Selasa, 22 November 2016

Struktural yang Terabaikan




Struktural yang Terabaikan


Nama : Rahmat(081315918566)
Nim : 13111117
Prodi/smt : Karawitan/VII


Gendhing terbentuk dari  sebuah struktur yang dibangun oleh instrumen kethuk, kempyang, kenong, kempul, dan gong. Dari empat instrumen itulah yang menjadikan gendhing yang berbentuk gangsaran, lancaran, ketawang, ladrang, gendhing kethuk 2 kerep, dan  bentuk gendhing lainnya sampai dengan ayak dan sampak. Oleh karena itu, sebuah gendhing apapun akan dapat diketahui bentuk gendhingnya di lihat dari tabuhan strukturalnya yaitu dari kethuk, kempyang, kenong, kempul dan gong.  Maka dari itu, seharusnya keempat pemain yang menabuh instrumen struktural itu harus sangat diperhitungkan kemampuannya dalam memainkan instrumen struktural tersebut. Hal tersebut dikarenakan keempat instrumen tersebut mempunyai kepakeman dalam tabuhannya. Sebagai contoh instrumen ketuk. Apabila dalam sajian gending ketawang pemain kethuk menabuhnya diantara sabetan balungan seperti halnya lancaran, maka itu akan mempengaruhi bentuk strukturnya dan sudah tentu itu salah, karena tabuhan struktural tersebut mempunyai sifat yang pakem atau harus.
Dalam dunia panggung karawitan, entah karawitan yang mengiringi wayang, tari, ataupun kethoprak sekarang ini, kemampuan yang menabuh instrumen struktural justru dianggap remeh atau seadanya daripada seseorang yang trampil dalam memainkan instrumen demung, saron yang pada jaman sekarang “gayeng” adalah tuntutan konsumen karawitan. Tuntutan masyarakat yang seperti itulah yang pada zaman sekarang ini ketrampilan, kecepatan tempo, suara yang cenderung sangat keras lebih diperhatikan dan diperhitungkan dari pada seseorang yang mampu dan mengerti mengenai struktur-struktur tabuhan struktural dalam gending. Bahkan sekarang pemain yang menabuh instrumen struktural tersebut diisi atau ditabuh oleh seseorang yang kurang menguasai dalam instrumen tersebut. Hasilnya adalah sajian gending tidak dapat terstruktur dengan baik. Sebagai contoh yang sering terjadi dalam dunia panggung karawitan. Gending yang disajikan adalah gendhing yang berbentuk ladrang.  Instrumen kethuk, kempyang, kenong, kempul, dan gong menyajikan struktur yang  berbentuk ketawang, namun kendhang menggunakan pola kendangan ladrang. walaupun bisa saja disajkan namun tidak seharusnya disajikan sepeti itu, karena semua bentuk gending sudah terdapat pakem yang berstruktur untuk membentuk sebuah gending , yaitu ricikan atau instrumen struktral yang sudah dipakemkan dan harus ditabuh sesuai  tempat dimana dan kapan harus menabuh.
Apabila kita telusuri dari nenek moyang maupu tokoh seniman karawitan terdahulu, banyak yang mengatakan ricikan struktural adalah ricikan yang sakral. Bahkan seorang pengendang pun yang dalam sajian karawitan sebagai pamurba irama atau yang berkuasa dalam sajiannya, apabila tidak mengenal gendingnya akan bertanya “apa bentuk dan stuktur gendingnya?”. Hal tersebut dikarenakan struktur gending yang akan mengatur bagaimana pola kendangan atau skema kendangan yang akan disajikan oleh seorang pengendang. Oleh sebab itulah, pada zaman dahulu struktur sangat penting dan dianggap sangat sakral dalam sajian karawitan karena dapat menentukan sajian instrumen lainya.

Tidak hanya itu, terjadi hal yang menarik pula apabila ricikan struktural disepelekan terutama oleh pimpinan kelompok seni karawitan. Selain akan merusak struktur gending dikarenakan oleh pemainnya tidak memahami mengenai struktur gending yang dikarenakan penyepelean oleh pihak pimpinanan karawitran, akan terjadi   pula ketidak sesuaian upah yang diberikan oleh pimpinan karawitan kepada seseoraang yang menabuh  ricikan struktural walaupun sebenarnya ada juga pemain yang paham mengenai struktur gending. Fakta berbicara, bahwa sekarang seseorang yang kurang menguasai instrumen apapun akan diletakkan pada instrumen kethuk. Upah yang diberikan justru lebih sedikit apabila dibandingkan dengan instrumen lainnya. Bahkan apabila dibandingkan dengan istrumen demun, saron, dan saron penerus, upah yang diberikan lebih banyak kepada instrumen tersebut dibandingkan dengan instrumen struktural yang pada zaman dahulu sangat disakralkan oleh seniman karawitan terdahulu dikarenakan kepakemannya dalam setiap gending yang disajikan. Seharusnya upah yang diberikan oleh pemain yang memainkan instrumen struktural setidaknya sama dengan seorang yang  memainkan gendher, kendhang atau setidaknya sama dengan yang lain. Selain itu ada juga yang memanfaatkan dari upah yang rendah dari pemain yang menabuh instrumen struktural, sehingga pimpinan dari kelompok karawitan akan lebih banyak meraih untungnya secara material. Bukan sesuatu yang rahasia lagi seorang pimpinan karawitan yang hanya duduk dan menerima job lebih kaya materinya dari pada seorang pengrawit yang walaupun setiap hari menabuh dan menerima job. Apakah ada permaianan materi yang dibagikan oleh  pimpinan kelompok karawitan? hanya dia dan Allah yang tahu. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap penurunan pelestari tradisi yang benar-benar melestarikan karawitan saperti leluhur atau seniman karawitan terdahulu. Imbas lainnya seniman muda akan berminat kesesuatu lebih diminati masyarakat dari pada belajar karawitan yang tradisi. Hal tersebutlah yang memang sekarang ini terjadi. Sesuatu yang seharusnya sangat penting namun sekarang terabaikan karena tuntutan konsumen yang lebih memilih dan meminta sesuatu yang bernuansa gayeng.
Semua akibat yang terjadi ini dikarenakan kurangnya rasa cinta kita terhadap pelestarian tradisi. Tradisi yang seharusnya kita jaga keaslianya. Walaupun sekarang banyak tradisi yang hilang tentang karawitan yang benar-benar tradisi, namun setidaknya kita sebagai seniman atau sebagai pemilik tradisi tersebut harus  berusaha menjaga dan melestarikannya. Kenyataannya, Sebagian besar seniman mengembangakan karawitan tanpa tahu imbas dan  penanggulangan tradisi yang di kembangkan. Seharusnya pengembangan di fungsikan agar masyarakat lebih dekat dan  mengenal seni karawitan tanpa melupakan tradisi karawitan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar