PEMBAWAAN “HANTU” MAHASISWA JURUSAN KARAWITAN
Malam itu tanggal 25 Oktober 2016,
suara alunan gamelan terdengar begitu indahnya di dalam Gedung Teater Kecil
yang merupakan salah satu gedung pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI)
Surakarta. Indahnya alunan musik Jawa itu seakan mampu menghipnotis siapa saja
yang mendengarnya, bagaikan musik penghantar tidur yang akan membawa ke alam
mimpi. Malam itu merupakan malam gladi bersih bagi mahasiswa-mahasiswi jurusan
karawitan yang sedang menempuh ujian pembawaan. Gladi bersih dilakukan malam
sebelum hari pementasan ujian yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober
2016 esok hari. Pembawaan adalah syarat yang wajib ditempuh mahasiswa Jurusan
Karawitan guna memenuhi persyaratan tugas akhir. Bagi sebagian mahasiswa bahkan
hampir semuanya, pembawaan merupakan suatu hal yang paling menakutkan bagaikan
‘’hantu’’ yang selalu mengusik ketenangan. Berbagai ketentuan dan persyaratan
yang harus dipenuhi barangkali yang membuat ujian ini bagaikan suatu momok yang
begitu menakutkan dan mengerikan.
Untuk dapat melalui ujian ini para
mahasiswa harus menempuh beberapa tahap dan proses yang sangat melelahkan.
Perjuangan keras, doa dan ikhtiar harus senantiasa dilakukan karena untuk bisa
maju menjalani ujian pembawaan ada syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu
mahasiswa harus lulus mata kuliah tabuh bersama satu sampai dengan empat.
Selain itu kesiapan mental, skill dan materiil juga menjadi syarat utama untuk
bisa menjalani ujian pembawaan ini. Biasanya ujian pembawaan dilaksanakan
secara berkelompok yang terdiri dari empat mahasiswa, dengan menyajikam empat
ricikan pokok dari seperangkat instrumen gamelan yang nantinya akan dinilai
dalam ujian pembawaan yaitu rebab, kendang,
gender, serta vokal sinden. Masing-masing
mahasiswa wajib memilih dan menyajikan salah satu dari ricikan pokok tersebut
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Untuk materi yang akan disajikan
terdapat 6 jenis gendhing yang telah ditentukan oleh para dosen penguji yang harus
dipilih oleh setiap kelompok yang nantinya akan diambil 2 gendhing yang diundi
secara acak pada waktu ujian berlangsung dengan syarat hafal materi tanpa
adanya notasi. Proses pengundian inilah yang membuat ketakutan yang teramat
sangat bagi para mahasiswa bagaikan hantu yang muncul secara tiba-tiba.
Ketegangan dan wajah pucat pasti selalu nampak begitu jelas di wajah para
mahasiswa penyaji. Tak jarang dari beberapa mahasiswa melakukan beberapa
kesalahan akibat dari rasa tegang yang berlebihan.
Materi-materi yang disediakan oleh
para dosen Jurusan Karawitan sendiri antara lain adalah Sinom Gendhing kethuk 4 kerep minggah 4 Laras Pelog pathet Barang,
Sembawa Gendhing kethuk 2 kerep minggah Ladrang Tedhak Saking kalajengaken
Ketawang Girisa Laras Pelog Pathet lima, Kabor Ketawang Gendhing Kethuk 2 kerep
Minggah Ladrang. Sekar Lesah Laras Slendro Pathet Nem, Gendreh Gendhing.
Kethuk. 4 Kerep Minggah 8 Laras Slendro Pathet Manyura, Lipur Erang-erang
Gendhing. Kethuk 2 Kerep Minggah 4 Kalajengaken Ladrang Tirta Kencana Laras Pelog Pathet Nem, Jineman
Uler Kambang Dhawah Bandelori Gendhing Kethuk 2 Kerep Minggah Ladrang
Eling-eling Kasmaran Kalajengaken Ketawang
Dhandanggula Tlutur Laras Slendro Pathet Sanga. Dari enam jenis gendhing
tersebut sudah mempunyai bentuk dan Pathet yang berbeda. Penghafalan jelas
sangat dituntut dalam ujian pembawaan ini untuk mendapat nilai yang baik
nantinya, karena itu sebelum pementasan dilaksanakan dilakukan ujian penentuan
yang dilakukan untuk menentukan siapa saja mahasiswa yang akan lolos ke tahap
berikutnya yaitu proses latihan bersama dosen pembimbing selama kurang lebih 4 minggu untuk penghafalan
dan pemantapan materi. Dalam proses latian pembawaaan ini melibatkan para
mahasiswa dari semester satu sampai dengan tujuh untuk mendukung tiap-tiap
kelompok sampai dengan waktu pelaksanaan ujian nantinya. Semua mahasiswa
dilibatkan tidak terkecuali para mahasiswi. Hal ini merupakan indikasi bahwa
kualitas perempuan tidak jauh dibedakan dengan laki-laki dalam hal menabuh
gamelan. Pelibatan semua mahasiswa ini menurut saya sangatlah baik dimana pada
proses ini akan mampu memberikan pengalaman bagi mahasiswa-mahasiswa lain yang
nantinya juga akan menjalani ujian pembawaan, selain itu proses ini sangatlah
bermanfaat sebagai media pengenalan bentuk-bentuk gendhing Gaya Surakarta
terutama bagi mahasiswa semester baru.
Dalam proses latihan ujian pembawaan
membutuhkan kerja sama yang baik antara pendukung dan penyaji untuk
menghasilkan sajian yang maksimal sesuai dengan harapan dan standar penilaian.
Tetapi pada prakteknya sangat disayangkan kerja sama tersebut kurang mampu
terjalin dengan baik, karena masih banyaknya para pendukung yang sering
bermalas-malasan untuk datang pada proses latihan. Kurangnya kesadaran ini
tentu sangatlah merugikan karena banyaknya instrumen yang tidak terisi sehingga
dapat menganggu jalinan lagu antar instrumen karena pada dasarnya karawitan
adalah sebuah konser musik dengan jalinan komunikasi antar instrumen yang kuat.
Disisi lain dengan tidak lengkapnya instrumen yang ditabuh akan dapat
mengurangi keindahan sajian musikal. Sebagai seorang pecinta karawitan saya
sangat mengharapkan hal ini dapat segera dibenahi untuk proses kedepannya dan
ujian pembawaan bukanlah menjadi hal yang perlu ditakuti lagi oleh mahasiswa
khususnya Jurusan Karawitan.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar