Campursari pada pertunjukan Wayang Kulit
Nama : Ria Irawati
NIM :13111148
Prodi : Karawitan
Gamelan merupakan alat musik
tradisional yang berasal dari Jawa Tengah. Gamelan ini ialah satu-satunya alat /
media untu mengiringi suatu pertunjukan misalnya Wayang kulit, ketoprak, dan
kesenian tradisional yang lain. Hampir semua kesenian tradisional melibatkan
Gamelan untuk iringannya. Dengan berbagai keunikan dan kelebihannya alat musik
ini sangat terkenal di seluruh dunia sehingga banyak orang yang mencintai dan
pengen bisa memainkan alat musik tersebut.
Tetapi sejalan dengan itu, dari bangsa
kita sendiri terutama pada generasi muda jarang sekali ada yang menyukai
bahkan tidak mengenal dengan Gamelan yang bisa di sebut juga musik Asli bangsa
Indonesia. Mereka lebih dekat dengan musik-musik berbau dengan musik barat yang
di nilai lebih pas buat mereka anak muda. Menurut mereka musik Gamelan itu
membuatnya mengantuk dan penghilang semangat beda dengan musik barat yang
menurut mereka bisa menjadikan sebagai pembangkit semangat untuk mereka. Mereka
lebih menikmati musik tersebut dibandingkan mendengarkan alunan Gamelan. Sehingga
kebanyakan penggemar musik Gamelan pada usia keatas. Gamelan sering kali untuk
mengiringi pertunjukan Wayang kulit.
Wayang kulit secara sederhana
merupakan sebuah kesenian tradisional masyarakat yang dilakukan oleh dalang dan
diiringi dengan musik gamelan. Dalam kesenian wayang kulit ini disajikan sebuah
cerita yang diambil dari kehidupan/ pedoman kehidupan. Tetapi pada pertunjukan wayang
ini banyak di sukai oleh masyarakat yang usia keatas dan kurang disukai oleh
kaum pemuda atau bisa di sebut juga generasi penerus bangsa. Para penggemar
wayang kulit khususmya untuk usia keatas pada dasarnya mereka menghayati
cerita-certita yang di bawakan oleh seorang dalang, beda dengan anak muda jaman
sekarang ketika mendengar iringan wayang mungkin mereka terasa bosan dan jenuh
sehingga tidak menyukai kesenian tersebut. Para generasi muda sekarang lebih
bangga mengakui budaya asing di bandingkan budayanya sendiri. Anak jaman
sekarang jauh lebih suka dengan musik-musik barat yang membawanya menjadi lebih
gaul dan bisa dikatakan sebagai anak hits jaman sekarang di bandingkan dengan
melihat pertunjukan wayang kulit yang bikin ngantuk. Anak muda mengatakan bahwa
pertunjukan wayang adalah pertunjukan untuk orang tua. Untuk memenuhi minat
para pemuda dan untuk mengikuti perkembangan zaman sekarang pada pertunjukan
wayang kulit di adakan kesenian campursari.
Penambahan campursari pada kesenian
Wayang kulit ini bertujuan untuk menggugah minat para anak muda untuk
menyaksikan pertunjukan tersebut. Walaupun hal ini kurang pakem untuk
pertunjukan wayang kulit. Wayang kulit yang seharusnya adalah menggunakan alat
musik gamelan sebagai iringan. Tetapi karena untuk membangkitkan minat anak
muda adalah dengan menambahkan alat musik atau kesenian campursari pada
pertunjukan wayang. Awal kemunculan musik campusari pada pertunjukan wayang ini
sempat menimbulkan pertentangan dengan menggemar wayang terutama yang umur
keatas. Hal ini dianggap menurunkan citra keagungan kesenian klasik wayangan
yang terkenal dengan kebudayaan keraton adiluhung. Setelah adanya kesenian
campursari ada wayang kulit anak-anak muda banyak yang ikut berapresisi dalam
pertunjukan tersebut, bahkan mereka tidak tau kalau penambahan musik ini
menurunkan keagungan kesenian klasik. Bagi mereka yang terpenting adalah
kesenangan. Dampak negatifnya sering terjadi perkelaihan pada saat pertunjukan
tersebut, banyak yang seenaknya sendiri meminta lagu tanpa memikirkan waktu
yang sudah di atur oleh Dalang. Mereka tidak peduli dengan itu, mereka
berjoget-joget sambil miras. Jauh dibandingkan pada zaman masih menggunakan
klasikan, penonton tenang dan menikmatinya berbagai alunan sajian gendhing.
Bahkan pada pertunjukan wayang jarang disajikan gendhing-gendhing yang dahulu
sering diminati para penggemar wayang kulit. Contohnya gendhing-gendhing
ciptaan Ki Nartosabdo, jineman, dll. Jaman sekarang terlalu memakai lagu-lagu
dangdut demi permintaan para penonton. Tradisi semakin hilang karena adanya
perkembangan zaman yang semakin modern yang mempengaruhi anak muda jaman
sekarang. Bahkan para penggemar wayang selalu meminta pelaku Sinden yang masih
berusia muda di bandingkan sinden yang sudah tua. Bagi mereka sinden muda dan
cantik itu membuat mereka semangat dan tidak mengantuk. Padahal rata-rata
sinden muda tidak menguasai sindenan dan mereka disana hanya untuk penikmat
mata penonton. Sinden tua bahkan sudah tidak terpakai mereka lebih memilih
sinden yang masih berusia muda. Hal tesebut sangat berpengaruh terhadap penurunan
pelestarian tradisi yang bener-bener melestarikan kesenian Wayang kulit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar