Keagungan Iringan Wayang
di Mangkunagara
Nama : Wahyu Dewi Ratnasari
Nim : 13111147
Prodi : Seni Karawitan
No Hp : 085741160228
Pada malam hari, pukul 20.00 WIB di
Pura Mangkunagara ada sebuah acara yang begitu sakral Tingalan Wiyosan Jumenegan Ndalem S.I.J MANGKUNAGARA IX ke- 29
Tahun 2016. Dalam acara tersebut diadakan pertunjukan wayang kulit semalam
suntuk dengan Ki Dalang Bambang Suwarno dan diiringi karawitan dengan abdi
pengrawit Kemantren Langen Praja.
Sebelum acara dimulai para pengrawit abdi mengawalinya dengan klenengan sambil
menunggu para tamu undangan. Atau hal yang dilakukan sebelum pagelaran dimulai
pasti disajikan klenengan terlebih dahulu.
Klenengan adalah pementasan musik
gamelan lengkap atau sebuah istilah yang
ada di lingkup karawitan Jawa yang berarti suatu pagelaran yang menggunakan
seperangkat gamelan yang menyajikan beberapa macam bentuk. Dalam ketika
mengiringi pagelan wayang kulit tersebut masih banyak lagi garap lainya seperti
layaknya iringan pakeliran. Yang dimaksud dengan Kemantren Langen Praja yaitu karawitan dari abdi dalem seseorang
yang beraktivitas untuk keperluan kerajaan/keraton. Pertunjukan wayang kulit
dalam acara wiyosan tersebut dengan menggunakan iringan klasik, yang dimaksud
iringan klasik disini adalah karawitan yang disajikan tidak ada selingan garap
campursari atau garap lainya. Berbeda lagi dengan acara lain pasti ada
perbedaan antara tempat yang sakral atau tempat yang ada di tempat hajatan atau
tanggapan lainya atau disebut juga pageran tersebut sakral.
Keiindahan, kemerduan suara gamelan
yang terdengar sampai luar bahkan orang-orang yang lewat pada penasaran untuk
melihat itu acara apa, walaupun itu suara gamelan dan klasik dan ditambah lagi
dengan suara pesindhen yang suaranya bagus. para peminat orang untuk penasaran
melihan banyak dan berderet-deret. Dengan berlangsungya acara tersebut ternyata
banyak diapresiasi para Mahasiswa ISI
Surakarta dan orang bule juga untuk mencari pengalaman lain atau yang baru
bagaimana cara pengrawit ketika menabuh di tempat yang sakral seperti contoh
dalam acara Wiyosan Jumenengan Ndalem. Keangungan tabuhan-tabuhan di dalam
tempat yang sakral sangat megah jika di dengar
dari luar, walaupun jalan tersebut ramai kendaraan bermotor atau
orang-orang yang berbicara berciat-ciut tetap orang yang penasaran akan tetap
masuk dan melihat apa pertujukan itu.
Karawitan pada malam hari itu
pertama penyajian Gendhing Cucur Bawuk dan dilanjutkan dengan iringan pagelan
wayang kulit. Para abdi pengrawit yang sudah siap tenaga maupun fisik yang kuat
untuk mengiringi suatu pertunjukan dalam acara Wiyosan jumenengan ndalem,
dengan masuk sajian Gendhing Karawitan dengan dilakukan buka Rebab. Gendhing
atau iringan yang dipakai yaitu Inggah lobong padhang bulan minggah kea
yak-ayak laras slendro pathet nem, Grompol Thek dengan irama dadi, iringan
dalam adegan jejer ke dua yaitu Gendhing ketawang segaran Laras pelog pathet
nem, Budhalan lancaran Tropongan yang dilanjutkan Cucur biru laras pewlog
pathet 5 dan masuk lagi ke ilir-ilir. Dalam adegan perang kidang dilakukan
dengan bawa atiku lega masuk ke ladrang
mandraguna laras pelog pathet nem
Beberapa kendala yang tak luput
dilakukan oleh penyaji diantaranya pada beberapa sulukan yang memakai ompak
gender, tetapi disitu penggendernya lupa tidak diompaki entah itu kenapa jadi
ketika penonton melihat atau mendengar ada yang bertele-tele ketika menabuh.
Ada kendala lain selain penggendernya ada yang lupa, Pesindhen disitu sudah mempunyai tugas
tersendiri tetapi kadang mereka masih iren atau mau nyindeni, jadi kesanya
tidak kompak atau tidak selalu siap. Ketika ada beberapa gerongan koor, gerongan
koor awalnya di bawa Dhandanggula
laras pelog pathet barang yang dilakukan oleh penggerong pria lalu dilanjutkan
oleh Dalangnya Ki Bambang Suwarno sampai selesai dilanjutkan ke ladrang Sri
widodo ciblon, masuk ke gerongan koor masih kadang belum kompak ada yang akhir
seleh kadang masih salah jadi kesanya bertele-tele tidak semangat, entah itu
sudah pada capek atau gimna karena pada sajian ini dilakukan sekitar jam 12 an
ada juga pesindhen yang sudah habis suaranya. Penonton disutu sebagai penikmat
seni ketika ada kekeliruan pasti dibelakang langsung ngmong sama teman yang
disampingnya bahkan ada yang mereka cacat. Tetapi niat baik juga masih mau
untuk menegur. Dan siapa sangka gendhing-gendhing yang sudah disajikan itu
sangat dihargai oleh penikmat, penonton seni.
Kita sebagai penikmat seni untuk
lebih mencintai dan melestarikan budaya Jawa. Kita sebagi generasi penerus
Bangsa harus bangga atas apa yang sudah menjadi tanggung jawab kita untuk
menjaga bdan melestarikan budaya kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar