Struktural
yang Terabaikan
Nama : Rahmat(081315918566)
Nim : 13111117
Prodi/smt : Karawitan/VII
Gendhing terbentuk
dari sebuah struktur yang dibangun oleh
instrumen kethuk, kempyang, kenong, kempul, dan gong. Dari empat instrumen
itulah yang menjadikan gendhing yang berbentuk gangsaran, lancaran, ketawang,
ladrang, gendhing kethuk 2 kerep, dan
bentuk gendhing lainnya sampai dengan ayak dan sampak. Oleh karena itu,
sebuah gendhing apapun akan dapat diketahui bentuk gendhingnya di lihat dari
tabuhan strukturalnya yaitu dari kethuk, kempyang, kenong, kempul dan
gong. Maka dari itu, seharusnya keempat
pemain yang menabuh instrumen struktural itu harus sangat diperhitungkan
kemampuannya dalam memainkan instrumen struktural tersebut. Hal tersebut
dikarenakan keempat instrumen tersebut mempunyai kepakeman dalam tabuhannya. Sebagai contoh instrumen ketuk. Apabila
dalam sajian gending ketawang pemain kethuk menabuhnya diantara sabetan
balungan seperti halnya lancaran, maka itu akan mempengaruhi bentuk strukturnya
dan sudah tentu itu salah, karena tabuhan struktural tersebut mempunyai sifat
yang pakem atau harus.
Dalam dunia
panggung karawitan, entah karawitan yang mengiringi wayang, tari, ataupun
kethoprak sekarang ini, kemampuan yang menabuh instrumen struktural justru
dianggap remeh atau seadanya daripada seseorang yang trampil dalam memainkan instrumen
demung, saron yang pada jaman sekarang “gayeng”
adalah tuntutan konsumen karawitan. Tuntutan masyarakat yang seperti itulah
yang pada zaman sekarang ini ketrampilan, kecepatan tempo, suara yang cenderung
sangat keras lebih diperhatikan dan diperhitungkan dari pada seseorang yang
mampu dan mengerti mengenai struktur-struktur tabuhan struktural dalam gending.
Bahkan sekarang pemain yang menabuh instrumen struktural tersebut diisi atau
ditabuh oleh seseorang yang kurang menguasai dalam instrumen tersebut. Hasilnya
adalah sajian gending tidak dapat terstruktur dengan baik. Sebagai contoh yang
sering terjadi dalam dunia panggung karawitan. Gending yang disajikan adalah gendhing
yang berbentuk ladrang. Instrumen
kethuk, kempyang, kenong, kempul, dan gong menyajikan struktur yang berbentuk ketawang, namun kendhang
menggunakan pola kendangan ladrang. walaupun bisa saja disajkan namun tidak
seharusnya disajikan sepeti itu, karena semua bentuk gending sudah terdapat
pakem yang berstruktur untuk membentuk sebuah gending , yaitu ricikan atau
instrumen struktral yang sudah dipakemkan dan harus ditabuh sesuai tempat dimana dan kapan harus menabuh.
Apabila kita
telusuri dari nenek moyang maupu tokoh seniman karawitan terdahulu, banyak yang
mengatakan ricikan struktural adalah ricikan yang sakral. Bahkan seorang
pengendang pun yang dalam sajian karawitan sebagai pamurba irama atau yang
berkuasa dalam sajiannya, apabila tidak mengenal gendingnya akan bertanya “apa
bentuk dan stuktur gendingnya?”. Hal tersebut dikarenakan struktur gending yang
akan mengatur bagaimana pola kendangan atau skema kendangan yang akan disajikan
oleh seorang pengendang. Oleh sebab itulah, pada zaman dahulu struktur sangat
penting dan dianggap sangat sakral dalam sajian karawitan karena dapat
menentukan sajian instrumen lainya.
Tidak hanya itu,
terjadi hal yang menarik pula apabila ricikan struktural disepelekan terutama
oleh pimpinan kelompok seni karawitan. Selain akan merusak struktur gending
dikarenakan oleh pemainnya tidak memahami mengenai struktur gending yang
dikarenakan penyepelean oleh pihak pimpinanan karawitran, akan terjadi pula ketidak sesuaian upah yang diberikan
oleh pimpinan karawitan kepada seseoraang yang menabuh ricikan struktural walaupun sebenarnya ada
juga pemain yang paham mengenai struktur gending. Fakta berbicara, bahwa
sekarang seseorang yang kurang menguasai instrumen apapun akan diletakkan pada
instrumen kethuk. Upah yang diberikan
justru lebih sedikit apabila dibandingkan dengan instrumen lainnya. Bahkan
apabila dibandingkan dengan istrumen demun, saron, dan saron penerus, upah yang
diberikan lebih banyak kepada instrumen tersebut dibandingkan dengan instrumen
struktural yang pada zaman dahulu sangat disakralkan oleh seniman karawitan
terdahulu dikarenakan kepakemannya
dalam setiap gending yang disajikan. Seharusnya upah yang diberikan oleh pemain
yang memainkan instrumen struktural setidaknya sama dengan seorang yang memainkan gendher, kendhang atau setidaknya
sama dengan yang lain. Selain itu ada juga yang memanfaatkan dari upah yang
rendah dari pemain yang menabuh instrumen struktural, sehingga pimpinan dari
kelompok karawitan akan lebih banyak meraih untungnya secara material. Bukan
sesuatu yang rahasia lagi seorang pimpinan karawitan yang hanya duduk dan
menerima job lebih kaya materinya dari pada seorang pengrawit yang walaupun
setiap hari menabuh dan menerima job. Apakah ada permaianan materi yang
dibagikan oleh pimpinan kelompok
karawitan? hanya dia dan Allah yang tahu. Hal tersebut juga berpengaruh
terhadap penurunan pelestari tradisi yang benar-benar melestarikan karawitan
saperti leluhur atau seniman karawitan terdahulu. Imbas lainnya seniman muda
akan berminat kesesuatu lebih diminati masyarakat dari pada belajar karawitan
yang tradisi. Hal tersebutlah yang memang sekarang ini terjadi. Sesuatu yang
seharusnya sangat penting namun sekarang terabaikan karena tuntutan konsumen
yang lebih memilih dan meminta sesuatu yang bernuansa gayeng.
Semua akibat
yang terjadi ini dikarenakan kurangnya rasa cinta kita terhadap pelestarian
tradisi. Tradisi yang seharusnya kita jaga keaslianya. Walaupun sekarang banyak
tradisi yang hilang tentang karawitan yang benar-benar tradisi, namun setidaknya
kita sebagai seniman atau sebagai pemilik tradisi tersebut harus berusaha menjaga dan melestarikannya.
Kenyataannya, Sebagian besar seniman mengembangakan karawitan tanpa tahu imbas
dan penanggulangan tradisi yang di
kembangkan. Seharusnya pengembangan di fungsikan agar masyarakat lebih dekat
dan mengenal seni karawitan tanpa
melupakan tradisi karawitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar