Proses Pembawaan
Nama : Rudi Yatmoko
NIM : 13111105
Pada
dasarnya pembawaan merupakan salah satu mata kuliah yang sebagai syarat utama
untuk menuju ke ujian Tugas Akhir. Mata kuliah
pembawaan biasanya dilaksanakan pada semester V. Disini mahasiswa yang
maju ujian pembawaan mencari kelompok, memilih salah satu instrumen dan memilih
gending yang akan disajikan. Dalam satu paket terdiri dari gending bedhayan, inggah, kosek alus, ciblon dan
pakeliran. Instrumen garap (rebab, kendhang, gender, dan sindhen)
adalah instrumen yang memiliki peran penting dalam suatu penyajian gending
karena instrumen tersebut berpengaruh
besar dalam menentukan garap
gending. Instrumen garap merupakan
salah satu media penuangan gagasan dalam suatu gending. Untuk dapat menuangkan
gagasan yang kita miliki, instrumen-instrumen tersebut hanya ditampilkan di
dalam bentuk ujian Pembawaan.
Penataran
merupakan salah satu kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh seorang penyaji yang
akan melaksanakan ujian pembawaan. Penyaji berhak memilih dosen penatar sesuai
dengan kompetensi yang di pandang dapat memberikan berbagai macam informasi
baik secara garap, cengkok, dan wiledan. Penataran wajib dilaksanakan minimal
sepuluh kali pertemuan untuk memenuhi syarat kelayakan ujian pembawaan. Di
dalam proses penataran tidak ada jadwal yang terorganisir sehingga dapat di
laksanakan di dalam kampus maupun di luar kampus tergantung komunikasi diantara
mahasiswa yang akan melaksanakan ujian dengan dosen penatarnya. Meskipun tidak
ada jadwal yang tersusun akan tetapi sebelum latihan wajib dilaksanakan
mahasiswa yang akan menempuh ujian harus melakukan penataran dengan ketentuan
yang sudah di atur sebagaimana mestinya.
Sebelum
ujian Pembawaan berlangsung setiap kelompok diwajibkan untuk melakukan latihan
wajib bersama dengan di dampingi oleh dosen pembimbing yang dianggap mampu
untuk memberikan bimbingan sehingga pada ujian pembawaan akan menghasilkan
sajian yang sesuai dengan konteks tradisi. Latihan wajib di adakan enam kali
dalam satu minggu dan berdurasi tiga jam setiap satu kali latihan. Di dalam
proses itu terlihat seorang penyaji di harapkan selalu aktif, yakni aktif
bertanya kepada seorang pembimbing ketika ada permasalahan garap gendhing yang
belum di ketahui. Penyaji tidak hanya datang untuk berlatih bersama, tetapi
disisi lain penyaji juga bertanggung jawab kepada pendukungnya, karena di dalam
ujian pembawaan tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya dukungan dari
teman-teman yang lain di dalam jalannya sajian. Jika di telisik secara lebih
dalam, proses latihan pembawaan ini mengajarkan tentang hal kehidupan, yaitu
dalam kehidupan ini manusia harus saling membantu dan itu sudah menjadi hal
yang semestinya bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa
bantuan orang lain.
Adapun materi
gending yang dipilih kelompok III sebagai berikut :
1.
Materi
Gending Klenengan
a.
Candrasari,
gending kethuk 2 kerep minggah Grenteng, laras pelog pathet lima.
b.
Pocung, gending
kethuk 2 kerep minggha Ladrang Talak Bodin, kalajengaken Ketawang Kinanthi
Sandung laras slendro pathet manyura.
c.
Siring, gending
kethuk 4 kerep minggah 8 , laras slendro pathet sanga.
d.
Tentrem, gending
kethuk 2 minggah 4, kalajengaken ladrang singa-singa laras pelog pathet barang.
e.
Jineman Uler
Kambang suwuk, Erang-erang Bagelen, Gending Kethuk 2 kerep Minggah Ladrang Opak
Apem Kalajengaken Ketawang Wigena Laras Pelog Pathet Nem.
2.
Materi
Gending Pakeliran
Ladrang Remeng, Ayak-ayakan slendro pathet nem,
Pathetan slendro wantah
Ketika
ujian pembawaan berlangsung penyaji diberikan kesempatan untuk memilih dua dari
enam gending yang telah dipilihnya sejak awal ketika akan menempuh ujian
pembawaan yakni dengan cara mengambil undian. Diantara dua undian yang akan
dipilih biasanya di dalam undian pertama itu adalah repertoar gending klenengan
dan undian kedua repertoar gending pakeliran. Dalam ujian pembawaan semua
penyaji diwajibkan untuk menghafal enam gendhing yang telah dipilihnya.
Sehingga dalam ujian pembawaan penyaji tidak diperbolehkan untuk membaca notasi
dan ketika memilih undian penyaji sudah siap dengan gending yang akan
disajikannya.
Oleh
karena itu lewat ujian pembawaan ini, mahasiswa diharapkan dapat ikut serta
membantu menjaga kelestarian gending-gending tradisi sekaligus memberi
kontribusi pemikiran tentang garap
gending-gending tersebut diatas khususnya untuk garap rebab, kendhang, dan gender. Selain itu gending yang
disajikan dapat didokumentasikan, direkam, dan digunakan sebagai referensi
untuk masyarakat luas khususnya masyarakat karawitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar