Karawitan Modern Yang Merajalela
Nama : Nanang Dwi Purnama
Nim : 13111139
Jurusan : Seni Karawitan
INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA
Karawitan
di jaman dahulu sangat berpedoman pada karawitan yang terdapat di Kraton,
Lembaga pendidikan bidang seni. Berbagai nilai estetik sangat dipertimbangkan
untuk menyajikan gendhing-gendhing tradisi. Dengan adanya kelompok karawitan yang ada di lingkup kraton
dan di lembag pendidikan di bidang seni tersebut telah menciptakan tokoh-tokoh
karawitan yang hebat. Diantaranya Marta Pangrawit, Mloyo Widodo, dan lainnya.
Gendhing-gendhing kethuk 2 kerep, gendhing-gendhing kethuk 4 kerep di kehidupan
karawitan di masa lampau masih banyak disajikan. Akan tetapi berbeda dengan
kehidupan karawitan di masa sekarang ini.
Pelaku
seni karawitan (pengrawit) pada beberapa tahun terakhir ini kehilangan
kesadaran atas penyajian gendhing-gendhing tradisi. Pada awalnya, seniman
karawitan sangat menikmati gendhing-gendhing tradisi. Akan tetapi dengan
munculnya trobosan-trobosan musik baru yang khususnya terdapat di lingkungan
kampus mempengaruhi perkembangan karawitan di daerah-daerah. Pada awalnya di
lingkup kampus ISI Surakarta jenis musik-musik pembaruan biasanya disajikan
dalam musik tari, musik wayang kulit. Dengan adanya lulusan Sarjana Karawitan
yang berdomisili di daerah-daerah, musik jenis pembaruan tersebut mulai
tersebar.
Munculnya musik pembaharuan di masa
sekarang ini sangat menarik perhatian khusus dari seniman tradisi (pengrawit
kraton, dosen-dosen ISI Surakarta, pengrawit senior). Ada salah satu tokoh
seniman yang ada di kampus ISI Surakarta membahas persoalan ini di media masa,
dengan pokok pembahasan sajian klenengan yng dilakukan sebelum pagelaran wayang
kulit. Untuk di masa sekarang ini, waktu sebelum pagelaran wayang kulit dimulai
digunakan untuk penyajian jenis-jenis musik pembaruan tersebut. Dengan alasan
untuk memenuhi kepuasan penonton, dan juga senimannya itu sendiri. Hal tersebut
sangat disayangakan dikarenakan begitu dangkal pola pikiran seniman sekarang
ini. Memang untuk memenuhi kepuasan konsumen sangat penting, karena sumber
penghasilan seniman karawitan pada umumnya dari honor pentas di daerah-daerah.
Hal tersebut yang mendorong seniman-seniman karawitan di jaman sekarang ini
untuk lebih bisa mengusai jenis-jenis musik pembaharuan tersebut. Bahkan ada
seorang dalang yang dalam sajian pagelaran wayang kulit semalam suntuk hampir
tidak menyajikan gendhing-gendhing tradisi. Musik yang disajikan semuanya
adalah musik komposisi.
Kreatif
Suatu proses
untuk menemukan gagasan-gagasan baru untuk menyelesaikan atau mengatasi suatu
hal bisa disebut kreatif. Kreatif dalam hel tersebut berkaitan dengan adanya
musik-musik pembaharuan yang difungsikan untuk keperluan yang biasanya dulu
dilakukan dengan menggunakan musik tradisi. Sebagai contoh, munculnya lagu
Nusantara diciptakan oleh Dedek Wahyudi (pegawai ISI Surakarta). Lagu tersebut
pada awalnya digunakan untuk musik non klenengan, akan tetapi dengan adanya
kretifitas pelaku seni di masa sekarang ini lagu tersebut biasa disajikan
sebagai musik klenengan di pagelaran sebelum wayang kulit dimulai. Hal tersebut
sangat digemari masyarakat umum maupun senimannya itu sendiri. Dikarenakan lagu
tersebut mempunyai kesan sigrak, gumnyak,
gayeng. Berawal dari itu, hampir semua seniman-seniman yang ada di
daerah-daerah mulai mengikuti alur tersebut
Dampak Positif
Bagi seniman
sekarang ini, dengan adanya musik komposisi yang difungsikan sebagai klenengan
menjadi ruang bagi seniman untuk berkreasi tanpa mempertimbangkan aturan yang
ada dalam tradisi karawitan jawa. Seniman tidak perlu takut mengeluarkan buah
pikirannya yang justru dari situlah terlahir jenis musik baru. Pengalaman
bermusik bagi seniman juga bertambah dikarenakan dalam pertunjukkannya seniman
dituntut untuk dapat memainkan alat musik non gamelan. Sebagai contoh, beberapa
alat musik tersebut adalah saxophone dan biola yang dikolaborasikan dengan
gamelan sehingga iringan musik lebih menarik perhatian penonton. Adanya alat
musik saxo dan biola tersebut menurut seniman dapat mendukung suasana yang
diinginkan. Bertambahnya penghasilan yang didapat karena banyaknya job-job
untuk pentas di daerah-daerah apabila dapat menguasai beberapa jenis musik
modern tersebut.
Dampak Negatif
Seniman senior (tradisi) merasa
senang karena karawitan sekarang mengalami perkembangan. Salah satunya muncul
jenis musik baru hasil daya pikiran seniman kreatif di masa sekarang. Akan
tetapi disisi lain seniman tradisi tersebut menyayangkan apabila gendhing
tradisi jawa yang kaya akan garap disetiap ricikan gamelan. Contohnya dalam
ricikan gender terdapat banyak cengkok dan wiletan, berbeda seniman maka
berbeda pula wiletannya. Dengan adanya musik-musik terobosan terbaru seperti
yang dijelaskan diatas, ruang lingkup untuk belajar tentang apa yang terkandung
dalam karawitan tradisi menjadi terbatas karena tidak adanya kesempatan untuk
menyajikan gendhing-gendhing tradisi di pagelaran wayangan atau dikesenian yang
lain. Dilihat dari sudut pandang seniman tradisi dengan adanya musik-musik baru
menimbulkan kesan bahwa pendengar dituntut untuk terus berpikir dan tidak
merasa rileks karena musik sekarang ini cenderung tidak mempunyai dinamika
musikal. Kesan yang timbul dalam musik karawitan di masa sekarang ini cenderung
selalu gumnyak, sigrak, gayeng. Dan jarang sekali muncul ide-ide baru yang
mempengaruhi pola pikir seniman di masa sekarang ini untuk kembali ke bentuk
karawitan tradisi. Daya tarik musik komposisi yang mengikuti perkembangan jaman
selera masyarakat sangat kuat.
Harapan kedepan
Banyak seniman yang mempunyai
harapan berhubungan dengan karawitan di masa yang akan datang, yaitu bagaimana
pelaku seniman karawitan dapat menempatkan gendhing-gendhing tradisi di
pertunjukan klenengan. Karena dinilai gendhing-gendhing tersebut banyak hal
yang rumit dalam hal penggarapannya. Setiap ricikan yang terdapat pada gamelan
jawa mempunyai pola tabuhan yang berbeda – beda. Hal tersebut sangat
berpengaruh terhadap emosional pengrawit pada saat penyajian gendhing-gendhing
tradisi. Karena disitulah letak kesulitan yang paling tinggi untuk menggarap
balungan gendhing. Hal tersebut untuk sekarang ini masih di wadahi dalam
pembelajaran di lembga pendidikan bidang seni. Diantaranya SMK N 8 Surakarta,
ISI Surakarta. Dalam pembelajarannya sangat ketat dengan aturan-aturan yang
terdapat pada karawitan tradisi. Apalagi didukung dengan pengampu yang
kemampuan karawitan tradisinya sangat kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar