Senin, 28 November 2016

PEMBAWAAN KARAWITAAN INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) SURAKARTA





PEMBAWAAN KARAWITAAN INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) SURAKARTA

NAMA            :  MEGA AYU SURYOWATI
NIM                :  13111123
JURUSAN       :  KARAWITAN
MID SEMESTER MATA KULIAH KRITIK KARAWITAN


Pembawaan karawitan ISI merupakan salah satu kewajiban yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa seni pertunjukan seperti mahasiswa seni karawitan, pedalangan, dan tari di dalam perjalanan karirnya sebagai mahasiswa. Sebagai Menarik ketika melihat proses pembawaan ini. Proses yang dimaksudkan disini merupakan proses kelayakan untuk dilanjutkan proses latihan dan puncaknya ujian pembawaan.
Tahun ini (2016) jurusan karawitan mengadakan ujian pembawaan pada tanggal 26 Oktober 2016 tepatnya hari rabu. Penyelenggaraan ujian di dukung oleh ajang gelar, HIMA dan mahasiswa yang mendukung jalannya pembawaan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang diikuti oleh belasan kelompok, tahun ini diikuti oleh lima kelompok yang setiap kelompok biasanya terdiri dari ricikan/instrumen ngajeng/depan yang diuji (ricikan rebab, kendang, gender, dan vokal sindhen).
Pembawaan merupakan salah satu wadah yang dapat menampung salah satu keinginan mahasiswa yang mungkin di luar kampus belum atau bahkan belum merasakan PY (ditanggap). Merupakan wadah mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan mereka selama proses belajar di perguruan tinggi yang basicnya merupakan perguruan tinggi seni. Hal yang diharapkan setelah pembawaan adalah mahasiswa dapat mengetahui, memahami, dan menerapkan ilmu yang  mereka dapatkan selama menjalani proses pendidikan di ISI.
Menarik ketika melihat rentetan proses pembawaan yang dialami mahasiswa, dari proses individual mencari anggota kelompok, proses penataran, proses kelayakan, proses latihan wajib, dan pada puncaknya adalah ujian pembawaan. Ketika diuraikan proses satu persatu, proses mencari anggota kelompok mahasiswa dapat memilih sendiri anggota kelompok yang akan mengikuti ujian pembawaan.
 Proses penataran  merupakan proses tatap muka individu dengan dosen yang berkompeten di dalam bidangnya untuk membimbing mahasiswa dalam menenmpuh proses ujian pembawaan. Setelah menjalani beberapa kali pentaran, mahasiswa akan menjalani proses kelayakan dimana adrenalin, mental, dan kemampuan mahasiswa diuji. Selain materi pembawaan yang dibawakan juga dosen yang mereka memberikan aura tersendiri. Kelayakan merupakan awal dari perjuangan yang harus dilalui karena merupakan penghakiman, apabila lulus dapat lanjut ke proses latihan wajib, apabila dinyatakan belum layak maka harus mengulang kembali pada semester berikutnya.
Pembawaan menuntut tenaga, fikiran, materi dan mental dalam perjalanannya. Pada proses latihan wajib pada tahun ini lebih singkat dibandingkan sebelumnya. Pada tahun ini latihan wajib dilakukan setiap hari pada malam hari setelah proses pembelajaran selesai. Durasi latihan selama dua jam dari jam 19.00-21.00. terkadang lebih dari jam tersebut karena pematangan da pemantapan materi gending.
Pendukung sajian merupakan salah satu elemen yang penting dalam proses pembawaan. Apabila tidak ada pendukung maka akan ada ricikan yang tidak ditabuh. Hal tersebut merupakan sesuatu yang rugi karena akan menghambat pada proses ujian. Pendukung sajian biasanya merupakan mahasiswa ISI jurusan karawitan terkadang jurusan pedalangan juga ikut serta dalam proses ini. Mahasiswa yang membantu proses pembawaan mempunyai keuntungan dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak berperan dalam pembawaan. Salah satunya mereka mendapatkan vokabuler-vokabuler, cengkok-cengkok, dan garap yang lebih selain dari proses perkuliahan.
Setiap kelompok diharuskan menghafalkan enam paket gending yang bermacam-macam bentuk yaitu gending bentuk gending yang mempunyai durasi cukup lama yang dalam penyajiannya lebih dari setengah jam. Misalnya gending kethuk 2 minggah 4, kethuk 2 kerep minggah ladrang, gendhing kethuk 4 kerep minggah 8, gending kethuk 2 kerep minggah 4 kalajengaken ladrang, Jineman. Hati penyaji (mahasiswa yang maju ujian pembawaan) dibolak-balikan ketika enam paket gending tersebut diundi dan mahasiswa mengambil dua paket gending yang biasanya diundi dengan kartu yang ditututup dan mahasiswa memilihnya. Hal tersebut membuat deg-degan penyaji dan membuat pertanyaan di dalam fikiran penyaji “aku mengko etuk gending apa ya”? (saya nanti mendapatkan gending apa ya?).
Panggung Teater Kecil menjadi saksi betapa tegang penyaji yang maju pembawaan dan mental mereka diuji dihadapan penguji yang merupakan dosen-dosen yang berkompeten di dalam bidang masing-masing seni karawitan baik vokal maupun instrumen, penonton yang tidak hanya teman-teman mahasiswa karawitan yang pada umumnya membantu kelompok selanjutnya akan diuji akan tetapi orang tua dan keluarga penyaji, bahkan masyarakat umum yang mengetahui acara ujian pembawaan dari pamflet yang disebarkan oleh panitia ujian pembawaan. Ujian pembawaan terbuka untuk diapresiasi oleh umum  jadi karawitan tidak hanya menjadi milik orang-orang karawitan saja. Selain masyarakat mendapatkan hiburan, dalam mereka mengapresiasi  penyajian mereka mendapatkan informasi mengenai gending-gending yang disajikan. Apa yang ditampilkan penyaji adalah hasil latihan yang telah mereka lakukan selama dua minggu dan upaya yang telah mereka lakukan untuk mendapatkan goal yang memuaskan. Hasil yang memuaskan akan mereka persembahkan untuk orang tua dan siapa yang menyaksikan penyajian tersebut.
Pembawaan tidak hanya sesuatu kewajiban yang harus dilalukakan oleh mahasiswa akan tetapi bentuk pertanggungjawaban mereka selama menempuh pendidikan di ISI dalam bentuk penyajian gending-gending karawitan. Hal yang sama dialami oleh program pendidikan lain di dalam fakultas seni pertunjukan ISI. Mahasiswa jurusan tari menyajikan tari-tari tradisi maupun etnik, dan jurusan pedalangan menyajikan wayangan gagrag/gaya daerah tertentu. Diharapkan proses belajar dan meyebarkan ilmu mengenai seni tersebut tidak hanya berhenti pada mahasiswa saja, akan tetapi dapat disebarluaskan untuk menambah kekayaan garap karawitan di luar lingkungan kampus ISI dan upaya untuk melestarikan dan menjaga eksistensi karawitan di lingkungan masyarakat.   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar