Selasa, 29 November 2016

Keagungan Iringan Wayang di Mangkunagara





Keagungan Iringan Wayang di Mangkunagara


Nama   : Wahyu Dewi Ratnasari
Nim     : 13111147
Prodi   : Seni Karawitan
No Hp : 085741160228


            Pada malam hari, pukul 20.00 WIB di Pura Mangkunagara ada sebuah acara yang begitu sakral Tingalan Wiyosan Jumenegan Ndalem S.I.J MANGKUNAGARA IX ke- 29 Tahun 2016. Dalam acara tersebut diadakan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan Ki Dalang Bambang Suwarno dan diiringi karawitan dengan abdi pengrawit Kemantren Langen Praja. Sebelum acara dimulai para pengrawit abdi mengawalinya dengan klenengan sambil menunggu para tamu undangan. Atau hal yang dilakukan sebelum pagelaran dimulai pasti disajikan klenengan terlebih dahulu.
            Klenengan adalah pementasan musik gamelan lengkap atau  sebuah istilah yang ada di lingkup karawitan Jawa yang berarti suatu pagelaran yang menggunakan seperangkat gamelan yang menyajikan beberapa macam bentuk. Dalam ketika mengiringi pagelan wayang kulit tersebut masih banyak lagi garap lainya seperti layaknya iringan pakeliran. Yang dimaksud dengan Kemantren Langen Praja yaitu karawitan dari abdi dalem seseorang yang beraktivitas untuk keperluan kerajaan/keraton. Pertunjukan wayang kulit dalam acara wiyosan tersebut dengan menggunakan iringan klasik, yang dimaksud iringan klasik disini adalah karawitan yang disajikan tidak ada selingan garap campursari atau garap lainya. Berbeda lagi dengan acara lain pasti ada perbedaan antara tempat yang sakral atau tempat yang ada di tempat hajatan atau tanggapan lainya atau disebut juga pageran tersebut sakral.
            Keiindahan, kemerduan suara gamelan yang terdengar sampai luar bahkan orang-orang yang lewat pada penasaran untuk melihat itu acara apa, walaupun itu suara gamelan dan klasik dan ditambah lagi dengan suara pesindhen yang suaranya bagus. para peminat orang untuk penasaran melihan banyak dan berderet-deret. Dengan berlangsungya acara tersebut ternyata banyak diapresiasi para  Mahasiswa ISI Surakarta dan orang bule juga untuk mencari pengalaman lain atau yang baru bagaimana cara pengrawit ketika menabuh di tempat yang sakral seperti contoh dalam acara Wiyosan Jumenengan Ndalem. Keangungan tabuhan-tabuhan di dalam tempat yang sakral sangat megah jika di dengar  dari luar, walaupun jalan tersebut ramai kendaraan bermotor atau orang-orang yang berbicara berciat-ciut tetap orang yang penasaran akan tetap masuk dan melihat apa pertujukan itu.
            Karawitan pada malam hari itu pertama penyajian Gendhing Cucur Bawuk dan dilanjutkan dengan iringan pagelan wayang kulit. Para abdi pengrawit yang sudah siap tenaga maupun fisik yang kuat untuk mengiringi suatu pertunjukan dalam acara Wiyosan jumenengan ndalem, dengan masuk sajian Gendhing Karawitan dengan dilakukan buka Rebab. Gendhing atau iringan yang dipakai yaitu Inggah lobong padhang bulan minggah kea yak-ayak laras slendro pathet nem, Grompol Thek dengan irama dadi, iringan dalam adegan jejer ke dua yaitu Gendhing ketawang segaran Laras pelog pathet nem, Budhalan lancaran Tropongan yang dilanjutkan Cucur biru laras pewlog pathet 5 dan masuk lagi ke ilir-ilir. Dalam adegan perang kidang dilakukan dengan bawa atiku lega  masuk ke ladrang mandraguna laras pelog pathet nem
            Beberapa kendala yang tak luput dilakukan oleh penyaji diantaranya pada beberapa sulukan yang memakai ompak gender, tetapi disitu penggendernya lupa tidak diompaki entah itu kenapa jadi ketika penonton melihat atau mendengar ada yang bertele-tele ketika menabuh. Ada kendala lain selain penggendernya ada yang lupa,  Pesindhen disitu sudah mempunyai tugas tersendiri tetapi kadang mereka masih iren atau mau nyindeni, jadi kesanya tidak kompak atau tidak selalu siap. Ketika ada beberapa gerongan koor, gerongan koor awalnya di bawa Dhandanggula laras pelog pathet barang yang dilakukan oleh penggerong pria lalu dilanjutkan oleh Dalangnya Ki Bambang Suwarno sampai selesai dilanjutkan ke ladrang Sri widodo ciblon, masuk ke gerongan koor masih kadang belum kompak ada yang akhir seleh kadang masih salah jadi kesanya bertele-tele tidak semangat, entah itu sudah pada capek atau gimna karena pada sajian ini dilakukan sekitar jam 12 an ada juga pesindhen yang sudah habis suaranya. Penonton disutu sebagai penikmat seni ketika ada kekeliruan pasti dibelakang langsung ngmong sama teman yang disampingnya bahkan ada yang mereka cacat. Tetapi niat baik juga masih mau untuk menegur. Dan siapa sangka gendhing-gendhing yang sudah disajikan itu sangat dihargai oleh penikmat, penonton seni.
            Kita sebagai penikmat seni untuk lebih mencintai dan melestarikan budaya Jawa. Kita sebagi generasi penerus Bangsa harus bangga atas apa yang sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menjaga bdan melestarikan budaya kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar