Selasa, 29 November 2016

Arum Melati



Arum Melati

Nama               : Ananto Sabdo Aji
NIM                : 13111155
Jurusan            : Karawitan


Sebuah kelompok karawitan putri yang terdapat di sebuah Desa Bakalan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Arum yang berarti Harum, Melati adalah bunga melati, jadi harumnya bunga melati itulah makna dari nama karawitan putri tersebut. Karawitan Arum Melati berdiri sejak tahun 2002 yang diketuai oleh Ibu Haryanti dan diasuh oleh Bapak Sabar Sabdo pendiri Yayasan Sanggar Parikesit. Karawitan tersebut setiap tahunnya pasti mengikuti lomba yang diadakan oleh pemerintah kabupaten Sukoharjo sebagai wujud partisipasi dan melestarikan kebudayaan Jawa. Seluruh anggota Karawitan Arum Melati memiliki latar belakang yang berbeda-beda, ada yang berasal dari penjual jamu, penjual sayuran, dan masih banyak lagi.
Disini saya akan menceritakan proses latian karawitan Arum Melati yang rutin diadakan dua kali dalam seminggu, tepatnya pada hari senin malam dan kamis malam. Namun saya akan membahas proses latian yang terjadi pada hari Kamis 20 Oktober 2016.
Latihan karawitan Arum Melati ini diadakan di Sanggar Parikesit tepatnya rumah Bapak Sabar Sabdo. Sebelum latian dimulai diadakan arisan dan “ngrumpi” karena itu sudah menjadi hal yang “biasa” untuk perkumpulan ibu-ibu. Latihan yan dimulai sekitar pukul 8 lebih ini dimulai dengan melatih gending-gending yang sangat komersial di masyarakat, dimulai dengan gending Randhu Kentir. Walaupun sudah sangat lama berlatih namun ibu-ibu ini masih sangat lemah sekali dalam kepekaan tempo dan nada-nada. Masih banyak sekali yang memukul tidak bersamaan dengan yang lain, juga tidak memperhatikan tempo yang dibuat oleh kendang, namun hal itu tidaklah membuat patah semangat justru itu membuat mereka ingin selalu belajar lagi. Dalam gending ini sudah hampir 98% sajian musiknya sudah bagus hanya saja seperti yang saya utarakan didepan, kepekaan tempo dan nada yang masih sangat kurang sekali, namun jalinan musikal dari instrument satu dengan yang lain sedikit sudah dapat dirasakan.
Selain gending komersial juga dilatihkan gending karya Bapak Sabar Sabdo sendiri, dalam latihan ini dilatihkan gending Asmaradana Binuka. Dalam sajian gending ini juga sudah sangat bagus, hanya terkadang yang memegang instrument bonang sering lupa dalam hal tehnik bonangan imbal, jalian musikan antara intrumen saron penerus dan lagu dari gending juga sudah tercermin. Dalam karawitan ini yang masih sedikit lemah adalah di Vokal, vokal yang tidak mempunyai latar belakang dari seni sangat susah untuk menyamakan dengan nada-nada gamelan, terkadang dikhususkan sendiri untuk melatih vokal saja.
Semakin malam dalam latihan para ibu-ibu menginginkan gending yang dilatih bersifat gayeng yang bernuansakan sragenan. Dalam latihan ini para ibu-ibu juga dilatih lagu gaya sragenan, seperti lagu Kacu kuning, Sri Huning, dan lain sebagainya. Semua itu untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarakat, namun juga memenuhi permintaan dari para anggota sendiri, karena gending-gending yang bersifat gayeng membuat latian menjadi semangat dan tidak mudah mengantuk. Ibu-ibu ini juga sudah sangat mahir dalam memainkan lagu-lagu sragenan, tehnik tabuhan imbal dalam instrument saron juga sudah diterapkan. Tehnik tabuhan bonang imbal juga sudah diterapkan. Jika sudah memasuki dalam lagu-lagu sragenan waktu pun terasa berjalan cepat dan tidak terasa sudah menjelang tengah malam.
Seperti latihan biasanya, latihan malam itu di tutup dengan berlatih gending Kutut Manggung, disini vokal yang masih belum bisa menyajikannya di ulang-ulang sampai beberapa kali supaya vokalnya hafal dan bisa untuk menyajikan gending Kutut Manggung. Hampir 5 kali lebih gending ini diulangi untuk vokalnya, dikarenakan belum mampu juga anggota yang menjadi vokal sangat banyak, jadi setiap angota inggin mencoba dan berlatih. Selain melatih vokal, intrumen bonang yang juga masih belum terlalu menguasai juga membutuhkan pengulangan dibagian-bagian tertentu supaya lebih paham lagi.  
  Sebenarnya bukan masalah pintar dan tidaknya, bukan masalah mahir dan tidaknya, namun semangat mereka yang sangat membara untuk melestarikan kebudayaan yang adi luhung ini, dengan berbagai latar belakang  yang mereka miliki namun menjadikan satu tekad, yaitu melestarikan budaya Jawa yang sudah hampir punah ini. Semoga kita generasi yang muda lebih bersemangat dalam melestarikan kebudayaan ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar