Sikap penyajian karawitan
Nama: Fajar Eko Apriyanto
Nim: 13111129
Prodi/smt: Seni Karawitan/VII
Karawitan
merupakan seni musik tradisional Jawa yang telah
berkembang secara turun-temurun dari nenek moyang kita sesuai dengan
perkembangan jaman dan tidak meninggalkan keasliannya. Meskipun zaman semakin bertambah
maju dan canggih, sampai sekarang seni karawitan masih banyak digemari masyarakat, dari
kalangan orang tua sampai kalangan anak muda bahkan anak-anak. Di
samping karawitan sebagai seni budaya luhur, karawitan
adalah bentuk realisasi dari seni tradisional yang mempunyai garap. namun
berkembangnya jaman musik karawitan bergeser menjadi musik hiburan, contohnya
Gendhing-gendhing sragenan bahkan lagu-lagu dangdut yang banyak digemari dikalangan anak muda dan
orang tua, dengan alasan gendhingnya rampak dan
bisa dijogeti. karawitan
sering di gunakan dalam acara
pernikahan, khitanan, bersih desa dan acara lain. perkembangan karawitan
sekarang ini mengalami kemajuan, baik kemasan
maupun garap dalam penyajiannya. Garap yang dimaksudkan adalah pengembangan
atau penambahan instrumen jaipong bahkan instrumen barat juga masuk seperti halnya simbal dan senar drum. Sehingga Masyarakat banyak
yang menikmati hiburan karawitan ini dengan cara ikut bernyanyi, berjoget dan
lain sebagainya. Hal ini seolah
menjadi gejolak atau kontra sendiri ketika pada jaman dulu karawitan merupakan
pertunjukan musik tradisional yang bersifat halus dan indah yang menyajikan
gendhing-gendhing halus yang enak untuk didengarkan akan tetapi pada jaman
sekarang tidak jarang kelompok karawitan lebih mengutamakan garap lagon-lagon
yang didangdutkan daripada menggarap gendhing-gendhing agengnya. Hal ini tidak
sepenuhnya kesalahan seniman pengrawitnya itu sendiri, akan tetapi mereka lebih
mengikuti pasar atau minat masyarakat. Memang tidak dipungkiri selera
masyarakat pada jaman dahulu dengan jaman sekarang sangat berbeda, sehingga para senimanpun terus
berputar otak membuat pembaruan-pembaruan agar kelompok karawitan mereka tetap
diminati.
Dalam
karawitan ini masih menggunakan aturan pathet, gendhing-gendhing sragenan mulai
dimainkan setelah selesai permainan pathet sanga oleh rebab, gender, dan
gambang. antusias penonton mulai terlihat
saat gending-gending sragenan mulai dimainkan dan mereka mewujudkannya
dengan tarian/jogetan. Tidak hanya
berjoget, mereka juga menyumbangkan lagu-lagu yang mereka inginkan. Saweran
diberikan kepada pesindhen atas gending yang dibawakan pesindhen dengan kemauan
penonton. Atmosfer penonton memadati depan panggung saat gending-gending
sragenan mulai rampak dimainkan, sebelum jaipong di mainkan, ada
gending-gending tayuban yang diminta oleh para orang tua, mereka menari dengan guyub saat gendhing tayuban di
mainkan. Para kaula muda pun tidak mau kalah dengan orang tua, mereka meminta
jaipong dimainkan dan digarap koplo seperti halnya
ketipung, para pejoget bilang “ayo
kendhange di ngaplakne”. Banyak dari
kawula muda yang minta lagu dangdut yang di garap dengan gamelan. Para penonton
sangat terhibur dan senang sehingga membuat suasana di atas panggung tambah
semangat memainkan gamelan.Semangat penonton seperti motivasi untuk niyaga
dalam memainkan suatu gending sragenan. perubahan ini disebut perkembangan atau
penurunan estetika, kita kembalikan terhadap diri kita
sendiri yang menilainya.
Perubahan tidak
hanya terdapat pada segi
insntrumen dan masyarakat penikmatnya saja, akan tetapi perubahan itu juga
terjadi pada seniman karawitan itu sendiri. Pada jaman dahulu musik karawitan
dianggap sebagai pengolah rasa batin seseorang dan rasa
keindahan seseorang. Orang yang biasa berkecimpung dalam dunia karawitan bisa merubah karakter seseorang menjadi halus dan
tingkah laku sopan karena semua itu dianggap jiwa seseorang menjadi sehalus
gendhing-gendhing tersebut. Akan tetapi pada jaman sekarang banyak perubahan
yang terjadi, pada jaman dahulu pada saat pertunjukan karawitan setelah menyajikan
gendhing para pengrawit melakukan
pathetan, pengrawit yang lain diam seketika
menikmati pathetan itu karena fungsi pathetan untuk mengikat rasa batin mereka,
akan tetapi pada waktu sekarang ketika pathetan berlangsung tak jarang
pengrawit yang lainnya sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang bermain
hp, ngobrol,
bercanda dengan pengrawit lainnya, ada juga yang merokok
sehingga nilai dari estetika seorang senimannya
sendiri sebenarnya sudah sangat berbeda pada waktu sekarang dibandingkan dengan
jaman dahulu.
Cara bersikap mereka memang unik
jika dicermati, sembari menabuh balungan atau saron tangan kiri sebagian mereka
ada yang tidak memithet wilahan,
akan tetapi tangan kiri mereka gunakan untuk merokok bahkan ada juga yang
bermain Hp sekedar melihat sms atau bahkan membalas
pesan sms,
tidak hanya pengrawitnya saja bahkan sering dijumpai para pesinden juga tidak
mau ketinggalan mereka ada yang mau disuruh turun panggung dan bernyanyi di
bawah dengan para penonton atau pejoget dan bahkan duet bareng penonton. Pada
dasarnya Karawitan berasal bahasa Jawa
rawit yang berarti rumit, halus dan indah dari pengertian tersebut dapat
kita ketahui bahwa kesenian Karawitan adalah karya seni yang memiliki sifat
halus, rumit dan indah, akan tetapi dalam perubahannya tidak sedikit
kelompok-kelompok karawitan yang keluar dari aturan atau pakem yang telah
disebutkan tersebut. Karena banyaknya persaingan dan mengikuti zaman yang
semakin maju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar