Selasa, 29 November 2016




Karawitan Modern Yang Merajalela

Nama               : Nanang Dwi Purnama
Nim                 : 13111139
Jurusan            : Seni Karawitan
INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA


            Karawitan di jaman dahulu sangat berpedoman pada karawitan yang terdapat di Kraton, Lembaga pendidikan bidang seni. Berbagai nilai estetik sangat dipertimbangkan untuk menyajikan gendhing-gendhing tradisi. Dengan adanya  kelompok karawitan yang ada di lingkup kraton dan di lembag pendidikan di bidang seni tersebut telah menciptakan tokoh-tokoh karawitan yang hebat. Diantaranya Marta Pangrawit, Mloyo Widodo, dan lainnya. Gendhing-gendhing kethuk 2 kerep, gendhing-gendhing kethuk 4 kerep di kehidupan karawitan di masa lampau masih banyak disajikan. Akan tetapi berbeda dengan kehidupan karawitan di masa sekarang ini.
            Pelaku seni karawitan (pengrawit) pada beberapa tahun terakhir ini kehilangan kesadaran atas penyajian gendhing-gendhing tradisi. Pada awalnya, seniman karawitan sangat menikmati gendhing-gendhing tradisi. Akan tetapi dengan munculnya trobosan-trobosan musik baru yang khususnya terdapat di lingkungan kampus mempengaruhi perkembangan karawitan di daerah-daerah. Pada awalnya di lingkup kampus ISI Surakarta jenis musik-musik pembaruan biasanya disajikan dalam musik tari, musik wayang kulit. Dengan adanya lulusan Sarjana Karawitan yang berdomisili di daerah-daerah, musik jenis pembaruan tersebut mulai tersebar.
            Munculnya musik pembaharuan di masa sekarang ini sangat menarik perhatian khusus dari seniman tradisi (pengrawit kraton, dosen-dosen ISI Surakarta, pengrawit senior). Ada salah satu tokoh seniman yang ada di kampus ISI Surakarta membahas persoalan ini di media masa, dengan pokok pembahasan sajian klenengan yng dilakukan sebelum pagelaran wayang kulit. Untuk di masa sekarang ini, waktu sebelum pagelaran wayang kulit dimulai digunakan untuk penyajian jenis-jenis musik pembaruan tersebut. Dengan alasan untuk memenuhi kepuasan penonton, dan juga senimannya itu sendiri. Hal tersebut sangat disayangakan dikarenakan begitu dangkal pola pikiran seniman sekarang ini. Memang untuk memenuhi kepuasan konsumen sangat penting, karena sumber penghasilan seniman karawitan pada umumnya dari honor pentas di daerah-daerah. Hal tersebut yang mendorong seniman-seniman karawitan di jaman sekarang ini untuk lebih bisa mengusai jenis-jenis musik pembaharuan tersebut. Bahkan ada seorang dalang yang dalam sajian pagelaran wayang kulit semalam suntuk hampir tidak menyajikan gendhing-gendhing tradisi. Musik yang disajikan semuanya adalah musik komposisi.
Kreatif
            Suatu proses untuk menemukan gagasan-gagasan baru untuk menyelesaikan atau mengatasi suatu hal bisa disebut kreatif. Kreatif dalam hel tersebut berkaitan dengan adanya musik-musik pembaharuan yang difungsikan untuk keperluan yang biasanya dulu dilakukan dengan menggunakan musik tradisi. Sebagai contoh, munculnya lagu Nusantara diciptakan oleh Dedek Wahyudi (pegawai ISI Surakarta). Lagu tersebut pada awalnya digunakan untuk musik non klenengan, akan tetapi dengan adanya kretifitas pelaku seni di masa sekarang ini lagu tersebut biasa disajikan sebagai musik klenengan di pagelaran sebelum wayang kulit dimulai. Hal tersebut sangat digemari masyarakat umum maupun senimannya itu sendiri. Dikarenakan lagu tersebut mempunyai kesan sigrak, gumnyak, gayeng. Berawal dari itu, hampir semua seniman-seniman yang ada di daerah-daerah mulai mengikuti alur tersebut
Dampak Positif
            Bagi seniman sekarang ini, dengan adanya musik komposisi yang difungsikan sebagai klenengan menjadi ruang bagi seniman untuk berkreasi tanpa mempertimbangkan aturan yang ada dalam tradisi karawitan jawa. Seniman tidak perlu takut mengeluarkan buah pikirannya yang justru dari situlah terlahir jenis musik baru. Pengalaman bermusik bagi seniman juga bertambah dikarenakan dalam pertunjukkannya seniman dituntut untuk dapat memainkan alat musik non gamelan. Sebagai contoh, beberapa alat musik tersebut adalah saxophone dan biola yang dikolaborasikan dengan gamelan sehingga iringan musik lebih menarik perhatian penonton. Adanya alat musik saxo dan biola tersebut menurut seniman dapat mendukung suasana yang diinginkan. Bertambahnya penghasilan yang didapat karena banyaknya job-job untuk pentas di daerah-daerah apabila dapat menguasai beberapa jenis musik modern tersebut.
Dampak Negatif  
            Seniman senior (tradisi) merasa senang karena karawitan sekarang mengalami perkembangan. Salah satunya muncul jenis musik baru hasil daya pikiran seniman kreatif di masa sekarang. Akan tetapi disisi lain seniman tradisi tersebut menyayangkan apabila gendhing tradisi jawa yang kaya akan garap disetiap ricikan gamelan. Contohnya dalam ricikan gender terdapat banyak cengkok dan wiletan, berbeda seniman maka berbeda pula wiletannya. Dengan adanya musik-musik terobosan terbaru seperti yang dijelaskan diatas, ruang lingkup untuk belajar tentang apa yang terkandung dalam karawitan tradisi menjadi terbatas karena tidak adanya kesempatan untuk menyajikan gendhing-gendhing tradisi di pagelaran wayangan atau dikesenian yang lain. Dilihat dari sudut pandang seniman tradisi dengan adanya musik-musik baru menimbulkan kesan bahwa pendengar dituntut untuk terus berpikir dan tidak merasa rileks karena musik sekarang ini cenderung tidak mempunyai dinamika musikal. Kesan yang timbul dalam musik karawitan di masa sekarang ini cenderung selalu gumnyak, sigrak, gayeng. Dan jarang sekali muncul ide-ide baru yang mempengaruhi pola pikir seniman di masa sekarang ini untuk kembali ke bentuk karawitan tradisi. Daya tarik musik komposisi yang mengikuti perkembangan jaman selera masyarakat sangat kuat.
Harapan kedepan
            Banyak seniman yang mempunyai harapan berhubungan dengan karawitan di masa yang akan datang, yaitu bagaimana pelaku seniman karawitan dapat menempatkan gendhing-gendhing tradisi di pertunjukan klenengan. Karena dinilai gendhing-gendhing tersebut banyak hal yang rumit dalam hal penggarapannya. Setiap ricikan yang terdapat pada gamelan jawa mempunyai pola tabuhan yang berbeda – beda. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap emosional pengrawit pada saat penyajian gendhing-gendhing tradisi. Karena disitulah letak kesulitan yang paling tinggi untuk menggarap balungan gendhing. Hal tersebut untuk sekarang ini masih di wadahi dalam pembelajaran di lembga pendidikan bidang seni. Diantaranya SMK N 8 Surakarta, ISI Surakarta. Dalam pembelajarannya sangat ketat dengan aturan-aturan yang terdapat pada karawitan tradisi. Apalagi didukung dengan pengampu yang kemampuan karawitan tradisinya sangat kuat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar