Senin, 28 November 2016

Malam klenengan “Rebo Ponan”




Malam klenengan “Rebo Ponan

Nama   : Ludyan Marshali Nova K
Nim     : 13111114
Prodi   : Seni Karawitan


Kehidupan kesenian terkhsusnya seni karawitan di Surakarta pada dasarnya banyak sekali sebuah pertunjukan klenengan (gamelan jangkep) yang disajikan dari kalangan yang bermacam usia, dari anak-anak, remaja, pemuda, hingga lanjut usia. Dari berbagai kalangan usia tersebut tidak hanya seniman yang tampil, akan tetapi masyarakat awam juga ikut serta, meskipun kemampuan yang dimilikinya terbatas, mereka antusias untuk mengikuti. Hal ini menunjukan bahwa seni karawitan masih diminati oleh masyarakat umum yang notabennya tidak dari kalangan seniman saja.  Mereka (pelaku seni) menyajikan klenengan diberbagai tempat, sebagai contoh: klenengan selasa legi yang bertempat di Balaisoejadmoko, selasa kliwon bertempat di SMKI, dan Rebo Ponan di ISI Surakarta.    
Pada tahun 2013 saat memasuki bangku kuliah di ISI Surakarta baru mengetahui bahwasanya terdapat kegiatan yang dikhususkan untuk mahasiswa jurusan seni karawitan yakni “malam klenengan Rebo Ponan”. Setelah mengetahui kegiatan itu, awalnya hanya menjadi seorang penonton yang menghayati alunan gending-gending yang disajikan serta mencermati garap gending yang dipresentasikan, akan tetapi setelah menginjak semester berikutnya, ikut serta menjadi pelaku dalam acara malam klenengan Rebo Ponan.
Mahasiswa yang ikut serta dalam meramaikan kegiatan Malam klenengan Rebo Ponan sering kali menyajikan gending-gending yang lebih mengarah dalam gaya karawitan Surakarta. Hal ini sangat wajar dilakukan, sebab mata kuliah yang ada mengajarkan untuk lebih mengenal gending yang terdapat di Surakarta, serta mengaplikasikan bentuk materi yang didapatkan  diperkuliahan. Berbagai macam bentuk gending yang disajikan dalam kegiatan ini, dari gending yang ringan hingga gending yang berat dengan durasi yang sangat lama. Tidak menutup kemungkinan bahwa gending yang disajikan sering mengacu pada gending-gending Nartosabdan dan Mloyowidodo.
 Istilah klenengan Rebo ponan muncul sejak tahun 2005. Bambang Sosodoro yang sekarang ini menjadi dosen di ISI Surakarta, beliau lah yang pertama kali mencetuskan malam klenengan Rebo Ponan. Kemudian dilanjutkan angkatan berikutnya dan menjadi suatu  kegiatan yang sangat rutin, lebih tepatnya satu bulan sekali dilaksanakan oleh mahasiswa jurusan seni karawitan ISI Surakarta untuk keperluan klenengan secara mandiri. Sempat terpikirkan bahwa Kegiatan tersebut merupakan sebuah apresiasi yang perlu dikembangkan sebagai kegiatan rutin untuk mahasiswa, sehingga dapat menjadi sebuah pertunjukan yang menarik untuk masyarakat yang berkecimpung di dunia kesenian, terkhusunya seni karawitan. Selain itu, kegiatan ini secara tidak langsung membuat mahasiswa lebih aktif dalam membangun rasa kebersamaan antara satu dengan yang lainnya. Melalui kegiatan tersebut sebagai mahasiswa, kita dapat meuangkan kebolehan/ket’rampilannya untuk menunjukan kemampuan yang dimilikinya.
Setelah beberapa bulan mengamati dan menjadi pelaku dalam kegiatan tersebut, muncullah sebuah pertanyaan. Apakah kegiatan ini hanya khusus untuk menyajikan gending-gending gaya Surakarta? Apakah tidak diperbolehkan jika mahasiswa menyajikan gending selain karawitan gaya Surakarta? Pertanyaan ini sering kali muncul dalam pikiran dan menjadi kegelisahan. Sebab banyak mahasiswa yang datang bukan hanya dari wilayah Kota Surakarta saja, berbagai campuran daerah mereka datang untuk menimba ilmu ditempat dimana yang sudah mereka pilih. Sebagai contoh terdapat mahasiswa yang berasal dari banyumas, Jawa Timur, maupun di luar Jawa. Secara otomatis banyak gaya karawitan yang dimiliki dari masing-masing daerah, karena hal ini juga bersangkutan dengan mata kuliah yang ada. Di dalam mata kuliah tidak hanya diajarkan untuk menyajikan gending-gending gaya Surakarta, akan tetapi terdapat juga berbagai jenis gaya karawitan, yaitu; karawitan gaya Banyumas, Sunda, Bali, Jogja, Minang, Jawa Timur. Alangkah lebih baiknya mata kuliah ini dimanfaatkan untuk kagiatan malam klenengan Rebo Ponan, sehingga tidak memberi kesan yang monoton kepada penonton (penghayat) dan juga sebagai pelaku.
 Hal ini sebetulnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan malam klenengan Rebo Ponan atau malah justru mereka harus diberi kesempatan untuk  menyajikan gaya karawitan yang mereka miliki di daerahnya masing-masing. Kemudian dengan adanya hal tersebut muncul pertanyaan berikutnya, Apakah belum pernah diberi kesempatan untuk melakukan hal tersebut ataukah tidak adanya pembimbing untuk mengarahkan atau memberi saran kepada mahasiswa? Jika mahasiswa bisa terjadi demikian, dalam arti dapat melakukannya, kegiatan Rebo Ponan akan memberi kesan rasa yang berbeda di tahun-tahun sebelumnya dan bisa jadi malam klenengan Rebo Ponan dapat menjadi pertunjukan yang lebih menarik untuk dilihat, tidak hanya itu, kegiatan ini mungkin lebih menarik banyak penonton untuk terjun melihat pertunjukan ini.
      
   
           
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar