PEMBAWAAN KARAWITAAN INSTITUT SENI INDONESIA (ISI)
SURAKARTA
NAMA : MEGA AYU SURYOWATI
NIM : 13111123
JURUSAN : KARAWITAN
MID SEMESTER MATA KULIAH KRITIK KARAWITAN
Pembawaan
karawitan ISI merupakan salah satu kewajiban yang harus ditempuh oleh setiap
mahasiswa seni pertunjukan seperti mahasiswa seni karawitan, pedalangan, dan
tari di dalam perjalanan karirnya sebagai mahasiswa. Sebagai Menarik ketika
melihat proses pembawaan ini. Proses yang dimaksudkan disini merupakan proses
kelayakan untuk dilanjutkan proses latihan dan puncaknya ujian pembawaan.
Tahun
ini (2016) jurusan karawitan mengadakan ujian pembawaan pada tanggal 26 Oktober
2016 tepatnya hari rabu. Penyelenggaraan ujian di dukung oleh ajang gelar, HIMA
dan mahasiswa yang mendukung jalannya pembawaan. Berbeda dengan tahun-tahun
sebelumnya yang diikuti oleh belasan kelompok, tahun ini diikuti oleh lima
kelompok yang setiap kelompok biasanya terdiri dari ricikan/instrumen ngajeng/depan
yang diuji (ricikan rebab, kendang,
gender, dan vokal sindhen).
Pembawaan
merupakan salah satu wadah yang dapat menampung salah satu keinginan mahasiswa
yang mungkin di luar kampus belum atau bahkan belum merasakan PY (ditanggap).
Merupakan wadah mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan mereka selama proses
belajar di perguruan tinggi yang basicnya merupakan perguruan tinggi seni. Hal
yang diharapkan setelah pembawaan adalah mahasiswa dapat mengetahui, memahami,
dan menerapkan ilmu yang mereka dapatkan
selama menjalani proses pendidikan di ISI.
Menarik
ketika melihat rentetan proses pembawaan yang dialami mahasiswa, dari proses
individual mencari anggota kelompok, proses penataran, proses kelayakan, proses
latihan wajib, dan pada puncaknya adalah ujian pembawaan. Ketika diuraikan
proses satu persatu, proses mencari anggota kelompok mahasiswa dapat memilih
sendiri anggota kelompok yang akan mengikuti ujian pembawaan.
Proses penataran merupakan proses tatap muka individu dengan
dosen yang berkompeten di dalam bidangnya untuk membimbing mahasiswa dalam
menenmpuh proses ujian pembawaan. Setelah menjalani beberapa kali pentaran,
mahasiswa akan menjalani proses kelayakan dimana adrenalin, mental, dan
kemampuan mahasiswa diuji. Selain materi pembawaan yang dibawakan juga dosen
yang mereka memberikan aura tersendiri. Kelayakan merupakan awal dari
perjuangan yang harus dilalui karena merupakan penghakiman, apabila lulus dapat
lanjut ke proses latihan wajib, apabila dinyatakan belum layak maka harus
mengulang kembali pada semester berikutnya.
Pembawaan
menuntut tenaga, fikiran, materi dan mental dalam perjalanannya. Pada proses
latihan wajib pada tahun ini lebih singkat dibandingkan sebelumnya. Pada tahun
ini latihan wajib dilakukan setiap hari pada malam hari setelah proses
pembelajaran selesai. Durasi latihan selama dua jam dari jam 19.00-21.00.
terkadang lebih dari jam tersebut karena pematangan da pemantapan materi
gending.
Pendukung
sajian merupakan salah satu elemen yang penting dalam proses pembawaan. Apabila
tidak ada pendukung maka akan ada ricikan yang tidak ditabuh. Hal tersebut
merupakan sesuatu yang rugi karena akan menghambat pada proses ujian. Pendukung
sajian biasanya merupakan mahasiswa ISI jurusan karawitan terkadang jurusan
pedalangan juga ikut serta dalam proses ini. Mahasiswa yang membantu proses
pembawaan mempunyai keuntungan dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak
berperan dalam pembawaan. Salah satunya mereka mendapatkan vokabuler-vokabuler,
cengkok-cengkok, dan garap yang lebih selain dari proses perkuliahan.
Setiap
kelompok diharuskan menghafalkan enam paket gending yang bermacam-macam bentuk
yaitu gending bentuk gending yang mempunyai durasi cukup lama yang dalam
penyajiannya lebih dari setengah jam. Misalnya gending kethuk 2 minggah 4, kethuk
2 kerep minggah ladrang, gendhing kethuk 4 kerep minggah 8, gending kethuk 2
kerep minggah 4 kalajengaken ladrang, Jineman. Hati penyaji (mahasiswa yang
maju ujian pembawaan) dibolak-balikan ketika enam paket gending tersebut diundi
dan mahasiswa mengambil dua paket gending yang biasanya diundi dengan kartu
yang ditututup dan mahasiswa memilihnya. Hal tersebut membuat deg-degan penyaji
dan membuat pertanyaan di dalam fikiran penyaji “aku mengko etuk gending apa ya”? (saya nanti mendapatkan gending
apa ya?).
Panggung
Teater Kecil menjadi saksi betapa tegang penyaji yang maju pembawaan dan mental
mereka diuji dihadapan penguji yang merupakan dosen-dosen yang berkompeten di
dalam bidang masing-masing seni karawitan baik vokal maupun instrumen, penonton
yang tidak hanya teman-teman mahasiswa karawitan yang pada umumnya membantu
kelompok selanjutnya akan diuji akan tetapi orang tua dan keluarga penyaji,
bahkan masyarakat umum yang mengetahui acara ujian pembawaan dari pamflet yang
disebarkan oleh panitia ujian pembawaan. Ujian pembawaan terbuka untuk
diapresiasi oleh umum jadi karawitan
tidak hanya menjadi milik orang-orang karawitan saja. Selain masyarakat
mendapatkan hiburan, dalam mereka mengapresiasi
penyajian mereka mendapatkan informasi mengenai gending-gending yang
disajikan. Apa yang ditampilkan penyaji adalah hasil latihan yang telah mereka
lakukan selama dua minggu dan upaya yang telah mereka lakukan untuk mendapatkan
goal yang memuaskan. Hasil yang memuaskan akan mereka persembahkan untuk orang
tua dan siapa yang menyaksikan penyajian tersebut.
Pembawaan
tidak hanya sesuatu kewajiban yang harus dilalukakan oleh mahasiswa akan tetapi
bentuk pertanggungjawaban mereka selama menempuh pendidikan di ISI dalam bentuk
penyajian gending-gending karawitan. Hal yang sama dialami oleh program
pendidikan lain di dalam fakultas seni pertunjukan ISI. Mahasiswa jurusan tari
menyajikan tari-tari tradisi maupun etnik, dan jurusan pedalangan menyajikan
wayangan gagrag/gaya daerah tertentu. Diharapkan proses belajar dan meyebarkan
ilmu mengenai seni tersebut tidak hanya berhenti pada mahasiswa saja, akan
tetapi dapat disebarluaskan untuk menambah kekayaan garap karawitan di luar
lingkungan kampus ISI dan upaya untuk melestarikan dan menjaga eksistensi
karawitan di lingkungan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar