdiri lebih
dahulu namun pasarannya belum sampai kedaerah tersebut melainkan hanya
berlingkup kecildan tidak keluar dari daerah Sragen.
Kekurangan pada sanggar tersebut
terletak pada kurangnya promosi dibidang
medi sosial dan kaset serta harga yang “sedikit” mahal dibandingkan sanggar
karawitan lainnya. Promosi di media sosial kurang terprogam dan direncanakan
dengan baik bahkan hanya sedikit sekali informasi yang dapat kita dapat dari
beberapa media sosial online seperti Artikal di internet, Fb, Instagram maupun
BBM. . Selain itu, kaset adalah salah
satu media untuk promosi yang sangat penting “Saya mepromosikan sanggar
biasanya lewat radio maupun kaset, saya dulu juga pernah rekaman bersama
rombongan pengrawit tahun 2009 dalam bentuk VCD untuk dijual kepasaran” kata
Sugino. Kaset yang beredar dipasar maupun masyarakat masih sangat sedikit dan mungkin
kurang terprogamnya untuk promosi dibidang tersebut.
Terelepas dari kekurangan dan
kelebihan sanggar tersebut, mayarakat mempunyai penilain yang berbeda dari
sudut pandang penulis. Sanggar karawitan Adi Raos dapat tetap eksis karena
selalu berinovasi dan mengikuti perkembangan pasar.Perkembangan karawitan tersebut
tidak lepas dari tuntutan pasar penikmat seni yang tak lain adalah masyarakat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar