Owah Gingsir
TRI
UTARI
13111142
KARAWITAN
Seni
Karawitan sekarang ini menjadi sesuatu yang terasa asing dalam pembicaraan masyarakat
terutama generasi muda, saat ini mereka justru menganggap seni karawitan itu
musik kuna. Kini mereka justru cenderung menggandrungi kesenian budaya asing
yang belakangan ini merajalela dikalangan masyarakat yang secara tidak langsung
masuk dan mempengaruhi seni budaya yang kita miliki (karawitan).
Belakangan
ini banyak sekali bermunculan berbagai macam bentuk pertunjukan dengan latar
belakang mirip seperti seni karawitan dikalangan masyarakat salah satu contoh
misalnya campursari. Bedanya dengan seni karawitan tradisi kesenian ini
menyajikan gendhing-gendhng dengan gaya mereka. Sekarang semakin banyaknya
gending-gending yang disajikan secara ringkas, yang dulunya sajian
gending-gending tersebut disajikan dengan durasi yang sangat lama, dengan berbagai
irama mulai dari irama lancar, tanggung, dadi, wiled dan irama rangkep. Namun
saat ini seni Karawitan dianggap sebagai hiburan saja yang sekarang sudah tidak
begitu memperdulikan pakem lagi, sehingga saat ini banyak kita jumpai
garap-garap gending yang ringkas. Mungkin mereka mulai merasa bosan dengan
sajian karawitan yang sangat panjang. Oleh karena itu mereka (pelaku seni) membuat trobosan baru
dengan lebih mengutamakan unsur Gayeng
yang menurut mereka lebih menarik minat masyarakat baik dikalangan anak-anak,
remaja maupun dewasa.
Selain
ditinjau dari garap-garap yang sekarang semakin mengarah ke era yang lebih
modern, karawitan disuatu daerah di Ponorogo misalnya akhir-akhir ini sudah
semakin menjauh dari garap karawitan gaya Surakarta. Misalnya dalam sebuah
hajatan tertentu yang disitu melibatkan gamelan ( klenengan ) misalnya. Dahulu
bila siang hari urutan gending yang disajikan harus dimulai dari gending-gending
slendro manyura yang berpasangan dengan gending-gending pelog barang yang
memiliki sifat tenang, dilanjutkan dengan gending-gending slendro sanga
berpasangan dengan gending-gending pelog nem, setelah itu menjelang sore
disajikan kembali gending-gending slendro pathet manyura. Bila malam hari
dimulai dengan gending-gending slendro nem yang berpasangan dengan pelog lima
dan seterusnya (Konsep Pathet Dalam Karawitan Jawa: Sri Hastanto). Namun saat
ini pathet sudah tidak berpengaruh lagi terhadap jalannya sajian dalam suatu
pertunjukan khususnya klenengan.
Menurut
salah seorang seniman di Ponorogo yang saat ini memiliki sebuah kelompok
karawitan beliau berpendapat bahwa “jika diera sekarang ini garap karawitan
masih mengiblat gaya kraton mungkin
peminat seni karawitan akan semakin berkurang, karena semakin banyaknya budaya
barat yang sekarang meraja lela diwilayah kita dan bahkan sudah menguasai
masyarakat diberbagai kalangan terutama dikalangan anak muda. Mereka cenderung
lebih menyukai budaya asing dari pada budaya kita sendiri. Maka dari itu salah
satu cara untuk menarik minat masyarakat yaitu dengan berusaha mengembangkan
kesenian kita khususnya karawitan. Walaupun sedikit menyimpang dari garap-garap
yang sudah ada secara tradisi.”Beliau berusaha membuat garap gending-gending
yang sekiranya dapat menarik minat masyarakat, selain itu dalam group karawitan
satu ini biasanya menambah instrumen ketipung disetiap pementasanya. Hal ini
jelas-jelas sudah menyimpang dari adat yang sudah ada, yang semula gending-gending
kraton tidak ada yang menggunakan
kendang ciblon. Bahkan dulu klenengan dalam lingkungan kraton misalnya tidak
pernah ada sindhennya,tidak seperti sekarang ini dimana seorang pesindhen
sangat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap sebuah pementasan
khususnya klenengan.”Dahulu itu gending-gending di Mangkunegaran tidak ada
sindhenannya.”( Darsono )
Dapat
dilihat bahwa sekarang ini seni karawitan sudah tidak mengarah ke kraton (pakem)
lagi, hal itu dapat dilihat dari garap-garap gending yang muncul akhir-akhir
ini, selain itu juga apabila dilihat dari segi pathet yang digunakan dalam
klenengan kini sudah tidak beraturan, biasanya penyaji lebih mementingkan
gending-gending yang diminta oleh penonton (penikmat seni). Dengan berorientasi
pada keinginan penonton (penikmat seni) tidak menutup kemungkinan karya yang
disajikan seniman tidak asli, dimana para seniman harus memutar otak agar
supaya karya yang disajikan dirasa dapat memuaskan penonton (penikmat seni),
meskipun harus menyimpang dari pakem yang sudah ada sejak dulu.
Dari
garap-garap gending yang muncul akhir-akhir ini dipandang lebih mampu meningkatkan minat baik dikalangan
anak-anak, remaja maupun orang dewasa untuk mengapresiasi atau bahkan
mempelajari budaya kita khususnya karawitan. Diera globalisasi saat ini secara
tidak langsung menjadi tantangan tersendiri bagi para seniman untuk lebih
kreatif dalam mengembangkan kesenian khususnya karawitan, jika tidak kesenian
yang kita miliki saat ini akan tergeser dengan budaya-budaya asing yang sekarang
mulai masuk dan mengusai jiwa masyarakat terutama para generasi muda. Namun hal
itu juga akan berdampak pada seni itu sendiri, krisisnya pengetahuan tentang
karawitan, dimasa sekarang masyarakat akan kesulitan atau bahkan tidak akan tau
bagaimana garap-garap gending tradisi yang sebenarnya. Kemudian kebudayaan yang
sudah ada seperti karawitan akan tergeser bahkan hilang tergantikan oleh
kebudayaan yang lebih modern yang dirasa sesuai dengan keinginan masyarakat
saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar