Perkembangan Karawitan
Nama : Didik setiono
NIM : 13111127
Karawitan
berasal dari bahasa jawa yaitu rawit,
yang mempunyai arti rumit, halus, dan indah. Karawitan khususnya di pakai untuk
mengacu pada genre musik gamelan jawa
yang berlaras slendro dan pelog. Dalam Karawitan biasanya terdapat pementasan
gending dengan menggunakan gamelan ageng baik vokal maupun instrumental yang
biasa disebut dengan klenengan.
Dahulu Klenengan hanya berkembang pada tembok kraton saja dan disajikan oleh
para abdidalem kraton sebagai hiburan dan upacara adat, abdidalem yang terkenal
pada masa itu R.L Matropangrawit dan Mloyowidodo.
Pada
tanggal 27 bulan agustus tahun 1950
konservatori didirikan, dengan pertimbangan agar seni budaya karawitan
dapat berkembang. Kemudian pada tanggal 15 Juli 1964 ASKI (Akademik Seni
Karawitan Indonesia) didirikan dengan tujuan untuk mengembangkan seni
tradisonal karena melihat kota surakarta sebagai kota budaya dan memiliki
potensi tinggi untuk mengembangkan seni tradisi. Dengan adanya perguruan tinggi
ini adalah sebagai penjembatan antara karawitan yang dulunya hanya berkembang
pada tembok kraton saja menjadi karawitan yang berkembang pada masyarakat umum.
Selain
itu banyak seniman yang bermunculan dari berbagai daerah antara lain adalah Ki
NartoSabdo seniman dari klaten ini, adalah pemimpin sekaligus pendiri paguyuban
wayang orang ngesti pandawa, sekaligus pengendhang wayang tobong yang banyak
membuat gubahan komposisi gending-gending baru antara lain ketawang pamuji,
ladrang pujimaya, dll. Ki Cokrowarsito seorang abdidalem dikraton Yogyakarta
juga seorang komposer yang banyak membuat karya komposisi gamelan yang merakyat
sperti Kuwi Opo Kuwi, Gugur Gunung, Penghijauan, dll. Dengan adanyan ke dua
latar belakang tersebut dapat disimpulkan bahwa klenengan yang pada jaman
dahulu dipakai sebagai upacara adat kerajan dan hanya ditabuh oleh para
abdidalem, namun sekarang klenengan dapat dipakai sebagai hiburan untuk
iringian pada acara hajatan pernikahan, khitanan, dll yang berhubugan dengan
seni tradisi.
Menurut
pendapat Prof. Dr. T.
Slamet Suparno, S. Kar., M.S, tentang bergesernya klenengan gaya kraton menjadi
gaya pesisiran disebabkan karena adanya perubahan sosial yaitu perubahan selera
pada masyarakat. Masyarakat pada masa sekarang ini sangat dipengaruhi oleh
kapitalisme (sistem perekonomian dimana perdagangan, industri dan alat-alat
produksi dikendalikan oleh swasta)[1].
Kapitalisme ini membawa efek kecenderungan orang mejadi konsumtif (konsumif/konsumsi:
hanya memakai, tidak menghasilkan)[2].
Dalam hal ini yang dipentingkan oleh orang sekarang adalah kesenangan, kalau
untuk mendengarkan gendhing kraton harus menjiwai jadi perlu mengorbankan rasa
untuk bisa menghayati klenengan kraton. Orang jaman sekarang cenderung
hidunisme (mencari kepuasan sesaat) karena terpengaruh oleh kapitalisasi dan
globalisasi.
Pendapat
saya tentang hal tersebut adalah orang-orang zaman sekarang kesanya
menginginkan sesuatu itu yang praktis mendengarkan gendhing juga yang berkesan
gayeng atau rame. Contohnya seseorang yang lelah setelah pulang bekerja
seharian ingin mendengarkan musik yang ringan-ringan seperti musik-musik gaya
sragenan, bila untuk mendengarkan gending kraton rata-rata berat karena dalam
menghayatinya harus menjiwai, dalam menjiwai perlu mengorbankan rasa jadi orang
belum mendengarkan, tapi membayangkanya saja sudah malas. Dari
fenomena-fenomena diatas saya dapat menyimpulkan bahwa gending-gending
klenengan yang semula bergaya kraton bergeser menjadi bukan bergaya kraton lagi
karena dipengaruhi oleh pengaruh sosial dan konsumtif masyarakat.
Dari
sisi keuntungan semakin luas anggota masyarakat yang dapat mendengarkan, dapat menonton,
dapat menghayati gending-gending yang ringan dan dari sisi jumlah semakin luas,
tetapi dari sisi kualitas rugi karena orang-orang yang bisa menghayati
gending-gending tradisi gaya kraton semakin sedikit. Bukti dari pernyataan
tersebut yaitu, hanya sedikit saja kelompok karawitan yang berorientasi pada
garap-garap kraton, contohnya klompok klenengan pujangga laras masih
mempertahankan garap kraton karena rata-rata para pengrawitnya yaitu abdidalam
kraton.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar