Senin, 28 November 2016

TRADISI GANTUNG GONG




TRADISI GANTUNG GONG

Nama               : Wiji Letari
NIM                : 13111130
Prodi/smt         : Seni Karawitan/ VII


Gamelan atau seni karawitan juga erat dengan sesaji dan ritual. Terutama pada saat digelarnya tradisi nggantung gong. Tradisi tersebut hanya diselenggarakan ketika ada orang yang punya hajat (mantu/ ewuh). Dan pada saat prosesi tradisi, tidak lepas dengan ritual-ritual dan sesaji. Proses pembuatan sesaji pada pelaksanaan nggantung gong dilakukan oleh sesepuh atau orang yang dituakan didesa tersebut. perlengkapan pada saat prosesi cukup rumit, karena sesajennya harus komplit.
Di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di kecamatan Jumantono sebagian masyarakat melakukan tradisi nggantung gong. Yaitu tradisi tersebut bukan sekedar menggantungkan gong, tetapi yang dimaksud adalah menanggap atau mementaskan karawitan dirumahnya. Menurut bapak Parmin selaku warga masyarakat desa Temon nggantung gong merupakan tradisi untuk menandai orang punya kerja (mantu).
Dijaman yang serba modern, banyak grup-grup campursari yang banyak bermunculan, hingga akhirnya masyarakat banyak yang beralih untuk menanggap campursari yang menurut mereka lebih murah, lebih praktis. Masyarakat Jumantono khususnya desa Podang dan Temon, ketika warganya ada yang ewuh atau mantu sering sekali menanggap gamelan dan sangat jarang dijumpai ada yang menanggap campursari. Walaupun saat ini gencar-gencarnya grup campursari yang sedang ramai, mereka tetap bersikukuh menanggap gamelan. Karena mereka juga beranggapan bahwa nanggap gamelan menandakan ada orang punya kerja (mantu) dalan kalau belum nanggap gamelan belum bisa dikatakan mantu.
Banyak masyarakat yang berpendapat bahwa pada prosesi temu apabila menanggap karawitan, ada sisi sakral yang terdapat pada prosesi tersebut. karena iringan yang digunakan bersifat halus dan sakral Sedangakan jika menanggap campursari dirasa kurang pas dengan suasananya. Dan gending-gending atau garapan langgam maupun sragenan pada karawitan tidak hanya orang tua yang menyukainya tetapi anak mudapun juga menyukainya. Serta penjagaan oleh petugas keamananpun bisa di kondusifkan.
Dalam prosesi malam hari dawali dengan dodol dawet yang dapat diartikan pada saat mantu banyak tamu undangan yang menghadiri pernikahan anak mereka. Dilanjutkan dengan acara midodareni dan bubak kawah. Bubak kawah menceritakan tentang sebelum lahir dan sesudah lahirnya anak mereka. Prosesi ini diiringi dengan ladrang Sri Widodo pelog barang. Dilanjutkan dengan prosesi nebus kembar mayang yang menggambarkan sepasang calon pengantin tersebut. Dalam prosesi ini biasanya diiringi dengan ketawang Ilir-ilir pelog nem.
Setelah semua prosesi selesai dilanjutkan dengan klenengan mat-matan. Biasanya gending yang disajikan mrabot maupun inggah ciblon. Setelah waktu menujnjukan pukul 23.00 dilakukan walik laras ke slendro sanga yang diikuti dengan sulukan “Sang saya ndalu araras abyor kang lintang kumedap, Tistis sunya tengah wengi lumrang gandaning puspita, Karengwaning pudyanira, Sang Dwijawara mbrengengeng, Lir swaraning madubranta manungsung sarining kembang” dilanjutkan ke srampat. Baru setelah itu dilakukan jineman-jineman antara lain jineman Uler kamang dan jineman Glatik glinding.
Setelah melakukan walik laras ke slendro sanga, penonton maupun tamu undangan meminta atau request langgam-langgam maupun lagu-lagu (sragenan) yang sekarang sedang tren, antara lain Gubuk Asmara, Suket Teki, Kanggo Rika, Kelangan, Nitip Kangen, dan masih banyak lagu-lagu (sragenan) lainnya. Lagu-lagu tersebut sering disajikan oleh campursari. Tetapi juga bisa dilakukan oelh karawitan. Grup karawitan yang sering menyuguhkan lagu-lagu tersebut salah satunya adalah grup karawitan Cakra Baskara.
Malam semakin larut, lagu demi lagu disajikan dan semerbak bau minuman alcohol pun sangat menyengat. Penonton atau pengibing larut dalam irama sragenan maupun dangdut koplo. Dengan adanya peristiwa tersebut, banyak grup/kelompok karawitan bermunculan dilingkungan masyarakat antara lain Ngesti Laras, Guntur Laras, Cakra Budaya, dan masih  banyak grup-grup karawitan lainnya. Serta dengan munculnya kelompok-kelompok baru dan garapan-garapan yang disajikan oleh kelompok/grup karawitan dengan irama yang gayeng/sragenan, menjadikan warga maupun masyarakat tetap menggunakan atau nanggap gamelan pada saat mantu atau ewuh.
Setelah acara midodareni selesai dilanjutkan dengan acara pagi yaitu temu/panggih. Diawali dengan ahad nikah dan keluarnya sega rending yang diiringi dengan monggangan. Baru sekitar pukul 13.00 acara dimulai. Prosesi pertama keluarnya pengantin putri yang diiringi dengan ketawang Sekartejo slendro manyura. Kemudian pengambilan kembar mayang yang disusul keluarnya pengantin kakung yang diiringi dengan Lardrang Wijuleng pelog barang.
Pada saat panggih (bertemunya pengantin kakung dan pengantin putri) diiringi dengan kodok ngorek yang dilanjutkan ketawang larasmaya pada prosesi ini pengantin putri diharuskan membasuh kedua kaki pengantin kakung. Baru setelah itu dilanjutkan lenggah di kursi pengantin yang telah disiapkan.  Setelah acara panggih dilanjutkan sungkeman yang diiringi dengan ketawang Pamuji. dilanjutkan lepas bujang yang diiringi dengan lancaran gugur gunung. Dan dilanjutkan dengan hiburan. Semua tamu undangan menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh sinoman. Setelah semua prosesi/acara selesai dilanjutkan budaling tamu undangan yang diiringi dengan ladrang runtung pelog nem.
Penggunaan iringan karawitan sangat berperan penting dalam suatu acara ewuh/mantu yang diselenggarakan oleh masyarakat pedesaan khususnya dibandingkan dengan campursari maupun electone yang sekarang sedang ramai-ramainya yang dirasa kurang cocok atau kurang pas dengan prosesi-prosesi sakral tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar