TRADISI
GANTUNG GONG
Nama : Wiji Letari
NIM : 13111130
Prodi/smt : Seni Karawitan/ VII
Gamelan
atau seni karawitan juga erat dengan sesaji dan ritual. Terutama pada saat
digelarnya tradisi nggantung gong.
Tradisi tersebut hanya diselenggarakan ketika ada orang yang punya hajat (mantu/ ewuh). Dan pada saat prosesi
tradisi, tidak lepas dengan ritual-ritual dan sesaji. Proses pembuatan sesaji
pada pelaksanaan nggantung gong dilakukan
oleh sesepuh atau orang yang dituakan didesa tersebut. perlengkapan pada saat
prosesi cukup rumit, karena sesajennya harus
komplit.
Di
Kabupaten Karanganyar, tepatnya di kecamatan Jumantono sebagian masyarakat
melakukan tradisi nggantung gong.
Yaitu tradisi tersebut bukan sekedar menggantungkan gong, tetapi yang dimaksud
adalah menanggap atau mementaskan karawitan dirumahnya. Menurut bapak Parmin
selaku warga masyarakat desa Temon nggantung
gong merupakan tradisi untuk menandai orang punya kerja (mantu).
Dijaman
yang serba modern, banyak grup-grup campursari yang banyak bermunculan, hingga
akhirnya masyarakat banyak yang beralih untuk menanggap campursari yang menurut mereka lebih murah, lebih praktis. Masyarakat
Jumantono khususnya desa Podang dan Temon, ketika warganya ada yang ewuh atau mantu sering sekali menanggap
gamelan dan sangat jarang dijumpai ada yang menanggap campursari. Walaupun saat ini gencar-gencarnya grup
campursari yang sedang ramai, mereka tetap bersikukuh menanggap gamelan. Karena mereka juga beranggapan bahwa nanggap gamelan menandakan ada orang
punya kerja (mantu) dalan kalau belum nanggap
gamelan belum bisa dikatakan mantu.
Banyak
masyarakat yang berpendapat bahwa pada prosesi temu apabila menanggap karawitan, ada sisi sakral yang terdapat
pada prosesi tersebut. karena iringan yang digunakan bersifat halus dan sakral
Sedangakan jika menanggap campursari
dirasa kurang pas dengan suasananya. Dan gending-gending atau garapan langgam
maupun sragenan pada karawitan tidak
hanya orang tua yang menyukainya tetapi anak mudapun juga menyukainya. Serta
penjagaan oleh petugas keamananpun bisa di kondusifkan.
Dalam
prosesi malam hari dawali dengan dodol
dawet yang dapat diartikan pada saat mantu
banyak tamu undangan yang menghadiri pernikahan anak mereka. Dilanjutkan dengan
acara midodareni dan bubak kawah. Bubak kawah menceritakan
tentang sebelum lahir dan sesudah lahirnya anak mereka. Prosesi ini diiringi
dengan ladrang Sri Widodo pelog barang. Dilanjutkan dengan prosesi
nebus kembar mayang yang
menggambarkan sepasang calon pengantin tersebut. Dalam prosesi ini biasanya diiringi
dengan ketawang Ilir-ilir pelog nem.
Setelah
semua prosesi selesai dilanjutkan dengan klenengan
mat-matan. Biasanya gending yang disajikan mrabot maupun inggah ciblon. Setelah
waktu menujnjukan pukul 23.00 dilakukan walik
laras ke slendro sanga yang
diikuti dengan sulukan “Sang saya ndalu
araras abyor kang lintang kumedap, Tistis sunya tengah wengi lumrang gandaning
puspita, Karengwaning pudyanira, Sang Dwijawara mbrengengeng, Lir swaraning
madubranta manungsung sarining kembang” dilanjutkan ke srampat. Baru setelah itu dilakukan jineman-jineman antara lain jineman
Uler kamang dan jineman Glatik
glinding.
Setelah
melakukan walik laras ke slendro sanga, penonton maupun tamu
undangan meminta atau request langgam-langgam maupun lagu-lagu (sragenan) yang sekarang sedang tren, antara lain Gubuk Asmara, Suket Teki, Kanggo Rika, Kelangan, Nitip Kangen, dan
masih banyak lagu-lagu (sragenan)
lainnya. Lagu-lagu tersebut sering disajikan oleh campursari. Tetapi juga bisa
dilakukan oelh karawitan. Grup karawitan yang sering menyuguhkan lagu-lagu
tersebut salah satunya adalah grup karawitan Cakra Baskara.
Malam
semakin larut, lagu demi lagu disajikan dan semerbak bau minuman alcohol pun
sangat menyengat. Penonton atau pengibing
larut dalam irama sragenan maupun
dangdut koplo. Dengan adanya peristiwa tersebut, banyak grup/kelompok karawitan
bermunculan dilingkungan masyarakat antara lain Ngesti Laras, Guntur Laras,
Cakra Budaya, dan masih banyak grup-grup
karawitan lainnya. Serta dengan munculnya kelompok-kelompok baru dan
garapan-garapan yang disajikan oleh kelompok/grup karawitan dengan irama yang gayeng/sragenan, menjadikan warga maupun
masyarakat tetap menggunakan atau nanggap
gamelan pada saat mantu atau ewuh.
Setelah
acara midodareni selesai dilanjutkan dengan acara pagi yaitu temu/panggih. Diawali dengan ahad nikah
dan keluarnya sega rending yang
diiringi dengan monggangan. Baru sekitar
pukul 13.00 acara dimulai. Prosesi pertama keluarnya pengantin putri yang
diiringi dengan ketawang Sekartejo
slendro manyura. Kemudian pengambilan kembar
mayang yang disusul keluarnya pengantin kakung
yang diiringi dengan Lardrang
Wijuleng pelog barang.
Pada
saat panggih (bertemunya pengantin kakung dan pengantin putri) diiringi
dengan kodok ngorek yang dilanjutkan ketawang larasmaya pada prosesi ini
pengantin putri diharuskan membasuh kedua kaki pengantin kakung. Baru setelah itu dilanjutkan lenggah di kursi pengantin yang telah disiapkan. Setelah acara panggih dilanjutkan sungkeman yang diiringi dengan ketawang Pamuji. dilanjutkan lepas bujang yang diiringi dengan lancaran gugur gunung. Dan dilanjutkan
dengan hiburan. Semua tamu undangan menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh
sinoman. Setelah semua prosesi/acara
selesai dilanjutkan budaling tamu
undangan yang diiringi dengan ladrang
runtung pelog nem.
Penggunaan
iringan karawitan sangat berperan penting dalam suatu acara ewuh/mantu yang diselenggarakan oleh
masyarakat pedesaan khususnya dibandingkan dengan campursari maupun electone yang sekarang sedang
ramai-ramainya yang dirasa kurang cocok atau kurang pas dengan prosesi-prosesi sakral
tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar