Selasa, 29 November 2016

Sikap penyajian karawitan





Sikap penyajian karawitan

Nama: Fajar Eko Apriyanto
Nim: 13111129
Prodi/smt: Seni Karawitan/VII


Karawitan merupakan seni musik tradisional Jawa yang telah berkembang secara turun-temurun dari nenek moyang kita sesuai dengan perkembangan jaman dan tidak meninggalkan keasliannya. Meskipun zaman semakin bertambah maju dan canggih, sampai sekarang  seni karawitan masih banyak digemari masyarakat, dari kalangan orang tua sampai kalangan anak muda bahkan anak-anak. Di samping karawitan sebagai seni budaya luhur, karawitan adalah bentuk realisasi dari seni tradisional yang mempunyai garap. namun berkembangnya jaman musik karawitan bergeser menjadi musik hiburan, contohnya Gendhing-gendhing sragenan bahkan lagu-lagu dangdut  yang banyak digemari dikalangan anak muda dan orang tua, dengan alasan gendhingnya rampak dan  bisa dijogeti. karawitan sering di gunakan  dalam acara pernikahan, khitanan, bersih desa dan acara lain. perkembangan karawitan sekarang ini mengalami kemajuan, baik kemasan maupun garap dalam penyajiannya. Garap yang dimaksudkan adalah pengembangan atau penambahan instrumen  jaipong bahkan instrumen barat juga masuk seperti halnya simbal dan senar drum. Sehingga  Masyarakat banyak yang menikmati hiburan karawitan ini dengan cara ikut bernyanyi, berjoget dan lain sebagainya. Hal ini seolah menjadi gejolak atau kontra sendiri ketika pada jaman dulu karawitan merupakan pertunjukan musik tradisional yang bersifat halus dan indah yang menyajikan gendhing-gendhing halus yang enak untuk didengarkan akan tetapi pada jaman sekarang tidak jarang kelompok karawitan lebih mengutamakan garap lagon-lagon yang didangdutkan daripada menggarap gendhing-gendhing agengnya. Hal ini tidak sepenuhnya kesalahan seniman pengrawitnya itu sendiri, akan tetapi mereka lebih mengikuti pasar atau minat masyarakat. Memang tidak dipungkiri selera masyarakat pada jaman dahulu dengan jaman sekarang  sangat berbeda, sehingga para senimanpun terus berputar otak membuat pembaruan-pembaruan agar kelompok karawitan mereka tetap diminati.
 Dalam karawitan ini masih menggunakan aturan pathet, gendhing-gendhing sragenan mulai dimainkan setelah selesai permainan pathet sanga oleh rebab, gender, dan gambang. antusias penonton mulai terlihat  saat gending-gending sragenan mulai dimainkan dan mereka mewujudkannya dengan tarian/jogetan. Tidak hanya berjoget, mereka juga menyumbangkan lagu-lagu yang mereka inginkan. Saweran diberikan kepada pesindhen atas gending yang dibawakan pesindhen dengan kemauan penonton. Atmosfer penonton memadati depan panggung saat gending-gending sragenan mulai rampak dimainkan, sebelum jaipong di mainkan, ada gending-gending tayuban yang diminta oleh para orang tua, mereka  menari dengan guyub saat gendhing tayuban di mainkan. Para kaula muda pun tidak mau kalah dengan orang tua, mereka meminta jaipong dimainkan dan digarap koplo seperti halnya ketipung, para pejoget bilang “ayo kendhange di ngaplakne”. Banyak dari kawula muda yang minta lagu dangdut yang di garap dengan gamelan. Para penonton sangat terhibur dan senang sehingga membuat suasana di atas panggung tambah semangat memainkan gamelan.Semangat penonton seperti motivasi untuk niyaga dalam memainkan suatu gending sragenan. perubahan ini disebut perkembangan atau penurunan estetika, kita kembalikan terhadap diri kita sendiri yang menilainya.
            Perubahan tidak hanya terdapat pada segi insntrumen dan masyarakat penikmatnya saja, akan tetapi perubahan itu juga terjadi pada seniman karawitan itu sendiri. Pada jaman dahulu musik karawitan dianggap sebagai pengolah rasa batin seseorang dan rasa keindahan seseorang. Orang yang biasa berkecimpung dalam dunia karawitan bisa merubah karakter seseorang menjadi halus dan tingkah laku sopan karena semua itu dianggap jiwa seseorang menjadi sehalus gendhing-gendhing tersebut. Akan tetapi pada jaman sekarang banyak perubahan yang terjadi, pada jaman dahulu pada saat pertunjukan karawitan setelah menyajikan gendhing para pengrawit  melakukan pathetan, pengrawit yang lain diam seketika menikmati pathetan itu karena fungsi pathetan untuk mengikat rasa batin mereka, akan tetapi pada waktu sekarang ketika pathetan berlangsung tak jarang pengrawit yang lainnya sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang bermain hp, ngobrol, bercanda dengan pengrawit lainnya, ada juga yang merokok sehingga nilai dari estetika seorang senimannya sendiri sebenarnya sudah sangat berbeda pada waktu sekarang dibandingkan dengan jaman dahulu.
            Cara bersikap mereka memang unik jika dicermati, sembari menabuh balungan atau saron tangan kiri sebagian mereka ada yang tidak memithet wilahan, akan tetapi tangan kiri mereka gunakan untuk merokok bahkan ada juga yang bermain Hp sekedar melihat sms atau bahkan membalas pesan sms, tidak hanya pengrawitnya saja bahkan sering dijumpai para pesinden juga tidak mau ketinggalan mereka ada yang mau disuruh turun panggung dan bernyanyi di bawah dengan para penonton atau pejoget dan bahkan duet bareng penonton. Pada dasarnya Karawitan berasal bahasa Jawa rawit yang berarti rumit, halus dan indah dari pengertian tersebut dapat kita ketahui bahwa kesenian Karawitan adalah karya seni yang memiliki sifat halus, rumit dan indah, akan tetapi dalam perubahannya tidak sedikit kelompok-kelompok karawitan yang keluar dari aturan atau pakem yang telah disebutkan tersebut. Karena banyaknya persaingan dan mengikuti zaman yang semakin maju.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar