Malam
klenengan “Rebo Ponan”
Nama : Ludyan Marshali Nova K
Nim : 13111114
Prodi : Seni Karawitan
Kehidupan kesenian terkhsusnya seni karawitan di
Surakarta pada dasarnya banyak sekali sebuah pertunjukan klenengan (gamelan jangkep) yang disajikan dari kalangan yang
bermacam usia, dari anak-anak, remaja, pemuda, hingga lanjut usia. Dari
berbagai kalangan usia tersebut tidak hanya seniman yang tampil, akan tetapi
masyarakat awam juga ikut serta, meskipun kemampuan yang dimilikinya terbatas,
mereka antusias untuk mengikuti. Hal ini menunjukan bahwa seni karawitan masih
diminati oleh masyarakat umum yang notabennya tidak dari kalangan seniman saja.
Mereka (pelaku seni) menyajikan klenengan diberbagai tempat, sebagai
contoh: klenengan selasa legi yang bertempat
di Balaisoejadmoko, selasa kliwon
bertempat di SMKI, dan Rebo Ponan di
ISI Surakarta.
Pada
tahun 2013 saat memasuki bangku kuliah di ISI Surakarta baru mengetahui
bahwasanya terdapat kegiatan yang dikhususkan untuk mahasiswa jurusan seni karawitan
yakni “malam klenengan Rebo Ponan”.
Setelah mengetahui kegiatan itu, awalnya hanya menjadi seorang penonton yang menghayati alunan gending-gending yang disajikan serta mencermati garap gending yang dipresentasikan, akan tetapi
setelah menginjak semester berikutnya, ikut serta menjadi
pelaku
dalam acara malam klenengan Rebo Ponan.
Mahasiswa
yang ikut serta dalam meramaikan kegiatan Malam klenengan Rebo Ponan sering kali
menyajikan gending-gending yang lebih mengarah dalam gaya karawitan Surakarta.
Hal ini sangat wajar dilakukan, sebab mata kuliah yang
ada mengajarkan untuk lebih mengenal gending yang terdapat
di Surakarta, serta mengaplikasikan bentuk materi yang didapatkan diperkuliahan. Berbagai
macam bentuk gending yang disajikan dalam kegiatan ini, dari gending yang
ringan hingga gending yang berat dengan durasi yang sangat lama. Tidak menutup
kemungkinan bahwa gending yang disajikan sering mengacu pada gending-gending
Nartosabdan dan Mloyowidodo.
Istilah klenengan Rebo ponan muncul sejak tahun 2005.
Bambang Sosodoro yang sekarang ini menjadi dosen di ISI Surakarta, beliau lah
yang pertama kali mencetuskan malam klenengan Rebo Ponan. Kemudian dilanjutkan angkatan berikutnya dan menjadi suatu
kegiatan yang sangat rutin, lebih tepatnya
satu bulan sekali dilaksanakan oleh mahasiswa jurusan seni karawitan ISI
Surakarta untuk keperluan klenengan secara mandiri. Sempat terpikirkan bahwa
Kegiatan tersebut merupakan sebuah apresiasi yang perlu dikembangkan sebagai
kegiatan rutin untuk mahasiswa, sehingga dapat
menjadi sebuah pertunjukan yang menarik untuk masyarakat yang berkecimpung di
dunia kesenian, terkhusunya seni karawitan. Selain itu, kegiatan ini secara
tidak langsung membuat mahasiswa lebih aktif dalam membangun rasa kebersamaan antara
satu dengan yang lainnya. Melalui
kegiatan tersebut sebagai mahasiswa, kita
dapat meuangkan kebolehan/ket’rampilannya untuk menunjukan kemampuan yang
dimilikinya.
Setelah
beberapa bulan mengamati dan menjadi pelaku dalam kegiatan tersebut, muncullah
sebuah pertanyaan. Apakah kegiatan ini hanya khusus untuk menyajikan
gending-gending gaya Surakarta? Apakah tidak diperbolehkan jika mahasiswa
menyajikan gending selain karawitan gaya Surakarta? Pertanyaan ini sering kali
muncul dalam pikiran dan menjadi kegelisahan. Sebab banyak
mahasiswa yang datang bukan hanya dari wilayah Kota Surakarta saja, berbagai
campuran daerah mereka datang untuk menimba ilmu
ditempat dimana yang sudah mereka pilih. Sebagai contoh terdapat mahasiswa yang
berasal dari banyumas, Jawa Timur, maupun di luar Jawa. Secara otomatis banyak gaya karawitan yang dimiliki dari
masing-masing daerah, karena hal ini juga bersangkutan dengan mata kuliah yang
ada. Di
dalam mata kuliah tidak hanya diajarkan untuk menyajikan gending-gending
gaya Surakarta, akan tetapi terdapat juga
berbagai jenis gaya karawitan, yaitu; karawitan
gaya Banyumas, Sunda, Bali, Jogja, Minang, Jawa Timur. Alangkah lebih baiknya
mata kuliah ini dimanfaatkan untuk kagiatan malam klenengan Rebo Ponan, sehingga tidak memberi kesan yang monoton kepada
penonton (penghayat) dan juga sebagai pelaku.
Hal ini sebetulnya dapat
dimanfaatkan untuk kegiatan malam klenengan Rebo Ponan atau
malah justru mereka harus diberi kesempatan untuk menyajikan gaya karawitan yang mereka miliki
di daerahnya masing-masing. Kemudian dengan adanya hal
tersebut
muncul pertanyaan berikutnya, Apakah belum pernah diberi kesempatan
untuk melakukan hal tersebut ataukah tidak adanya pembimbing untuk mengarahkan atau memberi saran kepada mahasiswa? Jika mahasiswa
bisa terjadi demikian, dalam arti dapat melakukannya,
kegiatan Rebo Ponan akan
memberi kesan rasa yang berbeda di tahun-tahun sebelumnya dan bisa jadi malam
klenengan Rebo Ponan dapat menjadi
pertunjukan yang lebih menarik untuk dilihat, tidak hanya itu, kegiatan ini
mungkin lebih menarik banyak penonton untuk terjun melihat pertunjukan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar