Karawitan sebagai sarana ungkap
Nama : Putri Retno Pamungkas
Nim : 13111137
Jurusan : Seni Karawitan
No. hp : 082221229019
Kelompok
Karawitan Nurasa, di dalamnya terdapat banyak sekali gendhing-gendhing yang di
garap sendiri seperti komposisi namun bersifat membangun masyarakat atapun
mengkritik tentang politik. Selain itu juga kelompok Karawitan ini sangat
bersemangat dalam berlatih maupun pentas, pemimpinnyapun sangat hebat dalam
menggarap atau membuat sebuah komposisi musik gendhing, ladrang, lancaran atau
dolanan. Namun tidak hanya itu saja di dalam garapannya terdapat beberapa
gendhing yang menyindir tentang kehidupan masyarakat yang tidak baik dan
tentang korupsi yang sedang marak di negara kita sekarang.
Dalam
kelompok Karawitan Nurasa pun terdapat gamelan Lokdro, yang berarti pelog slendro. Di dalam iringannya hanya
terdapat demung, saron, bonang penembung, kempul, gong serta kendhang yang
seperti perkusi, jumlah saronnya pun tidak sama seperti saron pada umumnya
gamelan, namun jumlah bilah gamelan lokdro
memiliki lebih banyak bilah. Gamelan Lokdro
di sajikan untuk Tari Sesaji yang akan dilaksanakan pada pembukaan Hari
Wayang Dunia yang jatuh pada tanggal 7 November 2016, cakepan atau lirik dari
gamelan Lokdro itu sendiri bercerita
tentang Hari Wayang Dunia. Yang baru saya ketahui , kelompok karawitan
nurasalah yang memiliki gamelan Lokdro. Menurut
saya sangat kreatif sekali pemimpin menciptakan gamelan lokdro tersebut.
Nurasa
tidak berperan hanya sebagai pengiri Tari Sesaji saja, namun kelompok Nurasa
juga berperan dalam pembukaan Hari Wayang Dunia tersebut. Di dalam
karya-karyanya pun tidak menggunakan karya yang sudah ada, namun pemimpin
membuat karya baru, mungkin agar tidak monoton itu-itu saja yang di tampilkan.
Disinilah yang saya salut terhadap kelompok Karawitan Nurasa ini, setiap di undang atau ditanggap kelompok
Karawitan ini selalu menampilkan karya baru dan bentuk serta ini garapnnya pun
menyesuaikan dengan apa yang akan ditampilkan dan apa yang menurut
beliau-beliau sesuai dengan keadaan setempat.
Yang
saya sukai dari kelompok ini yakni tidak monoton dalam menggarap sebuah
gendhing, namun dalam menggarap karawitannya mengikuti berkembangan zaman yang semakin maju
dan modern. Karya-karya karawitan ini juga sangat mudah di hafal dan melekat di
hati menurut saya, karna selalu sesuai dengan apa yang terjadi di
kalangan-kalangan saat ini. Di dalam gendhing-gendhing yang kelompok ini
garappun tidak hanya yang bersifat sedih, namun juga bersifat gembira, marah
serta lain sebagainya. karawitan ini pun tidak selalu menggunakan gamelan,
tetapi juga menggunakan garap akapela
yang dulu pernah disajikan dalam konser Gamelan
Akbar.
Terdapat
pula dalam karya yang berjudul Cokar-Ceker
dan Jilat. Dalam karya ini si pemimpin menyendiri masyarakat yang selalu
berbicara panjang lebar serta selalu berebutan dalam segala hal, dan tidak
ingat bahwa masih banyak orang lain yang selalu montang-manting. Sedangkan
orang bodoh malah selalu mengandal tembung “aji
mumpung” dan mereka yang menggunakan tembung seperti itu tidak punya
muka atau yang biasa di sebut dalam bahasa kasar yakni “rai”. Selain itu orang
baik malah selalu diremehkan dan orang baik selalu saja kecelik (keblinger).
Sedangkan
isi dari karya yang berjudul Jilat yakni,
jilat menjilat sudah merakyat, semacam itu sudah meraja lela dimana mana,
mereka selalu saling berbicara satu sama lain dan membuat onar, berbicara
keras-kerasan seperti kepala batu yang selalu ingin menang sendri. Tekad,
drajad, pangkat selalu berhubungan dengan bermaksiat selalu saja di utamakan oleh
mereka orang-orang yang selalu iri dengan pendapat orang lain. Dua karya ini
menurut saya sangat baik dan dapat membuat contoh bagi mereka yang selalu saja
mengadu domba atau menyalah gunakan apa yang telah terjadi.
Menurut
saya kelompok Karawitan Nurasa ini sangat kreatif dan karya-karyanya pun patut
kita contoh sebagai acuan membuat sebuah karya. Tidak harus dengan kritikan
yang selalu di balas dengan kata-kata yang kasar dan berbincangan yang pedas
namun dapat dibalas dengan pujian karena sebuah karya itu menuntun agar kita
tidak seperti mereka yang selalu menjadi kompor.
Saran
saya, selalulah berkarya dengan karya yang positif dan dapat di terima baik
oleh masyarakat dan dapat menjadi panutan yang baik pula. Jika membuat karya
yang menyindir, nyindirlah yang baik karna tidak semua orang memiliki pemikiran
yang sama satu sama lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar