Selasa, 29 November 2016

Campursari pada pertunjukan Wayang Kulit




 Campursari pada pertunjukan Wayang Kulit

Nama   : Ria Irawati
NIM    :13111148
Prodi   : Karawitan


            Gamelan merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Tengah. Gamelan ini ialah satu-satunya alat / media untu mengiringi suatu pertunjukan misalnya Wayang kulit, ketoprak, dan kesenian tradisional yang lain. Hampir semua kesenian tradisional melibatkan Gamelan untuk iringannya. Dengan berbagai keunikan dan kelebihannya alat musik ini sangat terkenal di seluruh dunia sehingga banyak orang yang mencintai dan pengen bisa memainkan alat musik tersebut.  Tetapi sejalan dengan itu, dari bangsa  kita sendiri terutama pada generasi muda jarang sekali ada yang menyukai bahkan tidak mengenal dengan Gamelan yang bisa di sebut juga musik Asli bangsa Indonesia. Mereka lebih dekat dengan musik-musik berbau dengan musik barat yang di nilai lebih pas buat mereka anak muda. Menurut mereka musik Gamelan itu membuatnya mengantuk dan penghilang semangat beda dengan musik barat yang menurut mereka bisa menjadikan sebagai pembangkit semangat untuk mereka. Mereka lebih menikmati musik tersebut dibandingkan mendengarkan alunan Gamelan. Sehingga kebanyakan penggemar musik Gamelan pada usia keatas. Gamelan sering kali untuk mengiringi pertunjukan Wayang kulit.
            Wayang kulit secara sederhana merupakan sebuah kesenian tradisional masyarakat yang dilakukan oleh dalang dan diiringi dengan musik gamelan. Dalam kesenian wayang kulit ini disajikan sebuah cerita yang diambil dari kehidupan/ pedoman kehidupan. Tetapi pada pertunjukan wayang ini banyak di sukai oleh masyarakat yang usia keatas dan kurang disukai oleh kaum pemuda atau bisa di sebut juga generasi penerus bangsa. Para penggemar wayang kulit khususmya untuk usia keatas pada dasarnya mereka menghayati cerita-certita yang di bawakan oleh seorang dalang, beda dengan anak muda jaman sekarang ketika mendengar iringan wayang mungkin mereka terasa bosan dan jenuh sehingga tidak menyukai kesenian tersebut. Para generasi muda sekarang lebih bangga mengakui budaya asing di bandingkan budayanya sendiri. Anak jaman sekarang jauh lebih suka dengan musik-musik barat yang membawanya menjadi lebih gaul dan bisa dikatakan sebagai anak hits jaman sekarang di bandingkan dengan melihat pertunjukan wayang kulit yang bikin ngantuk. Anak muda mengatakan bahwa pertunjukan wayang adalah pertunjukan untuk orang tua. Untuk memenuhi minat para pemuda dan untuk mengikuti perkembangan zaman sekarang pada pertunjukan wayang kulit di adakan kesenian campursari.
            Penambahan campursari pada kesenian Wayang kulit ini bertujuan untuk menggugah minat para anak muda untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Walaupun hal ini kurang pakem untuk pertunjukan wayang kulit. Wayang kulit yang seharusnya adalah menggunakan alat musik gamelan sebagai iringan. Tetapi karena untuk membangkitkan minat anak muda adalah dengan menambahkan alat musik atau kesenian campursari pada pertunjukan wayang. Awal kemunculan musik campusari pada pertunjukan wayang ini sempat menimbulkan pertentangan dengan menggemar wayang terutama yang umur keatas. Hal ini dianggap menurunkan citra keagungan kesenian klasik wayangan yang terkenal dengan kebudayaan keraton adiluhung. Setelah adanya kesenian campursari ada wayang kulit anak-anak muda banyak yang ikut berapresisi dalam pertunjukan tersebut, bahkan mereka tidak tau kalau penambahan musik ini menurunkan keagungan kesenian klasik. Bagi mereka yang terpenting adalah kesenangan. Dampak negatifnya sering terjadi perkelaihan pada saat pertunjukan tersebut, banyak yang seenaknya sendiri meminta lagu tanpa memikirkan waktu yang sudah di atur oleh Dalang. Mereka tidak peduli dengan itu, mereka berjoget-joget sambil miras. Jauh dibandingkan pada zaman masih menggunakan klasikan, penonton tenang dan menikmatinya berbagai alunan sajian gendhing. Bahkan pada pertunjukan wayang jarang disajikan gendhing-gendhing yang dahulu sering diminati para penggemar wayang kulit. Contohnya gendhing-gendhing ciptaan Ki Nartosabdo, jineman, dll. Jaman sekarang terlalu memakai lagu-lagu dangdut demi permintaan para penonton. Tradisi semakin hilang karena adanya perkembangan zaman yang semakin modern yang mempengaruhi anak muda jaman sekarang. Bahkan para penggemar wayang selalu meminta pelaku Sinden yang masih berusia muda di bandingkan sinden yang sudah tua. Bagi mereka sinden muda dan cantik itu membuat mereka semangat dan tidak mengantuk. Padahal rata-rata sinden muda tidak menguasai sindenan dan mereka disana hanya untuk penikmat mata penonton. Sinden tua bahkan sudah tidak terpakai mereka lebih memilih sinden yang masih berusia muda. Hal tesebut sangat berpengaruh terhadap penurunan pelestarian tradisi yang bener-bener melestarikan kesenian Wayang kulit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar