Selasa, 29 November 2016

Perkembangan Karawitan




                                               
Perkembangan Karawitan

Nama   : Didik setiono
NIM    : 13111127


Karawitan berasal dari bahasa jawa yaitu rawit, yang mempunyai arti rumit, halus, dan indah. Karawitan khususnya di pakai untuk mengacu pada genre musik gamelan jawa yang berlaras slendro dan pelog. Dalam Karawitan biasanya terdapat pementasan gending dengan menggunakan gamelan ageng baik vokal maupun instrumental yang biasa disebut dengan klenengan. Dahulu Klenengan hanya berkembang pada tembok kraton saja dan disajikan oleh para abdidalem kraton sebagai hiburan dan upacara adat, abdidalem yang terkenal pada masa itu R.L Matropangrawit dan Mloyowidodo.
Pada tanggal 27 bulan agustus tahun 1950  konservatori didirikan, dengan pertimbangan agar seni budaya karawitan dapat berkembang. Kemudian pada tanggal 15 Juli 1964 ASKI (Akademik Seni Karawitan Indonesia) didirikan dengan tujuan untuk mengembangkan seni tradisonal karena melihat kota surakarta sebagai kota budaya dan memiliki potensi tinggi untuk mengembangkan seni tradisi. Dengan adanya perguruan tinggi ini adalah sebagai penjembatan antara karawitan yang dulunya hanya berkembang pada tembok kraton saja menjadi karawitan yang berkembang pada masyarakat umum.
Selain itu banyak seniman yang bermunculan dari berbagai daerah antara lain adalah Ki NartoSabdo seniman dari klaten ini, adalah pemimpin sekaligus pendiri paguyuban wayang orang ngesti pandawa, sekaligus pengendhang wayang tobong yang banyak membuat gubahan komposisi gending-gending baru antara lain ketawang pamuji, ladrang pujimaya, dll. Ki Cokrowarsito seorang abdidalem dikraton Yogyakarta juga seorang komposer yang banyak membuat karya komposisi gamelan yang merakyat sperti Kuwi Opo Kuwi, Gugur Gunung, Penghijauan, dll. Dengan adanyan ke dua latar belakang tersebut dapat disimpulkan bahwa klenengan yang pada jaman dahulu dipakai sebagai upacara adat kerajan dan hanya ditabuh oleh para abdidalem, namun sekarang klenengan dapat dipakai sebagai hiburan untuk iringian pada acara hajatan pernikahan, khitanan, dll yang berhubugan dengan seni tradisi.
Menurut pendapat Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S. Kar., M.S, tentang bergesernya klenengan gaya kraton menjadi gaya pesisiran disebabkan karena adanya perubahan sosial yaitu perubahan selera pada masyarakat. Masyarakat pada masa sekarang ini sangat dipengaruhi oleh kapitalisme (sistem perekonomian dimana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh swasta)[1]. Kapitalisme ini membawa efek kecenderungan orang mejadi konsumtif (konsumif/konsumsi: hanya memakai, tidak menghasilkan)[2]. Dalam hal ini yang dipentingkan oleh orang sekarang adalah kesenangan, kalau untuk mendengarkan gendhing kraton harus menjiwai jadi perlu mengorbankan rasa untuk bisa menghayati klenengan kraton. Orang jaman sekarang cenderung hidunisme (mencari kepuasan sesaat) karena terpengaruh oleh kapitalisasi dan globalisasi.
Pendapat saya tentang hal tersebut adalah orang-orang zaman sekarang kesanya menginginkan sesuatu itu yang praktis mendengarkan gendhing juga yang berkesan gayeng atau rame. Contohnya seseorang yang lelah setelah pulang bekerja seharian ingin mendengarkan musik yang ringan-ringan seperti musik-musik gaya sragenan, bila untuk mendengarkan gending kraton rata-rata berat karena dalam menghayatinya harus menjiwai, dalam menjiwai perlu mengorbankan rasa jadi orang belum mendengarkan, tapi membayangkanya saja sudah malas. Dari fenomena-fenomena diatas saya dapat menyimpulkan bahwa gending-gending klenengan yang semula bergaya kraton bergeser menjadi bukan bergaya kraton lagi karena dipengaruhi oleh pengaruh sosial dan konsumtif masyarakat.
Dari sisi keuntungan semakin luas anggota masyarakat yang dapat mendengarkan, dapat menonton, dapat menghayati gending-gending yang ringan dan dari sisi jumlah semakin luas, tetapi dari sisi kualitas rugi karena orang-orang yang bisa menghayati gending-gending tradisi gaya kraton semakin sedikit. Bukti dari pernyataan tersebut yaitu, hanya sedikit saja kelompok karawitan yang berorientasi pada garap-garap kraton, contohnya klompok klenengan pujangga laras masih mempertahankan garap kraton karena rata-rata para pengrawitnya yaitu abdidalam kraton.



[1] https:/id.m.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme
[2] KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar