Senin, 28 November 2016


Owah Gingsir

TRI UTARI
13111142
KARAWITAN


Seni Karawitan sekarang ini menjadi sesuatu yang terasa asing dalam pembicaraan masyarakat terutama generasi muda, saat ini mereka justru menganggap seni karawitan itu musik kuna. Kini mereka justru cenderung menggandrungi kesenian budaya asing yang belakangan ini merajalela dikalangan masyarakat yang secara tidak langsung masuk dan mempengaruhi seni budaya yang kita miliki (karawitan).
Belakangan ini banyak sekali bermunculan berbagai macam bentuk pertunjukan dengan latar belakang mirip seperti seni karawitan dikalangan masyarakat salah satu contoh misalnya campursari. Bedanya dengan seni karawitan tradisi kesenian ini menyajikan gendhing-gendhng dengan gaya mereka. Sekarang semakin banyaknya gending-gending yang disajikan secara ringkas, yang dulunya sajian gending-gending tersebut disajikan dengan durasi yang sangat lama, dengan berbagai irama mulai dari irama lancar, tanggung, dadi, wiled dan irama rangkep. Namun saat ini seni Karawitan dianggap sebagai hiburan saja yang sekarang sudah tidak begitu memperdulikan pakem lagi, sehingga saat ini banyak kita jumpai garap-garap gending yang ringkas. Mungkin mereka mulai merasa bosan dengan sajian karawitan yang sangat panjang. Oleh karena  itu mereka (pelaku seni) membuat trobosan baru dengan lebih mengutamakan unsur Gayeng yang menurut mereka lebih menarik minat masyarakat baik dikalangan anak-anak, remaja maupun dewasa.
Selain ditinjau dari garap-garap yang sekarang semakin mengarah ke era yang lebih modern, karawitan disuatu daerah di Ponorogo misalnya akhir-akhir ini sudah semakin menjauh dari garap karawitan gaya Surakarta. Misalnya dalam sebuah hajatan tertentu yang disitu melibatkan gamelan ( klenengan ) misalnya. Dahulu bila siang hari urutan gending yang disajikan harus dimulai dari gending-gending slendro manyura yang berpasangan dengan gending-gending pelog barang yang memiliki sifat tenang, dilanjutkan dengan gending-gending slendro sanga berpasangan dengan gending-gending pelog nem, setelah itu menjelang sore disajikan kembali gending-gending slendro pathet manyura. Bila malam hari dimulai dengan gending-gending slendro nem yang berpasangan dengan pelog lima dan seterusnya (Konsep Pathet Dalam Karawitan Jawa: Sri Hastanto). Namun saat ini pathet sudah tidak berpengaruh lagi terhadap jalannya sajian dalam suatu pertunjukan khususnya klenengan.
Menurut salah seorang seniman di Ponorogo yang saat ini memiliki sebuah kelompok karawitan beliau berpendapat bahwa “jika diera sekarang ini garap karawitan masih mengiblat  gaya kraton mungkin peminat seni karawitan akan semakin berkurang, karena semakin banyaknya budaya barat yang sekarang meraja lela diwilayah kita dan bahkan sudah menguasai masyarakat diberbagai kalangan terutama dikalangan anak muda. Mereka cenderung lebih menyukai budaya asing dari pada budaya kita sendiri. Maka dari itu salah satu cara untuk menarik minat masyarakat yaitu dengan berusaha mengembangkan kesenian kita khususnya karawitan. Walaupun sedikit menyimpang dari garap-garap yang sudah ada secara tradisi.”Beliau berusaha membuat garap gending-gending yang sekiranya dapat menarik minat masyarakat, selain itu dalam group karawitan satu ini biasanya menambah instrumen ketipung disetiap pementasanya. Hal ini jelas-jelas sudah menyimpang dari adat yang sudah ada, yang semula gending-gending kraton  tidak ada yang menggunakan kendang ciblon. Bahkan dulu klenengan dalam lingkungan kraton misalnya tidak pernah ada sindhennya,tidak seperti sekarang ini dimana seorang pesindhen sangat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap sebuah pementasan khususnya klenengan.”Dahulu itu gending-gending di Mangkunegaran tidak ada sindhenannya.”( Darsono )
Dapat dilihat bahwa sekarang ini seni karawitan sudah tidak mengarah ke kraton (pakem) lagi, hal itu dapat dilihat dari garap-garap gending yang muncul akhir-akhir ini, selain itu juga apabila dilihat dari segi pathet yang digunakan dalam klenengan kini sudah tidak beraturan, biasanya penyaji lebih mementingkan gending-gending yang diminta oleh penonton (penikmat seni). Dengan berorientasi pada keinginan penonton (penikmat seni) tidak menutup kemungkinan karya yang disajikan seniman tidak asli, dimana para seniman harus memutar otak agar supaya karya yang disajikan dirasa dapat memuaskan penonton (penikmat seni), meskipun harus menyimpang dari pakem yang sudah ada sejak dulu.
Dari garap-garap gending yang muncul akhir-akhir ini dipandang lebih mampu  meningkatkan minat baik dikalangan anak-anak, remaja maupun orang dewasa untuk mengapresiasi atau bahkan mempelajari budaya kita khususnya karawitan. Diera globalisasi saat ini secara tidak langsung menjadi tantangan tersendiri bagi para seniman untuk lebih kreatif dalam mengembangkan kesenian khususnya karawitan, jika tidak kesenian yang kita miliki saat ini akan tergeser dengan budaya-budaya asing yang sekarang mulai masuk dan mengusai jiwa masyarakat terutama para generasi muda. Namun hal itu juga akan berdampak pada seni itu sendiri, krisisnya pengetahuan tentang karawitan, dimasa sekarang masyarakat akan kesulitan atau bahkan tidak akan tau bagaimana garap-garap gending tradisi yang sebenarnya. Kemudian kebudayaan yang sudah ada seperti karawitan akan tergeser bahkan hilang tergantikan oleh kebudayaan yang lebih modern yang dirasa sesuai dengan keinginan masyarakat saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar