Arum Melati
Nama : Ananto Sabdo Aji
NIM : 13111155
Jurusan : Karawitan
Sebuah kelompok karawitan putri yang terdapat di
sebuah Desa Bakalan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Arum yang
berarti Harum, Melati adalah bunga melati, jadi harumnya bunga melati itulah
makna dari nama karawitan putri tersebut. Karawitan Arum Melati berdiri sejak
tahun 2002 yang diketuai oleh Ibu Haryanti dan diasuh oleh Bapak Sabar Sabdo
pendiri Yayasan Sanggar Parikesit. Karawitan tersebut setiap tahunnya pasti
mengikuti lomba yang diadakan oleh pemerintah kabupaten Sukoharjo sebagai wujud
partisipasi dan melestarikan kebudayaan Jawa. Seluruh anggota Karawitan Arum
Melati memiliki latar belakang yang berbeda-beda, ada yang berasal dari penjual
jamu, penjual sayuran, dan masih banyak lagi.
Disini saya akan menceritakan proses latian karawitan Arum Melati
yang rutin diadakan dua kali dalam seminggu, tepatnya pada hari senin malam dan
kamis malam. Namun saya akan membahas proses latian yang terjadi pada hari
Kamis 20 Oktober 2016.
Latihan karawitan Arum Melati ini diadakan di Sanggar
Parikesit tepatnya rumah Bapak Sabar Sabdo. Sebelum latian dimulai diadakan
arisan dan “ngrumpi” karena itu sudah menjadi hal yang “biasa” untuk
perkumpulan ibu-ibu. Latihan yan dimulai sekitar pukul 8 lebih ini dimulai
dengan melatih gending-gending yang sangat komersial di masyarakat, dimulai
dengan gending Randhu Kentir. Walaupun sudah sangat lama berlatih namun ibu-ibu
ini masih sangat lemah sekali dalam kepekaan tempo dan nada-nada. Masih banyak
sekali yang memukul tidak bersamaan dengan yang lain, juga tidak memperhatikan
tempo yang dibuat oleh kendang, namun
hal itu tidaklah membuat patah semangat justru itu membuat mereka ingin selalu
belajar lagi. Dalam gending ini sudah hampir 98% sajian musiknya sudah bagus
hanya saja seperti yang saya utarakan didepan, kepekaan tempo dan nada yang
masih sangat kurang sekali, namun jalinan musikal dari instrument satu dengan
yang lain sedikit sudah dapat dirasakan.
Selain gending komersial juga dilatihkan gending karya
Bapak Sabar Sabdo sendiri, dalam latihan ini dilatihkan gending Asmaradana
Binuka. Dalam sajian gending ini juga sudah sangat bagus, hanya terkadang yang
memegang instrument bonang sering
lupa dalam hal tehnik bonangan imbal,
jalian musikan antara intrumen saron
penerus dan lagu dari gending juga sudah tercermin. Dalam karawitan ini
yang masih sedikit lemah adalah di Vokal, vokal yang tidak mempunyai latar
belakang dari seni sangat susah untuk menyamakan dengan nada-nada gamelan, terkadang dikhususkan sendiri
untuk melatih vokal saja.
Semakin malam dalam latihan para ibu-ibu menginginkan
gending yang dilatih bersifat gayeng
yang bernuansakan sragenan. Dalam
latihan ini para ibu-ibu juga dilatih lagu gaya sragenan, seperti lagu Kacu
kuning, Sri Huning, dan lain sebagainya. Semua itu untuk memenuhi kebutuhan
dalam masyarakat, namun juga memenuhi permintaan dari para anggota sendiri,
karena gending-gending yang bersifat gayeng membuat latian
menjadi semangat dan tidak mudah mengantuk. Ibu-ibu ini juga sudah sangat mahir
dalam memainkan lagu-lagu sragenan,
tehnik tabuhan imbal dalam instrument
saron juga sudah diterapkan. Tehnik
tabuhan bonang imbal juga sudah
diterapkan. Jika sudah memasuki dalam lagu-lagu sragenan waktu pun terasa berjalan cepat dan tidak terasa sudah
menjelang tengah malam.
Seperti
latihan biasanya, latihan malam itu di tutup dengan berlatih gending Kutut Manggung, disini vokal yang masih
belum bisa menyajikannya di ulang-ulang sampai beberapa kali supaya vokalnya
hafal dan bisa untuk menyajikan gending Kutut
Manggung. Hampir 5 kali lebih gending ini diulangi untuk vokalnya,
dikarenakan belum mampu juga anggota yang menjadi vokal sangat banyak, jadi
setiap angota inggin mencoba dan berlatih. Selain melatih vokal, intrumen bonang yang juga masih belum terlalu
menguasai juga membutuhkan pengulangan dibagian-bagian tertentu supaya lebih
paham lagi.
Sebenarnya bukan masalah pintar dan tidaknya,
bukan masalah mahir dan tidaknya, namun semangat mereka yang sangat membara
untuk melestarikan kebudayaan yang adi luhung ini, dengan berbagai latar
belakang yang mereka miliki namun
menjadikan satu tekad, yaitu melestarikan budaya Jawa yang sudah hampir punah
ini. Semoga kita generasi yang muda lebih bersemangat dalam melestarikan kebudayaan
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar