Festival Karawitan Tingkat
Kabupaten Sukoharjo tahun 2016
Nama : Pitutur Tustho Gumawang
NIM : 13111121
5
Oktober 2016, pagi itu menyapa di dalam suasana yang tidak seperti biasanya
pelataran Pendopo Kabupaten Sukoharjo tampak ramai meriah, jika pada hari biasanya
hanya berjajar mobil yang berplat nomor merah namun saat hari Rabu itu terlihat
berbeda dengan paduan mobil berplat hitam yang beraneka ragam jenis dan
bentuknya, mulai dari golongan mobil kecil sampai besar bahkan minibus Elf juga
tertata rapi menjadi satu kesatuan. Hal tersebut terjadi karena pada hari itu
bersamaan dengan pelaksanakan Festival Karawitan tingkat daerah sebagai
kegiatan fasilitasi penyelenggaraan festival budaya daerah, kegiatan ini
merupakan salah satu bagian dari rentetan acara yang diadakan Kabupaten
Sukoharjo dalam rangka untuk memperingati hari kelahiran kota tersebut.
Festival karawitan itu mendapatkan respon yang baik dari kalangan masyarakat,
seniman, dan pengamat kebudayaan Sukoharjo, terbukti dengan adanya masyarakat awam
yang tak luput ikut terjun memberikan apresiasi secara langsung dan banyaknya
peserta kelompok karawitan terhitung 17 kelompok yang mengikuti ajang festival
karawitan daerah yang bertempat di Pendopo Graha Satya Praja sebutan nama
pendopo tersebut. Salah satu sekian banyak kelompok penampil yang mencuri
perhatian penonton yaitu ialah paguyuban Sekar Kayungyun.
Sajian
pertunjukan yang dipertontonkan oleh kelompok karawitan “Sekar Kayungyun” dalam
kegiatan festival karawitan daerah tingkat kabupaten Sukoharjo yaitu dengan
menyajikan susunan konsep bentuk Gendhing Mrabot, diantaranya ialah terdiri
dari Gendhing kethuk 2 kerep minggah ladrang suwuk pathetan pelog lima kasambet
ayak-ayak kaseling jineman kalajengaken ketawang kasambet lancaran. Dalam
gelaran pelaksanaan festival karawitan tahun ini para peserta diharapkan untuk
tidak hanya menyajikan gendhing-gendhing dalam bentuk tradisi tetapi juga
menggarap komponen balungan gendhing dari yang berkonsep tradisi menjadi sebuah
sajian garapan karya komposisi baru yang kemudian menghasilkan rasa musikalitas
yang sebelumnya belum pernah ada atau tidak pernah ada. Harapan itu ternyata
mendapatkan jawaban yang baik dari setiap kelompok karawitan, hal demikian
dapat dicermati dalam setiap sajian kelompok karawitan yang mempresentasikan di
depan dewan Juri, selalu ada yang memunculkan karya baru di masing-masing
kelompok dengan berbagai macam bentuk garapan baik lewat musikalitas maupun
melalui vokalnya. Dari semuanya itu tampak jelas menghasilkan sebuah rasa
kesatuan pertunjukkan karawitan yang harmoni diantara konsep gendhing tradisi
dan garapan karya baru. Festival karawitan ini diambil penyaji terbaik I,
penyaji terbaik II, penyaji terbaik III, penyaji harapan I, penyaji harapan II,
penyaji harapan III.
Durasi batas waktu maksimal sajian
gendhing setiap kelompok pada saat pentas telah ditentukan oleh panitia, jelas
terdengar ketika itu di bacakan mengenai peraturan selama festival berlangsung
diantaranya yaitu kalau setiap peserta maksimal menyajikan gendhing dalam
durasi waktu paling lama 20 menit apabila melewati batas waktu yang sudah
ditentukan maka peserta dianggap gugur dalam festival tersebut, pada saat itu kelompok
karawitan “Sekar Kayungyun” menyajikan dalam durasi waktu 18 menit 30 detik. Ini
telah menunjukkan bahwa salah satu dari sekian peserta memang benar-benar
memperhatikan aturan yang telah dibuat oleh panitia. Semua peserta festival
karawitan kali ini sangat mematuhi aturan mengenai durasi waktu maksimal, 17
peserta tidak ada satupun yang melewati batas waktu yang sudah ditetapkan oleh
panitia.
Filosofi dari agenda pertunjukkan yang
dapat disampaikan pada saat festival karawitan itu ialah memperkenalkan pada
khalayak umum bahwa warga masyarakat kabupaten Sukoharjo sangat begitu antusias
dalam merespon acara kebudayaan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah,
selain itu juga bisa memunculkan potensi seni dari masing-masing anggota
kelompok karawitan karena pada tahun 2016 ini festival karawitan para penyaji
diberikan kebebasan untuk menggarap gendhing menjadi sekreatif mungkin dan
sebagus-bagusnya demi mencapai tujuan untuk menjadi pemenang dalam festival
tersebut. Bergerak inovatif, kerjasama, kebersamaan, gotong royong inilah
sebenarnya tujuan yang ingin disampaikan bahwa “Kalian semua sama bagus yang
terpenting adalah rasa peduli kalian untuk melestarikan kebudayaan jawa yang
akhir-akhir ini mulai tergusur dengan adanya musik modern yang banyak
mempengaruhi anak muda, Tunjukkan kreatifitas kalian semua berjuanglah secara
sehat dan tetap jaga persatuan dan kesatuan jangan sampai setelah event ini
kita menjadi terpecah belah, bukan juara yang kita cari tapi sebuah rasa
persatuan dan kesatuan hidup dan jaya kabupaten Sukoharjo” sekilas pidato yang
disampaikan bapak Wardoyo Wijaya selaku bupati kabupaten Sukoharjo, pada
intinya bukan untuk saling menjatuhkan demi mencari yang terbaik tapi rasa
saling kerjasama sehingga membentuk masyarakat yang makmur seperti slogan di
kabupaten Sukoharjo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar