Senin, 28 November 2016

Karawitan sebagai sarana ungkap




Karawitan sebagai sarana ungkap

Nama               : Putri Retno Pamungkas
Nim                 : 13111137
Jurusan            : Seni Karawitan
No. hp             : 082221229019


Kelompok Karawitan Nurasa, di dalamnya terdapat banyak sekali gendhing-gendhing yang di garap sendiri seperti komposisi namun bersifat membangun masyarakat atapun mengkritik tentang politik. Selain itu juga kelompok Karawitan ini sangat bersemangat dalam berlatih maupun pentas, pemimpinnyapun sangat hebat dalam menggarap atau membuat sebuah komposisi musik gendhing, ladrang, lancaran atau dolanan. Namun tidak hanya itu saja di dalam garapannya terdapat beberapa gendhing yang menyindir tentang kehidupan masyarakat yang tidak baik dan tentang korupsi yang sedang marak di negara kita sekarang.
Dalam kelompok Karawitan Nurasa pun terdapat gamelan Lokdro, yang berarti pelog slendro. Di dalam iringannya hanya terdapat demung, saron, bonang penembung, kempul, gong serta kendhang yang seperti perkusi, jumlah saronnya pun tidak sama seperti saron pada umumnya gamelan, namun jumlah bilah gamelan lokdro memiliki lebih banyak bilah. Gamelan Lokdro di sajikan untuk Tari Sesaji yang akan dilaksanakan pada pembukaan Hari Wayang Dunia yang jatuh pada tanggal 7 November 2016, cakepan atau lirik dari gamelan Lokdro itu sendiri bercerita tentang Hari Wayang Dunia. Yang baru saya ketahui , kelompok karawitan nurasalah yang memiliki gamelan Lokdro. Menurut saya sangat kreatif sekali pemimpin menciptakan gamelan lokdro tersebut.
Nurasa tidak berperan hanya sebagai pengiri Tari Sesaji saja, namun kelompok Nurasa juga berperan dalam pembukaan Hari Wayang Dunia tersebut. Di dalam karya-karyanya pun tidak menggunakan karya yang sudah ada, namun pemimpin membuat karya baru, mungkin agar tidak monoton itu-itu saja yang di tampilkan. Disinilah yang saya salut terhadap kelompok Karawitan Nurasa ini,  setiap di undang atau ditanggap kelompok Karawitan ini selalu menampilkan karya baru dan bentuk serta ini garapnnya pun menyesuaikan dengan apa yang akan ditampilkan dan apa yang menurut beliau-beliau sesuai dengan keadaan setempat.
Yang saya sukai dari kelompok ini yakni tidak monoton dalam menggarap sebuah gendhing, namun dalam menggarap karawitannya  mengikuti berkembangan zaman yang semakin maju dan modern. Karya-karya karawitan ini juga sangat mudah di hafal dan melekat di hati menurut saya, karna selalu sesuai dengan apa yang terjadi di kalangan-kalangan saat ini. Di dalam gendhing-gendhing yang kelompok ini garappun tidak hanya yang bersifat sedih, namun juga bersifat gembira, marah serta lain sebagainya. karawitan ini pun tidak selalu menggunakan gamelan, tetapi juga menggunakan garap akapela yang dulu pernah disajikan dalam konser Gamelan Akbar.
Terdapat pula dalam karya yang berjudul Cokar-Ceker dan Jilat. Dalam karya ini si pemimpin menyendiri masyarakat yang selalu berbicara panjang lebar serta selalu berebutan dalam segala hal, dan tidak ingat bahwa masih banyak orang lain yang selalu montang-manting. Sedangkan orang bodoh malah selalu mengandal tembung “aji  mumpung” dan mereka yang menggunakan tembung seperti itu tidak punya muka atau yang biasa di sebut dalam bahasa kasar yakni “rai”. Selain itu orang baik malah selalu diremehkan dan orang baik selalu saja kecelik (keblinger).
Sedangkan isi dari karya yang berjudul Jilat yakni, jilat menjilat sudah merakyat, semacam itu sudah meraja lela dimana mana, mereka selalu saling berbicara satu sama lain dan membuat onar, berbicara keras-kerasan seperti kepala batu yang selalu ingin menang sendri. Tekad, drajad, pangkat selalu berhubungan dengan bermaksiat selalu saja di utamakan oleh mereka orang-orang yang selalu iri dengan pendapat orang lain. Dua karya ini menurut saya sangat baik dan dapat membuat contoh bagi mereka yang selalu saja mengadu domba atau menyalah gunakan apa yang telah terjadi.
Menurut saya kelompok Karawitan Nurasa ini sangat kreatif dan karya-karyanya pun patut kita contoh sebagai acuan membuat sebuah karya. Tidak harus dengan kritikan yang selalu di balas dengan kata-kata yang kasar dan berbincangan yang pedas namun dapat dibalas dengan pujian karena sebuah karya itu menuntun agar kita tidak seperti mereka yang selalu menjadi kompor.
Saran saya, selalulah berkarya dengan karya yang positif dan dapat di terima baik oleh masyarakat dan dapat menjadi panutan yang baik pula. Jika membuat karya yang menyindir, nyindirlah yang baik karna tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama satu sama lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar