Rebabé Cènthèlké
Nama : Muchamad Arif Pamungkas
Selain
kebutuhan jasmani, manusia juga memiliki kebutuhan rohani. Dengan terpenuhinya
kebutuhan rohani maka seseorang akan mendapatkan kepuasan batin. Salah satu
upaya untuk mendapatkan kepuasan batin adalah melalui seni. Cara agar masyarakat
dapat menikmati seni salah satunya adalah dengan menyaksikan
pertunjukan-pertunjukan seni. Hasil karya seni yang dipertunjukkan bisa berupa
seni rupa, seni tari, seni teater, seni musik, dan sebagainya. Berbeda dengan
cabang seni lainnya, seni musik lebih mengutamakan unsur suara sebagai sarana
pengungkapannya. Seni musik terbagi menjadi beberapa jenis yang salah satunya
adalah seni musik tradisional.
Seni
musik tradisional memiliki ciri-ciri yang khas dari setiap daerah. Hal ini
dikarenakan instrumen dan bahasa yang digunakan berbeda-beda, contohnya seni
musik tradisional karawitan. Seni musik ini menggunakan seperangkat gamelan
sebagai instrumennya yang bernada pentatonis, nada atau laras yang dipakai adalah
sléndro dan pélog. Demikian pula
dengan vokalnya juga menggunakan laras yang
sama dan bahasa yang digunakan adalah cenderung menggunakan bahasa Jawa.
Pertunjukan seni karawitan ini biasanya disajikan dalam berbagai peristiwa
perayaan tertentu, misalnya perayaan pernikahan, perayaan hari jadi, acara
bersih desa, festival, dan lain sebagainya.
Paling
sering pertunjukan karawitan kita jumpai adalah ketika perayaan pernikahan, di
Surakarta misalnya. Dewasa ini upacara pernikahan adat Jawa dengan sajian seni
karawitan secara langsung masih kerap diadakan meskipun dalam bentuk yang
sangat sederhana. Sajian seni karawitan atau kerap disebut klenengan di
masyarakat Surakarta awalnya berorientasi pada
garap dan gaya kraton. Namun seiring berjalannya waktu terjadilah
perubahan-perubahan dalam sajian suatu pementasan seni karawitan. Perubahan
tersebut sangat mencolok ditinjau dari kesan musikalnya. Awalnyapementasan seni
karawitan di Surakarta mengacu penuh pada kraton yaitu cenderung garap alus-alusan,kini ada perbagian yang
dirubah bukan bergaya kraton lagi.Perubahan ini terjadi akibat faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal adalah keinginan dari pengrawit (seniman
karawitan) mewujudkan kreatifitas dalam kesenian tradisi dengan mengadopsi garap
dan gaya dari luar kraton yang kemudian diaplikasikan dalam sajian pementasan
karawitan di Surakarta. Kemudian faktor eksternal adalah tuntutan masyarakat
yang haus akan hiburan, dimana kebutuhan masyarakat tidak lagi hanya mementingkan
kualitas nilai estetis dalam sebuah sajian kesenian karawitan.
Anggapan
bahwa garap penyajian karawitan yang sigrak
atau ramai akan lebih mampu membangkitkan semangat dan sebagai jampi sayah (mengusir rasa lelah). Lain
halnya dengan penyajian karawitan gaya Surakarta (kraton) yang dirasa bagi sebagian
masyarakat hanya menimbulkan suasana kantuk. Demi memenuhi standar kualitas
selera musikal masyarakat yang condong pada kesan rasa sigrak atau ramai, maka dilakukan pengubahan garap dan gaya pada
karawitan/klenengan yang disajikan.
Salah
satu contoh dari perubahan garap adalah penggunaan instrumen kendang jaipong
sebagai pengganti kendang ciblon dalam menyajikan langgam. Sejatinya kendang
jaipong merupakan instrumen yang berasal dari Sunda. Metode penggarapan langgam
dengan garap kendang jaipong terkesan prênès,
trampil, atau parisuka. Sementara
langgam yang digarap menggunakan kendangciblon memiliki kesan alus, nglaras, atau sêmèlèh. Biasanya dalam suatu sajian karawitan, kendang jaipong
mulai diikut sertakan setelah selesainya rangkain upacara pernikahan. Dengan
masuknya instrumen kendang jaipong ini otomatis membuat instrumen rebab tidak
bisa ikut andil lagi pada bagian tersebut. Hal ini dikarenakan ritme yang
disajikan dengan kendang jaipong terlalu cepat sehingga tidak memungkinkan
instrumen rebab mampu mengikuti dengan baik serta volume suara rebab akan kalah
banding dengan instrumen-instrumen idiophone dan kendang. Dari sinilah ungkapan
“rebabé cènthèlké” digunakan para penonton dengan tujuan agar segera ganti
ke bagian sajian karawitan yang bersifat suka-parisuka
atau gayeng sekaligus menghendaki sajian tanpa instrumen rebab lagi.
Kemudian perubahan gaya contohnya
adalah dengan masuknya gaya karawitan Sragenan ke dalam sajian karawitan di
masyarakat Surakarta. Instrumen kendang jaipong sangat dominan dalam karawitan
gaya Sragenan. Ada pula instrumen tambahan yang fungsinya untuk menambah kesan
ramai atau semarak yaitu alat musik tamborin ½ lingkaran atau biasa disebut
icik-icik. Selain tamborin ada juga instrumen lain yaitu drum dan simbal.
Lagu-lagu yang disajikan biasanya bernuansa dangdut jawa. Contoh lagu sragenan
antara lain: Tembang Kangen, Cewek Gaul, Rondo Teles, Kedanan, dan lain sebagainya.
Sisi
positif dari adanya pergeseran kebutuhan masyarakat terhadap sajian
karawitan/klenengan adalah semakin mendorong daya kreatifitas para pelaku seni
dalam kegiatan menggarap suatu sajian karawitan agar sesuai dengan selera
masyarakat. Sehingga kesenian karawitan dapat mempertahankan kehidupannnya
bahkan berkembang secara kuantitas dan kualitas. Sisi negatif dari adanya pergeseran kebutuhan tersebut adalah
kecemasan akan lunturnya selera masyarakat terhadap sajian karawitan gaya
Surakarta (kraton). Hal yang sangat buruk lagi apabila kadar kepedulian
masyarakat terhadap kesenian karawitan gaya Surakarta semakin rendah. Akibatnya
terjadilah dominasi kebudayaan luar dan hilangnya identitas budaya kesenian
karawitan gaya Surakarta. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan bahwa kesenian
karawitan gaya Surakrta akan diambil oleh negara lain. Pada akhirnya kita semua
sebagai bangsa Indonesia-lah yang merasa rugi.
Demikian yang dapat penulis paprkan
sedikit mengenai munculnya istilah rebabé
cènthèlké. Sebagai penutup, marilah kita para pemerhati seni karawitan gaya
Surakarta renungkan dari fenomena pergeseran kebutuhan masyarakat terhadap
sajian klenengan/karawitan di masyarakat Surakarta. Akankah kita hanyut menjadi
pelaku seni yang hanya pasif mengikuti selera masyarakat, atau kita berupaya
untuk menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap kesenian karawitan gaya
Surakarta?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar